
Aletta memasuki rumah dengan perasaan berkecamuk, hatinya sakit bercampur penyesalan.
Ia melempar tas genggamnya ke sembarang arah, rasanya ia marah pada dirinya sendiri.
Kenapa?!
Kenapa, ia bisa membiarkan Adrian menyentuhnya, sedangkan dirinya sudah di percaya oleh Revan, bahwa ia takkan berdekatan dengan lelaki itu.
"Bodoh! Kenapa sih aku bodoh banget!" ujarnya frustrasi, dengan kesal ia melempar botol facial spray ke kaca hingga menimbulkan keretakan.
"Revan..." gumamnya dengan sesal di iringi tangisan, ia bingung harus bagaimana.
Disisi lain, ini salahnya tapi di sisi lainnya lagi ucapan Revan tadi sangat amat menyakiti harga dirinya.
Tiba-tiba, Aletta memukuli dirinya sendiri, mendadak ia merasa hina, sangat hina.
"Benar kata kamu, aku gak punya malu."
"Haha, aku menjijikan tapi katanya kamu terima aku apa adanya kan? Tapi kenapa sekarang beda lagi?!!!" teriaknya sambil menatap foto pernikahan mereka yang di pajang di dinding kamar.
Aletta menangis sejadi-jadinya, menyembunyikan wajahnya di balik bantal.
Ucapan Revan terus terngiang dan menikam perasaannya berkali-kali, serta melukai harga dirinya lebih dari apa yang sudah ia rasakan selama ini.
Pikirannya melayang, tentang apa yang akan terjadi setelah ini.
Apa semuanya akan baik-baik saja?
Atau mereka akan benar-benar berpisah?
🦋
Tanpa pikir panjang, Revan mengatur perjalanan ke luar negeri malam itu juga, pria itu memutuskan untuk pergi ke Swiss, minggu depan.
Tidak ada yang tahu soal kepergiannya kecuali, Dio.
Karena, Dio di percaya untuk mengurus keperluan Revan begitu juga urusan kepergiannya.
Revan tidak akan pulang ke rumah orangtuanya, apalagi rumah yang sudah ia berikan atas nama Aletta.
Ia akan tinggal di tempat lain sementara waktu, dia memilih untuk tinggal di apartment.
"Arghhh!" teriaknya geram sembari menjambak rambutnya sendiri, bayangan istrinya sendiri berciuman dengan Adrian benar-benar bisa membuatnya gila.
Di antara mereka berdua sama-sama terpuruk dengan keadaan masing-masing.
Aletta dengan kepribadiannya itu, bahkan tidak berani menghubungi Revan.
Dan juga, Revan yang terlanjur di selimuti emosi dan rasa kecewa tidak mungkin melakukan itu.
__ADS_1
"Gue kurang apa?!" ujarnya frustrasi, perlahan pertahanannya sebagai lelaki runtuh, Revan menangis dalam diam.
"Aku mungkin salah memaksa kamu nikah sama aku, tapi apa selama kita menikah aku pernah menyakiti kamu? Aku bahkan menerima kamu apa adanya." ujarnya lirih sambil menatap wajah tersenyum Aletta di galeri ponselnya.
Terserah jika ia di bilang berlebihan, pokoknya Revan tidak akan perduli.
Sekarang yang ada di benaknya hanya, jika memang Aletta tidak mau bersamanya lagi, lebih baik ia pergi menjauh dari perempuan itu untuk membuang semua perasaannya.
Agar ia tak perlu sakit hati melihat Adrian yang terus berusaha menempel pada istrinya.
Jangan kira, selama ini Revan diam karena tidak tahu, Revan tahu setiap kali istrinya di temui oleh lelaki itu, Revan diam meski di balik sikap baik istrinya di rumah ia tahu ada bekas pelukan Adrian yang menempel di tubuhnya.
Revan selalu berpikir positif tentang Aletta, dia selalu percaya dan berusaha menekan emosinya di hadapan Aletta, meski hari itu dirinya tau banyak hal.
Adrian yang mendatangi Aletta ke kampus, Adrian yang bicara dengan Aletta di kantor, semuanya!
"Hah! Aku tahu tapi aku diam saja, dasar bodoh!" ejeknya pada dirinya sendiri.
"Demi kamu, Ale! Aku pikir kamu benar-benar sudah membenci pria itu, hah nyatanya kamu menerima sentuhannya!" ujarnya lirih dengan tatapan pasrah tanpa sinar harapan apapun.
Revan pikir, dalam hubungannya dengan Aletta ia sudah terlalu banyak mengalah, sekarang ia akan mengaku kalah dengan pergi selamanya dari wanita itu.
🦋
Esok paginya, Aletta terbangun dengan mata yang sulit terbuka, tentu karena semalaman ia menangis.
Namun, tenggorokannya tercekat, matanya mulai berkaca-kaca, kilasan kejadian semalam telah ia lupakan selama beberapa detik.
Tapi sekarang, ia ingat bagaimana semalam Revan menyakiti hatinya dengan hinaan yang di lontarkan pria itu dan bagaimana Revan pergi meninggalkannya dan meminta untuk berpisah.
Aletta seketika jatuh kembali ke tempat tidur, menghadap dimana sisi biasa lelaki itu tidur.
Ia menangis menatap sisi itu sambil mengelus bagian ranjang yang biasa di tempati Revan.
Ia bahkan menghirup sisa-sisa aroma Revan yang masih menguar disana.
"Apa selamanya aku gak akan pernah mencium aroma ini dengan dekat lagi?" gumamnya dengan suara bergetar, lantas di susul dengan isakan kecil.
"Maaf. Nyatanya ucapanku benar, aku adalah sumber rasa sakitmu saja." katanya sambil memegangi dadanya yang semakin sesak.
Hinaan suaminya memang menyakiti harga dirinya, tapi Aletta tahu kesalahannya.
Selama berumahtangga, selalu Revan yang mencintainya sepenuh hati sedangkan dirinya?!
Ia terus mengorbankan Revan karena dirinya sendiri yang belum bisa berdamai dengan masa lalu.
Belum bisa berdamai dengan masa lalu bernama Adrian, itu artinya ia masih menyimpan rasa yang besar untuk Adrian.
Namun, Aletta terus mengelak akan itu meski ia sadar, bahwa ia benci dan juga mencintai Adrian, dalam bencinya tersembunyi rasa cinta.
__ADS_1
Tapi, Revan perlahan sudah menghapus semua rasa itu di hatinya.
"Kenapa, disaat aku mulai benar-benar mencintaimu, kamu malah pergi? Aku terlambat ya, Re? Harusnya dari dulu aku cintai kamu, hargai kamu, pasti sekarang kita bahagia, gak bakal kaya gini, kalaupun ini gak bisa di cegah, seenggaknya aku punya banyak kenangan indah sama kamu. Tapi, aku cuma ingat kalau aku selalu ngecewain kamu dan kamu yang selalu perlakukan aku dengan baik." curahnya dalam kesendirian itu.
Perasaan perempuan itu benar-benar campur aduk, ada rasa sesal, rasa sakit, rasa tak di hargai tapi juga rasa bersalah yang mendominasi.
🦋
Adrian meringis setiap kali Raga, adiknya mengobati luka di ujung bibirnya.
Raga baru saja datang ke apartemen kakaknya untuk meminta uang, tapi ia malah menemukan kakaknya dengan muka bantal yang di hiasi lebam dimana-mana.
"Kok gak langsung lo obatin si, Bang?" tanyanya pada Adrian.
"Lagian lo berantem kenapa coba?" tanya bocah yang duduk di bangku akhir SMA itu.
"Bocah gak usah mau tahu, lo kesini mau minta duit kan? Jujur lo!" tebak Adrian tepat, ia tahu pasti adiknya itu kalau kesini cuma mau minta uang atau meminjam motor sportnya.
"Gue mau duit bukan tahu." jawab Raga yang langsung di tempeleng oleh sang kakak.
"Buat apaan lagi sih?! Aw! Pelan dong!" jeritnya karena Raga terlalu menekan lebamnya.
"Gue mau beli buku sejarah ind___"
"Emang lo gak di kasih sama mama, buat keperluan sekolah gitu, gak mungkin kan?!" tanya Adrian penuh selidik.
"Alasan doang kan lo?!" desaknya pada sang adik.
"Tck! Beneran! Duit jatah dari mama abis, kemarin buat naik gunung. Ntar kalau gue minta, pasti mama nanyain, 'kok uang saku kamu udah habis kan mama udah kasih sejuta buat seminggu'." ujarnya sambil menirukan suara mamanya.
"Terus karena gue anak paling baik, pasti gak bakal bisa bohong sama mama, terus ketahuan deh kalau naik gunung, ntar gue gak boleh naik gunung lagi, bagi duit kek gak usah pelit atau gue kasih tahu mama ya, semalam lo ciuman sama kak Aletta sampe di hajar sama suaminya!" cerocos bocah itu dengan ancaman yang membuat Revan melotot kaget seketika.
Adiknya tahu ternyata, tapi kenapa tadi nanya???
"Kok lo tahu sih, tapi tadi lo nanya?!"
"Tes aja." jawab Raga santai sambil menunjukkan telapak tangannya tanda meminta uang, Adrian mendengus kesal.
Terpaksa, Adrian mengambil dompetnya dan menyerahkan lima lembar seratus ribu, yang hampir di ambil Raga jika tidak ia tarik kembali.
"Bentar! Lo tau darimana?"
"Tck! Gue liat sendiri semalem, cepet ah gue mau sekolah!" ketus bocah itu sambil menyambar uang yang ada di tangan kakaknya.
"Ga! Tutup mulut lo ya, jaga rahasia!" teriak Adrian sebelum bocah SMA itu membuka pintu apartemennya untuk pergi.
"Tenang, yang penting lo gak kasih tahu mama kalau gue pergi naik gunung kemaren." jawab Raga santai lalu benar-benar keluar dari apartemen itu.
Sebenarnya kamu cuma salah paham tau Revan, tapi gapapa ini supaya Aletta bisa lebih ngehargain kamu kedepannya 😬
__ADS_1