
Revan memasuki rumahnya dengan hatinya yang dilema, dirinya senang jika cintanya berbalas tapi untuk beberapa alasan ia tidak percaya akan cinta Aletta padanya.
Revan bukan marah karena gagal mendapatkan haknya, bukan!
Revan hanya sedang bingung, tentang perasaan Aletta padanya.
Ayah dan Bundanya tidak ada.
Halah palingan juga malam mingguan, usia boleh tua tapi hubungan tetap mesra.
Revan berharap ia dan Aletta akan seperti Ayah dan Bundanya yang selalu mesra sampai di usia tua.
Tapi apa mungkin?
Aletta buru-buru menyusul Revan yang berjalan lebih dahulu, "Harusnya mulutku tadi diam." gumamnya merutuki diri sendiri.
Tapi ia juga tidak salah, mana mungkin mereka melakukan pengalaman pertama di mobil yang benar saja?!
Untuk itulah ia menghentikan Revan, tapi sepertinya pria itu salah paham.
"Re, aku - "
Baru ia mau menawarkan suaminya untuk mandi air hangat, tetapi pria itu sudah lebih dulu melenggang masuk ke kamar mandi.
Aletta membuang napasnya kasar, sungguh di abaikan Revan itu tidak enak!
Selesai dengan acara mandinya, Revan langsung keluar ia mandi dengan cepat ia tentu tak lupa istrinya juga dalam keadaan basah kuyup.
"Aletta, cepat mandi!" titahnya begitu ia keluar dari kamar mandi dan tanpa di sangka ia langsung di sambut oleh pelukan Aletta.
"Ale-"
"Diem! Dengerin aku dulu pokoknya, Re jangan marah, aku tau aku salah tapi aku gak bermaksud kaya gitu Re, ya yang benar aja masa kita lakuin itu di dalam mobil kan gak lucu kan, Re!" cerocos Aletta, sukses merubah ekspresi Revan yang tadinya datar, sekarang jadi tersenyum tipis, semakin lebar, hingga terdengar kekehan kecil.
Oh, jadi itu alasannya, benar juga dia, mana cara jelasinnya lucu lagi, batin Revan.
"Aletta... dengar-
"Kamu yang harus dengar aku! Kamu harus dengerin penjelasan aku, kamu harus ngerti kamu barusan salah paham." potong Aletta, ia benar-benar tidak memberikan kesempatan suaminya bicara, ya tentu saja, Aletta takut.
Sekarang, Aletta sungguh takut jadi istri durhaka, sepertinya.
"Oh ya?" tanya Revan iseng.
Aletta mendongak ke atas untuk dapat melihat wajah Revan tanpa melepas pelukan mereka.
"Iya! Benar!" jawabnya bernada meyakinkan, "Re, aku janji bakal jadi istri yang baik buat kamu, aku bakal berusaha jadi yang terbaik buat kamu seperti kamu berusaha jadi yang terbaik buat aku. Aku sekarang tau walaupun kamu pemalas tapi itu dulu, sekarang enggak dan kamu juga baik."
"Sudah?"
"Aku bakal lawan rasa takut aku supaya kamu bisa mendapatkan hak kamu sebagai suamiku." lirihnya di akhir kalimat.
"Sudah?"
Aletta mengangguk dengan binar harapan di matanya.
"Kamu takut apa, Aletta?" tanya Revan lembut, ia penasaran rasa takut apa yang membuat Aletta sampai selalu menolaknya dengan kasar.
__ADS_1
Ia tak masalah jika Aletta menolaknya karena belum siap, karena Revan menikahi Aletta sebab ia mencintai Aletta tulus bukan hanya untuk melakukan 'itu'.
Cuma, selalu saja Aletta mengusirnya seolah dirinya adalah lelaki brengsek.
"Kamu gak marah kan?" tanya Aletta.
"Jawab dulu, kamu takut kenapa?" ulang Revan, tentu ia sangat penasaran.
"Emm .. y-ya wajar kan aku takut aku, itu kan bakal jadi pengalaman pertamaku."
Aletta merutuki dirinya yang sudah keceplosan, Revan pasti penasaran, tapi ia belum siap menceritakan semuanya.
"Jawab! Kamu gak marah sama aku kan?" rengek Aletta dalam pelukan suaminya.
"Bagaimana aku bisa marah kalau istriku sangat menggemaskan, hm?"
Revan mengecup puncak kepala Aletta berkali-kali, lalu mencubit pipi istrinya gemas.
"Revan."
"Ya?"
"Kamu kenapa sih selalu begitu baik sama aku?"
"Karena kamu cintaku, sayangku, hidupku, tujuanku, segalanya! Jadi demi kamu,aku bahkan akan melakukan hal yang mungkin gak aku suka, contohnya masuk kantor setiap hari, rapat bersama dewan direksi yang menyebalkan dan masih banyak lagi." ujarnya sambil terkekeh pelan, menatap gadis pujaannya.
Revan menundukkan wajahnya mengusak hidungnya dengan hidung Aletta.
"Jadi kamu capek ya kerja terus masuk kantor kaya gitu demi aku?"
"Aku gak malas kerja, aku cuma malas masuk kantor bertemu orang-orang yang membuat aku emosi saja, hehe." sambungnya lagi.
Apa? Tunggu!
Dada telanjang?
"Revan kamu belum pakai baju!" teriak Aletta memperhatikan suaminya dari atas kebawah yang kini masih menggunakan handuk sebatas pinggang sampai lutut saja.
Lantas, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Pakai baju, Re!"
"Dih, padahal aku belum pakai baju gara-gara kamu yang ngebet peluk aku tadi." cibir Revan bergurau.
"Revan!" sentak Aletta.
Revan hanya tertawa kecil sambil membuka paksa kedua tangan istrinya yang menutupi matanya.
"Nggak perlu tutup mata sayang, sudah halal untuk di lihat apalagi di nikmati." goda Revan, sengaja.
"Re!" teriak Aletta bercampur rengekan.
"Iya-iya, kamu mandi cepat! Nanti masuk angin, apa mau aku mandikan? Ah, harusnya tadi kita mandi bareng aja." cerocos Revan yang membuat pipi Aletta semakin memerah.
"Nah kan, Al. Pipi kamu merah, kamu sakit?" ujar Revan pura-pura mengecek kening Aletta.
"Tapi gak panas." sambungnya lagi setelah mengecek kening Aletta.
__ADS_1
"Diem!" sentak Aletta lalu segera pergi memasuki kamar mandi sambil menghentakkan kakinya kesal, tidak lupa di iringi tawa Revan yang baru saja sukses menggoda istrinya.
Revan merebahkan tubuhnya, memandang langit-langit kamar dengan pikirannya yang melayang pada tentang apa yang Aletta takutkan.
Apa iya jika hanya karena pengalaman pertama akan segitunya?
Pikirannya tiba-tiba teringat akan ucapan Jonathan, mungkinkah Aletta memiliki trauma yang berhubungan dengan itu?
...****************...
Matahari sudah siap bersinar semakin tinggi, tapi rupanya dua insan ini masih betah bersembunyi dari terpaan sinar mentari.
Sebenarnya, Aletta sudah terbangun.
Tapi, ia masih betah memandangi wajah tampan suaminya.
Astaga, Aletta jatuh cinta sungguhan pada Revan!
Dengan jari telunjuknya ia menoel hidung mancung Revan, dengan ibu jarinya ia mengelus pipi Revan.
Sampai, akhirnya mata indah itu terbuka.
Ya, mata Revan sangat indah dengan bola mata berwarna cokelat terang, bagian yang paling membuat pria itu menawan di matanya.
"Nakal ya?"
dengan mata yang masih terkantuk-kantuk, Revan bergumam dengan suara serak khas bangun tidur, mencengkram tangan nakal Aletta yang sedari tadi terus menari di wajahnya.
"Selamat pagi, suamiku!" sambut Aletta, yang sukses membuat Revan tersenyum lebar.
Akhirnya, ia mengalami ini, pagi yang indah dengan wajah cantik Aletta dan suara indahnya pula yang menyambutnya.
Tidak!
Ini terlalu gemas, Revan tidak tahan untuk tidak mencium istrinya yang sedang tersenyum manis di hadapannya kini.
"Pagi sayangku." balasnya setelah melepaskan kecupan ringan di bibir Aletta, namun ia kembali mendaratkan bibirnya pada bibir sang istri menciumnya lembut dan hangat.
"Morning kiss, baby." ucapnya setelah melepaskan tautan bibir mereka, sambil mengusap bibir basah Aletta dengan ibu jarinya.
Aletta tidak tahan dengan suasana ini, pipinya memanas, sebelum terjadi adegan uwu lainnya, ia harus segera pergi dari sini atau pipinya akan hangus terbakar api cintanya Revan!
Ia berlari turun dari ranjang tanpa mengindahkan panggilan suaminya.
Hah!
Lebay memang tapi, sungguh Aletta malu jantungnya berdegup kencang, pipinya memanas, ini dia sungguh jatuh cinta pada Revan?
Rasanya indah, Aletta bersandar pada pintu kamar mandi sambil memegangi dadanya, dimana suara jantungnya yang berdetak tak terkendali.
"I Love you, Re." gumamnya sambil terus tersenyum sebab senyumnya tak tertahan.
Huft.
Part ini lagi mau bikin uwuwu gamau ribut-ribut.
Semoga kalian suka, jangan lupa selalu dukung author supaya author makin semangat update
__ADS_1
Yok komen mau bilang apa sama author sama Revan sama Aletta,hihii