
Aletta menjambak rambutnya kesal di dalam toilet kampus, ia akan pulang namun sebelum ia pulang ia bertemu dengan Aura.
"Gue merasa lo udah gak anggap gue sahabat lagi tau gak, Ta?!"
"Gue pikir selama ini kita sahabat baik ternyata Lo gak anggap gue gitu."
Kilas balik ucapan Aura padanya benar-benar menyakitinya, bertengkar dengan sahabat dekat selalu terasa menyakitkan apalagi ini hanya salah paham.
Waktu itu, Aletta cuma bilang kalau ia merasa sendiri, tapi ternyata Aura tersinggung sebab sebagai seorang teman yang selalu siap siaga membantu sahabatnya itu, Aura malah mendengar dari mulut Aletta bahwa Aletta merasa sendiri dan tidak memiliki teman.
"Salah aku juga sih, tapi waktu itu aku lagi emosi gara-gara Mas Bayu." gumamnya lalu memilih keluar dari toilet itu dengan wajah muram.
Nampak, di depan kampus sudah ada Kiran dengan setelan yang sangat rapih celana bahan, kemeja putih dan jas hitam yang nampak apik dan rapih di tubuh Kiran yang amat ideal.
Oh ya, Kiran itu sopir baru yang Revan tugaskan untuk mengantarkan dan menjemputnya.
Revan sangat posesif untuk tidak membiarkan istrinya berdua dengan laki-laki lain, meski itu cuma Pak Sopo, sopir yang biasa mengantar Bunda.
Padahal, Aletta mana mungkin mau tergoda sama bapak-bapak, pikiran Revan ini terlalu negatif.
Kamu sih gak bakal doyan sama Pak Sopo, tapi dia? Aku juga gak rela istriku berduaan sama cowok lain selain aku.
Kira-kira begitu ocehan Revan kemarin minggu.
Revan aneh padahal Pak Sopo kan sudah punya istri dan anak.
"Kir, kita bisa jalan-jalan dulu gak jangan langsung pulang?" tanyanya pada Kiran yang sepertinya seumuran dengannya.
"Bisa, Nona." jawab Kiran sopan.
"Nggak usah, panggil saya begitu. Nama aja kayanya kita seumuran." pinta Aletta yang justru duduk di kursi depan sebelah kemudi bukannya di belakang layaknya sopir dan majikan.
"Maaf, tapi saya gak berani." jawab Kiran.
"Kenapa?" tanya Aletta acuh.
"Nona majikan saya, istrinya Tuan Muda." sebisa mungkin gadis muda berambut panjang yang di ikat ekor kuda itu menjawab dengan sopan pada majikannya agar tidak tersinggung.
"Tapi saya nggak nyaman di panggil begitu, kamu bisa panggil nama saya ketika kita berdua gimana?" tawar Aletta ngotot dengan kemauannya, karena jujur ia merasa tidak suka di panggil se-formal itu.
"Eeh.. Jangan __"
"Saya juga majikan kamu kan kamu harus nurut." potong Aletta.
"Ehh... Mbak aja gimana biar lebih sopan." saran gadis itu.
"Memang umur kamu berapa?" tanya Aletta, soalnya ia penasaran dengan Kiran, cantik-cantik mau jadi sopir pribadinya.
"Usia saya dua puluh empat tahun."
"Hah?? Lebih tua dari aku, Kiran?" tanya Aletta kaget.
"Awalnya saya bekerja sebagai asisten sekretaris Tuan Muda." balas Kiran sambil memperhatikan jalanan ibu kota yang nampak ramai.
Kiran menyadari, keterlambatan majikannya dalam mencerna kalimatnya, "Lebih tepatnya saya itu asistennya Pak Cristian." sambung Kiran.
"Cristian?" tanya Aletta bingung.
"Iya, Pak Cristian Aldio, bisa di sebut asisten atau sekretaris Tuan Muda Revan." jelas Kiran.
"Oh maksudnya kamu, Dio? Wah, asisten juga punya asisten ternyata." ujar Aletta sambil menganga takjub, Kiran hanya mengangguk dan tersenyum sopan membalas ucapan Aletta.
"Kok kamu mau jadi sopir saya padahal pekerjaan kamu lebih bagus?" tanya Aletta dengan wajah lucunya yang kebingungan.
"Karena gaji saya lebih besar, Non__ eh mbak." Kiran menepuk mulutnya sendiri yang salah bicara.
Aletta mengangguk paham, pantas gadis cantik seperti Kiran mau-mau saja jadi sopir, wong gajinya di bayar lebih besar daripada gajinya menjadi asistennya, sekretaris Dio.
Sepanjang jalan, Aletta mengajak Kiran mengobrol terus, bertanya hal-hal yang ingin ia tahu, ternyata menyenangkan juga ya punya sopir pribadi perempuan ia jadi tidak bosan saat di perjalanan.
...****************...
"Hahhh." suara dari Aletta yang sedang menikmati mie ayam super pedasnya, tampak wajahnya penuh keringat dan bibirnya sudah merah karena kepedasan.
Tadi, setelah Revan pulang kerja gadis itu langsung membawa suaminya dan mengajak pria itu jalan-jalan.
"Pelan, Ale." tegur Revan sambil membenarkan helaian rambut yang dirasanya akan menggangu sang istri dalam kegiatan makannya.
Ia juga meraih tisu di tengah meja kayu tempat mereka makan, lalu mengelap sudut bibir sang istri yang belepotan.
"Enak, Re. Lagi pengin banget plus lapar jadi semangat deh makannya." sahutnya sambil mengibaskan tangannya karena merasa gerah, padahal mereka makan mie ayam langganan Aletta yang letaknya di bawah pohon besar di pinggiran jalan dekat alun-alun.
Revan tersenyum tulus saat melihat istrinya, Aletta memang beda dulu saat ia berpacaran dengan Tasya, mana pernah dirinya makan di pinggir jalan?
Palingan, Tasya akan mengajaknya ke mall atau ke kafe.
Melihat, istrinya yang sepertinya sudah sangat tidak tahan dengan rasa pedas makanannya ia langsung menarik mangkok milik Aletta.
"Re?!"
"Sudah, nanti kamu sakit perut." ujarnya dengan tatapan tidak mau di bantah, bagaimana ia tidak khawatir Aletta sudah menghabiskan satu mangkok dan yang sekarang ia tarik adalah mangkok kedua yang kesemuanya itu di bubuhi banyak sambal oleh Aletta.
__ADS_1
"Aku kalau lagi sedih pengin makan yang super pedes. Jadi, siniin deh makan aku!" rengeknya sebal sambil menarik paksa mangkoknya.
"Kamu? Sedih? Kenapa?" tanya Revan penasaran, Aletta menunduk lesu menatap mie ayamnya sambil memainkannya ia jadi tidak nafsu.
"Boleh aku cerita?" tanya Aletta, sebab ia merasa butuh teman untuk berbagi tentang masalahnya dengan Aura.
"Boleh lah, sayang. Kan aku sudah bilang masalahmu sama dengan masalahku! Sekarang cerita kamu kenapa sedih, hm?" tanyanya sambil mengelus lembut punggung tangan Aletta.
Huh!
Aletta kan jadi baper, gak masalah deh kan sama suami sendiri.
"Re, Aura." cicitnya sambil makan kacang telur kemasan yang sengaja ia bawa, ia suka makan pedas tapi tidak dengan menahannya, jadi ia selalu membawa camilan gurih jika berencana makan pedas supaya rasa pedasnya cepat hilang dari lidahnya.
"Ya, kenapa sama Aura yang jelas, Ale."
"Aura marah sama aku, padahal aslinya cuma salah paham, aku jadi bingung aku tuh sebenernya sayang kok sama dia, cuma karena akhir-akhir ini aku jarang hubungi dia terus ada kesalahpahaman dia marah, dia bilang aku gak anggap dia teman, aku harus gimana?" cerocosnya, sambil tetap memasukkan satu demi satu kacang telur ke dalam mulutnya dan mengunyahnya.
"Jelasin, Al. Ngomong baik-baik sama Aura, kalau kamu merasa salah ya minta maaf juga." saran Revan, lalu meminum es teh miliknya.
"Aku takut, jujur aku takut sama orang yang marah sama aku ,makannya kalau kamu marah sama aku, aku bingung gimana nanyain kamu, gimana ngehadapin kamu."
"Kalau ke aku sih, kamu cukup__" Revan menunjuk bibirnya, "Aku pasti luluh kok." sambung pria itu.
"Ish, mesum!" ceplosnya, sambil mendorong pelan bahu tegap suaminya.
"Sama istri sendiri ini." goda Revan, tangannya menjawil gemas hidung Aletta.
"Aku tahu, istri aku baik jadi kamu pasti bisa selesaikan masalah kamu sama Aura. Aura pasti juga sayang sama kamu, makannya dia marah pas kamu buat dia merasa gak di anggap." jelas Revan membuat Aletta tertegun sejenak, suaminya mengatakan hal-hal yang membuat hatinya tenang.
Revan tahu sejarah pertemanan Aletta dan Aura yang memang sangat dekat hampir seperti saudara.
Namun, entah kesalahpahaman apa yang membuat mereka berselisih.
"Ya, kayanya salah aku juga sih waktu itu aku ngomel-ngomel tanpa mikir sampai kata-kata aku buat Aura sakit hati." gumam Aletta, ia menghampiri Revan yang tadinya duduk di depannya, lalu ia duduk di sebelah Revan sambil menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
Revan senang dengan keterbukaan istrinya padanya, Revan merasa jadi suami yang dibutuhkan.
"Memang kamu bilang apa?" tanyanya mengelus lembut tangan Aletta sembari menggenggamnya.
"Sebenarnya aku cuma bilang, aku sedih aku merasa sendirian, aku merasa nggak punya siapa-siapa, nggak ada yang bisa ngertiin aku, tapi aku gak tau ,itu buat dia kesinggung."
"Aku udah minta maaf sama dia, tapi dia gak balas chat aku." sambung Aletta.
Revan menarik napas sejenak lalu membuangnya perlahan, ia menyingkirkan Aletta dari bahunya dan merubah posisi gadis itu agar mengahadapnya.
"Ale, jelas Aura tersinggung aku juga bakalan tersinggung kalau kamu bilang kaya gitu, secara Aura itu kan selalu berusaha ada buat kamu kaya aku yang selalu berusaha ada buat kamu."
"Iya aku tau, tapi waktu itu aku emosi, gara-gara __" hampir saja ia keceplosan ia mengulum bibirnya yang hampir bilang soal Bayu.
"Makasih ya, kamu selalu ada buat aku." ungkap Aletta sekaligus, mengalihkan pembicaraan.
"Jangan pernah merasa sendiri, ada aku kamu bisa ceritakan semuanya,aku juga bakal bantu masalah kamu, minta maaf sama Aura. Kamu kira aku nggak tau dia yang selalu nemenin kamu dari dulu."
"Iya, Re. Aku bakal berusaha minta maaf lagi ke Aura."
"Jangan sedih lagi, pulang yuk!"
...****************...
Revan baru selesai bersih-bersih setelah pulang dari jalan-jalan bersama Aletta tadi.
Ia tertegun melihat Aletta yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya di atas ranjang.
Hanya saja, bukan Aletta yang duduk dan bermain ponselnya yang membuat Revan tertegun.
Melainkan penampilan Aletta yang dirinya tidak bisa berjanji untuk tidak tergoda karenanya.
Gadis itu hanya mengenakan camisole warna putih polos yang memperlihatkan paha mulusnya bahkan leher, tulang selangka dan lengan Aletta yang dapat ia lihat dengan jelas.
Di tambah posisi Aletta yang menyamping, membuat lekukan tubuh istrinya itu terlihat sangat jelas.
Kini, Revan merasa bagian tubuhnya bereaksi dan liurnya yang sulit tertelan.
Revan pria normal apalagi yang ia lihat sekarang adalah istrinya sendiri, wajar kan jika ia langsung bereaksi seperti itu?
"Re, udah selesai mandinya?" tanya Aletta yang menyadari keberadaan Revan yang kini hanya berdiri dengan rambut basahnya, namun ia sudah rapih dengan kaus hitamnya dan celana pendeknya.
Aletta menghampiri Revan yang malah diam saja di tempat.
"Di tanyain kok cuma diam?" Aletta berkacak pinggang di hadapan suaminya yang sumpah, tampannya bertambah berkali-kali lipat saat rambut lelaki itu basah.
Revan sangat seksi, ehe.
"Ganteng banget suami aku." pujinya sambil mengelus rahang tegas suaminya.
Revan hanya bisa memejamkan matanya sejenak lalu membukanya lagi, menenangkan dirinya agar tidak terhasut oleh hasrat lelakinya.
Apalagi sekarang, Aletta benar-benar menempel di tubuhnya.
Ya! Aletta memeluknya dan gilanya lagi, Aletta malah memainkan jemarinya di dada bidang milik Revan.
__ADS_1
Astaga, godaan apa ini?!
"Kok diam aja sih!" ketus Aletta saat menyadari bahwa Revan tidak menjawabnya sama sekali sejak tadi.
"Revan aku ngomong sama kamu, suamiku sayang." ucap Aletta lagi yang membuat pria itu termenung.
Hah?!
Tadi, istrinya bilang apa?
"S-su..suamiku sayang?" ulang Revan.
"Huum." angguk Aletta dengan tanpa rasa berdosanya perempuan itu malah melompat naik meminta di gendong oleh suaminya.
Tidak ingin istrinya terjatuh, tangannya menahan pinggang Aletta sedangkan Aletta mengalungkan kakinya di pinggang Revan.
Lagi-lagi, Revan memejamkan matanya sementara menahan gejolak dalam dirinya.
Apalagi sekarang dirinya bisa merasakan deru napas Aletta yang menerpa permukaan kulit lehernya yang amat sensitif!
Revan berjalan mendekati ranjang mereka, "Ale, turun. Kita tidur." ajak Revan sambil menurunkan tubuh Aletta di ranjang.
Revan menjauhkan dirinya dari Aletta setelah berhasil menaruh tubuh sang istri di tempat tidur, tapi Aletta menahan lehernya mengalungkan tangan pada lehernya sehingga ia tidak bisa beranjak dari posisinya yang baru selesai membaringkan Aletta.
"Mau kemana?" tanya Aletta dengan wajah kecewa.
"Kamu tidur ya, aku mau lihat email dari Dio sebentar, tadi dia bilang__
"Kamu mau ninggalin aku?" potong Aletta menatapnya nanar.
"Sebentar."
"Kamu nolak aku?" tanya Aletta yang membuat Revan seperti orang bodoh.
Ya, soalnya dirinya tidak mengerti maksud dari pertanyaan Aletta.
Ternyata otak jeniusnya tidak selalu berguna!
"Maksud kamu?" tanya Revan bingung.
"Ish! Kenapa sih kamu nggak peka?!" ketus Aletta wajah gadis itu sudah cemberut dan membuat Revan jadi tak enak.
"Bilang yang jelas sayang, tapi aku__"
Ucapan Revan terpotong, karena sekarang bibirnya sudah di bungkam oleh istrinya sendiri dan tentu di bungkam menggunakan bibir juga.
Revan tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut, ia jelas menyambut sapaan bibir dari istri yang sangat ia cintai dan ia damba.
Sampai, Aletta sendiri yang melepasnya.
"Re, aku mau kamu boleh?" tanya Aletta dengan wajah polosnya yang nampak lucu di mata Revan.
"Kamu barusan bilang apa?"
"Ah! Udah ah gak jadi, kamu budek!" rengek Aletta melepaskan tangannya dari leher Revan, ia malu kalau mengulanginya lagi, sudah ia tadi menggoda Revan tapi Revan biasa saja, terus ia sudah mencium suaminya duluan bahkan mengatakan bahwa dia ingin pria itu.
Tapi suaminya malah tidak dengar atau pura-pura tidak dengar?!
Suaminya ini pintar tapi kok pendengarannya kurang!
"Lho? Kok marah aku cuma nanya." kilah Revan.
"Aku malu tahu gak, udah dari tadi godain kamu, kamunya gak peka, malu Re! Padahal aku cuma mau menyempurnakan peran aku sebagai istri buat kamu." ocehnya tanpa mau menatap wajah suaminya yang sedang berjongkok di pinggiran ranjang dengan dirinya yang berbaring membelakangi Revan.
"Jadi kamu mau aku ya?" goda Revan sambil memeluk Aletta dari belakang.
"Tck!" Aletta berdecak karena masih malu dan kesal.
"I want you too, my lovely." ucap Revan berbisik tepat di telinga Aletta, suara serak dan berat yang berbisik milik Revan sukses membuat darahnya berdesir, jantungnya berdegup kencang dan tubuhnya menegang saat merasakan perlahan-lahan Revan merubah posisinya agar menghadap pria itu.
Aletta semakin kehilangan akal sehatnya saat jemari Revan menyentuh setiap permukaan kulitnya.
"Kamu harum sayang." puji Revan setelah ia berhasil melabuhkan bibirnya di bahu sang istri.
"Can I ?" tanya Revan yang di balas anggukan oleh Aletta, pandangan Aletta bahkan sudah berkabut karena sesuatu yang timbul akibat interaksinya dengan Revan.
Aletta melawan semuanya, rasa takutnya demi menjadi istri yang sempurna untuk Revan yang juga, selalu berusaha menjadi suami yang sempurna untuknya.
Dan akhirnya, Revan mendapatkan apa yang seharusnya menjadi haknya sejak awal.
Sekarang, aku memilikimu seutuhnya, aku mendapatkan kesempurnaan yang aku damba - Revan Agra.
Wihh part terpanjang nih selama aku nulis My Lazy Rich Man.
Makin kesini gimana menurut kalian, lanjut atau nggak nih
Komen dong
Terima vote
Eh?!
__ADS_1
Terimakasih maksudnya.
Lopyu readers❤️❤️❤️❤️🤍🤍🤍🤍🤍