
Aletta sudah menunggu Revan di ruangannya tapi suaminya itu tak kunjung datang, ia lelah menunggu apa pertemuannya sangat penting sampai lelaki itu melewatkan makan siangnya?
Revan mendesah lega, akhirnya pertemuannya dengan kakaknya si kampret Gara, sudah beres sepertinya Celine, kakaknya Gara sengaja membuat pertemuan mereka menjadi lama, Revan jadi agak kesal.
Tapi perasaan kesal itu sirna saat melihat istrinya yang sedang duduk manis di ruangannya, "Nungguin ya?" tanyanya langsung merangkul sang istri.
Aletta memutar bola matanya malas, sudah tahu di tunggu masih bertanya dasar Revan!
Untung suaminya sendiri.
"Lama banget udah lewat jam makan siang kan?" tanyanya melirik jam dinding di ruangan itu.
"Ya gimana namanya kerja, kan kamu yang suruh aku rajin masuk kantor." sindir Revan.
"Hmm... iya-iya, oh ya aku bawain makan siang." ujarnya sambil menyiapkan makan siang di atas piring.
Revan merasa tersentuh, ia merasakan ketulusan Aletta entah ini di suruh Bunda atau tidak namun ia melihat ketulusan dari tatapan mata istrinya saat mengucapkan itu.
"Ini makan." Aletta menyodorkan sepiring makan siang pada suaminya.
"Suapin sayang..."
"Manja!" sentak Aletta namun tetap bergerak untuk menyuapi suaminya, sesekali berbuat manis tidak masalah kan?
"Enak, sudah cantik, jago masak, gak salah pilih istri." puji Revan setelah menelan siapa pertamanya, namun menerima cubitan kecil di pinggangnya.
"Hei, sakit sayang." keluhnya.
"Sayang sayang gombal banget!" aslinya Aletta malu-malu kucing, namun berakting jadi harimau, haha.
"Tapi sayang, galak." komentar Revan, yang membuatnya jadi pura-pura kesal.
"Makan sendiri deh kalau usil gitu." ancam Aletta.
"Hei.. kok ngambek? Kamu sudah makan?" ditanyai Revan, Aletta cuma menggeleng dengan wajah kesalnya, padahal tadi ia cuma pura-pura tapi melihat Revan seperti itu ia jadi ingin pura-pura marah terus.
"Yuk makan juga! Aku suapin juga nih, aaa buka mulutnya." sekarang giliran Revan yang menyuapi Aletta, perempuan itu sempat menahan senyumnya sampai benar-benar tersenyum manis, ia juga perempuan biasa yang akan luluh jika di perlakukan manis oleh suaminya.
Makan siang romantis bersama Revan, ternyata mampu membuat dirinya terbawa perasaan.
__ADS_1
Ternyata lelah juga gengsi, kalau terang-terangan membalas perbuatan manis suaminya lebih menyenangkan.
Mereka makan siang sambil sesekali bercanda.
Tapi tak berselang lama, momen manis mereka terjeda oleh dering ponsel Aletta.
"Ya, Mas?" ternyata Bayu kakaknya yang menelpon, ia mendengar dengan seksama dengan wajah tegangnya dengan Revan yang memperhatikan setiap perubahan raut wajah cantik sang istri yang membuatnya penasaran.
Revan menaikan satu alisnya sambil berbisik, "Ada apa?" tapi Aletta mengangkat satu telunjuknya agar suaminya diam dulu.
"Kenapa?" ulang Revan saat Aletta selesai dan mematikan sambungan telepon.
Dilihat dari ekspresinya sepertinya bukan kabar yang menyenangkan.
Aletta bingung, mau bilang apa pada suaminya, jika ia menyembunyikan apakah itu akan melukai harga diri lelaki itu lagi ?
Tapi jika ia memberitahu suaminya,ia merasa tidak enak sebab itu adalah masalah keluarganya!
"Nggak papa, tadi Mas Bayu cuma bilang ayah sakitnya kambuh lagi." ucapnya memaksa senyuman.
"Oh.. kalau gitu kita kesana sekarang!" ajak Revan sigap, ia bukan hanya bertanggungjawab pada Aletta tapi ia ingin ikut berpartisipasi juga dalam masalah keluarga istrinya.
"Itu bisa nanti, sekarang aku temani kamu dulu boleh?" tekan Revan memaksa.
Namun, "Tuan, sebentar lagi rapat di mulai." Dio, asistennya melapor.
"Tuh kan, udah kerja dulu. Lagian bukan masalah besar kok, aku cuma jenguk sebentar." Aletta mencoba memberikan pengertian dan akhirnya ia bersyukur karena Revan mau mengerti.
"Yaudah, aku rapat dulu, hati-hati di jalan, oh ya sekarang aku kan udah keliatan rajin kan? Jadi kamu gak perlu ragu pakai uang dari aku."
"Emm iya." jawab Aletta, lalu Revan segera pergi menuju ruang rapat setelah memberikan kecupan perpisahan di keningnya.
Aletta tersenyum tipis sambil menyentuh keningnya yang baru mendapatkan kecupan penuh kasih dari suaminya, seperti seakan-akan menambah semangat dalam dirinya.
...****************...
Sampai di rumah keluarganya, ia segera menemui Bayu.
"Nih, balikin minggu depan!" ketusnya sambil memberikan amplop berisi uang.
__ADS_1
"Yaelah, pelit amat sih, lo kan udah jadi istri orang kaya masa pelit sama gue." jawab Bayu remeh.
"Mas! Inget ya, Mas udah di kasih kerjaan sama Revan jadi tolonglah jangan buat masalah kaya gini lagi, ngapain sih hutang?!"
"Ya buat kebutuhan, lah Ta!" sahut Bayu tak mau kalah, "Ayah itu juga butuh obat, butuh di periksa juga sesekali."
"Memang yang Revan kasih gak cukup, Mas kerja juga kan ada gaji, Mas Danu juga udah punya usaha sendiri." ujarnya emosi bahkan sekarang kepalanya terasa berdenyut karena saking emosinya, ia menggunakan uang pribadinya yang sekarang sudah habis untuk di kirimkan pada Bayu dengan alasan kebutuhan keluarga.
"Aletta! Mas lo itu semuanya juga punya keinginan, kita pengin nabung,pengin nikah! Apa uang yang kita dapet cuma buat urusin ayah?"
"Jadi mas gak ikhlas urusin ayah?!"
"Mulut lo ya Aletta jangan sembarangan!" tunjuk Bayu pada sang adik, kata-kata yang baru saja keluar dari mulut adiknya menyulut emosinya.
Plak!
"Punya adik ngelunjak!" tukasnya setelah menampar pipi Aletta, Aletta hanya bisa menahan air matanya ia tak mau terlihat lemah di depan Bayu.
"Bayu! Kamu apa-apaan nampar adik kamu kaya gitu hah?!" teriak sang ayah, walaupun sang ayah kadang suka memarahi dirinya tapi ia tidak bisa menghilang-hilangkan, bahwa ayahnya juga sayang padanya.
"Sudah, besok kamu gak usah kesini lagi, gak usah turutin kata Bayu, ayah udah cukup kok bisa makan, bisa minum, cukup." ujar ayahnya yang membuat hatinya jadi tak enak.
Inilah yang membuatnya selalu merasa tak pantas bersanding dengan Revan.
Ia dan keluarganya penuh dengan masalah, yang hanya akan jadi beban.
Sedangkan, Revan keluarganya sangat harmonis, berbanding terbalik dengannya.
"Gak papa, aku tetep bakal rutin kasih ayah uang bulanan kalau emang Mas Bayu gak ikhlas urusin ayah pakai uangnya sendiri!" ketus Aletta menyindir sang kakak, bahkan ia melirik tajam kakaknya itu.
Bayu hanya melengos dan pergi begitu saja dari sana tanpa perduli apapun lagi.
Maaf, Revan.
Suatu saat aku dan keluargaku cuma akan jadi bebanmu saja, batin Aletta.
Itulah yang membuatnya berambisi jadi wanita sukses, ia mau mengurus sang ayah tanla mau pasangannya kelak terbebani oleh keluarganya, tapi Revan dengan naifnya pria itu menawarkan diri untuk bergabung bersamanya dalam beban ini.
Haii aku update !!!
__ADS_1