My Lazy, Rich Man

My Lazy, Rich Man
MLRM : Ya, Sayang!


__ADS_3

"Al, kamu beneran cinta sama aku?" tanya Revan yang hampir membuat Aletta jengah, bagaimana tidak? Sudah ada mungkin lima kali pria itu menanyakan hal yang sama.


"Kamu nanya sekali lagi aku batalin perasaan aku ke kamu ya?" ancam Aletta yang sebenarnya cuma gurauan saja.


"Memang bisa?" tanya Revan dengan nada menantang.


"Bisa nih mumpung belum terlanjur bucin." kata Aletta yang membuat Revan berhenti mendayung.


"Makanya jangan nanya mulu." lanjut Aletta terkekeh geli melihat ekspresi suaminya yang langsung terdiam dengan sangat lucu.


"Aku merasa ini seperti mimpi." ujar Revan tanpa ekspresi memandang wajah Aletta yang kini ikut terdiam setelah tadi tertawa kecil karena perubahan ekspresi suaminya.


"Kenapa?" tanya Aletta penasaran.


"Kamu sangat menolak aku tadinya. Kamu bukan mencintai aku karena kasihan kan?" tanya Revan serius, tiba-tiba pertanyaan itu hinggap di pikirannya.


"Kamu apaan sih, Re. Nggak lah!" elak Aletta.


"Serius?"


"Iya!"


"Yakin?"


"Iya suamiku sayang.." jawab Aletta gemas, sambil mencubit pelan pipi pria itu.


"Kamu bilang apa tadi?"


"Apa?"


"Tadi kamu bilang apa?" tanya Revan gemas.


"Iya?"


"Bukan itu tadi ada lagi." dorong Revan agar Aletta-nya mengulangi ucapannya yang belum pernah ia dengar dari istrinya itu.


Aletta nampak berpikir, apa sih yang di maksud Revan?!


"Suamiku sayang?" tebak Aletta ragu-ragu.


"Ya, sayang..." balas Revan, lalu tertawa penuh kemenangan.


"Ngerjain aku ya?" Aletta memukul lengan Revan yang tertutup kemeja hitamnya.


"Nggak!" elak Revan, "Aku cuma mau denger itu sekali lagi dari kamu, biar aku gak ngira ini mimpi." sambung Revan kali ini dengan nada lembut juga dengan tangan yang menyentuh lembut surai indah istrinya.


...****************...


Aletta dan Revan sedang sibuk berfoto, Aletta terus ribut ingin banyak berfoto karena tempat yang mereka datangi sekarang sangat indah baginya.


"Ayo sekali lagi!" pinta Aletta, sedangkan Revan sudah malas-malasan, jujur Revan tidak terlalu suka mengambil foto.


Tapi, demi Aletta dan karena bersama Aletta, ya sudahlah dia mau.


"Senyum, Re..." rengek Aletta karena suaminya itu hanya menunjukkan wajah datarnya saja.

__ADS_1


Dengan terpaksa, Revan tersenyum demi Aletta cuma demi Aletta!


Setelah puas berfoto bersama, Aletta mengambil foto Revan diam-diam.


"Lebih ganteng diam-diam kaya gini." gumamnya sambil senyum-senyum.


"Udah? Yuk pulang kayanya mau hujan." ajak Revan, ia sudah memperhatikan cuaca sejak tadi yang mulai mendung.


"Yahh, masih betah disini." keluhnya, Revan merasa tak enak, sebenarnya ia suka melihat Aletta menjadi tertawa bebas dan tampak bahagia di tempat ini, namun cuaca tidak mendukung.


Sampai hujan benar-benar turun dengan deras.


"Al, ayo berteduh!" Revan menarik tangan Aletta untuk berteduh di sebuah gubuk yang berada dekat dengan danau.


Baru saja mereka masuk gubuk, Aletta justru kembali keluar dengan berlari kecil.


"Aletta! Nanti kamu sakit." panggil Revan khawatir, namun Aletta tidak memperdulikan itu dan malah sibuk bermain air hujan.


Mau tak mau, Revan memperhatikan kebahagiaan kecil yang hujan berikan untuk Aletta.


Bibirnya tak mampu menahan senyum kala melihat wanita yang dicintainya tersenyum cerah di tengah hujan.


"Re! Ayo ikut aku!" ujar Aletta, menarik tangan Revan untuk bergabung dengannya, membawa kedua tangan kekar itu untuk berputar dan menari bersamanya di bawah guyuran air hujan.


Bahagia.


Satu kata yang menggambarkan perasaan Revan hari ini.


...****************...


"Tapi seru kan?" Aletta balas bertanya, "Kata ibu aku, aku lahir waktu hujan, jadi namaku Raina terus sekarang aku suka banget hujan!" ungkapnya, dengan ceria ia menceritakan itu pada Revan padahal giginya juga gemeletuk karena kedinginan.


Revan hanya tersenyum mendengar cerita Aletta sambil mengambil jaketnya yang di taruh di kursi belakang, "Pakai ya, biar gak terlalu kedinginan."


"Peluk boleh?" tanya Aletta dengan wajah polosnya.


"Apa? Kamu bilang apa?"


Aletta menghela napasnya kasar.


"Tau ah, punya suami budek." dumelnya sambil mengeratkan jaket Revan di tubuhnya.


Revan terkekeh pelan melihat Aletta dengan segala gengsinya, istrinya itu tidak pernah mau mengulang permintaannya, gemas, Revan langsung membawa Aletta dalam pelukannya.


"Lucu banget sih kamu." ujarnya lalu mengecup bibir Aletta singkat.


"Budek banget sih kamu." balas Aletta sambil terkekeh geli, tapi tangannya membalas pelukan Revan, merangkul leher suaminya.


"Dingin banget, kamu gak dingin?" tanya Aletta pada suaminya.


"Nggak, kan aku udah peluk kamu. Enak, hangat,nyaman."


"Hilih, gombal!" seru Aletta.


"Boleh lagi gak?" tanya Revan setengah berbisik masih dengan posisi mereka yang berpelukan.

__ADS_1


"Apa yang lagi?" tanya Aletta heran, Revan menjauhkan dirinya dari Aletta lalu menunjuk bibirnya sendiri.


"Apa sih, Re? Gak jelas deh!" goda Aletta, sebenarnya dirinya tau apa maksud suaminya itu.


"Masa gak ngerti sih, Al?"


"Nggak!" jawab Aletta cuek, Revan hanya menghela napasnya pasrah.


"Iya-iya,boleh." sambung Aletta karena tidak tega melihat ekspresi Revan yang terlihat kasihan, tidak membuang kesempatan Revan langsung meraih leher belakang Aletta dan membawanya mendekat hingga bibir mereka bersatu, satu tangan Aletta memeluk leher Revan dan satunya lagi mencengkram kerah kemeja Revan yang telah basah.


Ciuman hangat itu menyingkirkan hawa dingin yang sejak tadi mereka rasakan akibat bermain hujan.


Entah sejak kapan, Aletta sangat suka ini.


Sentuhan lembut dari bibir suaminya, ia merasa seperti terlindungi dan dicintai.


Sungguh!


Ciuman hangat itu berubah menjadi semakin panas, Revan mulai terpancing dan terburu-buru, ciumannya turun ke leher hingga ke bahu mulus istrinya.


"Revan..." sebut Aletta dengan suara serak yang nyaris terdengar seperti mendesah, yang semakin membuat Revan tidak bisa mengendalikan dirinya.


"Hhh... Re berhenti dulu, kita lagi di mobil."


Tapi, Revan tidak perduli ia terus menyentuh setiap inci kulit Aletta-nya.


Aletta merasakan suhu tubuhnya mulai memanas akibat sentuhan Revan, ia mencengkram rambut Revan yang tengah sibuk di lehernya.


"Re! Jangan." sentak Aletta dengan suara serak, ia mendorong Revan menjauh, Revan memandang Aletta dengan tatapan sayu yang tak dapat di artikan di tambah rambutnya yang berantakan.


Apa ini? Apa Aletta menolaknya lagi?


Lagi?!


Aku pikir karena dia sudah mencintaiku jadi aku....


Merasakan hawa yang tidak enak, Aletta mencoba bicara agar Revan tak salah paham.


Apalagi ekspresi lelaki itu sekarang jadi dingin, Revan langsung menjauhkan diri dari Aletta dan mulai menyalakan mesin kendaraan.


"Revan aku-


"Sebaiknya kita pulang dulu, kamu pasti kedinginan." tukasnya memotong ucapan Aletta, matanya fokus menatap jalanan di depannya.


Entahlah, pikirannya tidak bisa berpikir jernih.


Ia pikir karena Aletta sudah mencintainya jadi perempuan itu takkan menolaknya lagi.


Apa kamu yakin kamu sudah menerimaku dan mencintaiku, Al?


Lanjutt ??



Komen dong di bawah

__ADS_1


Ini Revan Agra Bagaskara alias Revan Bucin.


__ADS_2