My Lazy, Rich Man

My Lazy, Rich Man
MLRM : Who is him?


__ADS_3

Matahari menyeruak masuk melalui celah tirai jendela menganggu Revan yang masih terlelap, Aletta tersenyum cerah melihat suami tampannya yang masih betah tertidur.


Rasanya, hatinya itu begitu bebas dan bahagia akhirnya ia bisa melepaskan ketakutan yang selalu membuat suaminya kecewa, sekarang ia sudah menjadikan dirinya istri yang sempurna untuk Revan.


Aletta berjalan perlahan menuju ranjang sambil mengeringkan rambut panjangnya dengan handuk kecil, tapi sebuah ide jahil menghentikan kegiatannya.


Aletta duduk di pinggir ranjang tepatnya di sebelah suaminya yang tertidur, dengan senyum jahilnya, ia sengaja mengibaskan rambut basahnya hingga percikan airnya mengenai wajah Revan.


Aletta terkikik pelan saat mata indah itu mulai mengerjap.


Revan mulai mendapatkan kesadarannya saat mendengar tawa kecil istrinya juga percikan air yang mengganggunya di tambah aroma harum yang memikat indra penciumannya.


Semakin nampak jelas mata cokelat terang itu semakin keras tawa Aletta.


"Selamat pagi!" sapanya ceria, walaupun dirinya baru saja melakukan itu untuk kali pertamanya, ia tidak malas-malasan di tempat tidur sampai siang hanya karena badannya yang sakit-sakit.


Ingatlah, Revan harus ke kantor dan dirinya akan ada kelas jam sembilan nanti.


"Bangun, Tuan Muda sudah siang." ujarnya sebelum tertawa lepas lagi.


Beranjak pergi dari situ, namun ia malah terjatuh di atas Revan karena tarikan pria itu.


"Hei!" reflek ia menahan mulut Revan dengan telapak tangannya saat ia membaca gerak-gerik mencurigakan dari suaminya.


"Why? just morning kiss." ujar Revan dengan suara seraknya khas bangun tidur.


Aletta menggelengkan kepalanya dengan tatapan jahilnya juga jari telunjuknya yang bergerak ke kanan ke kiri.


Kemudian, ia berlari menjauh.


Revan hanya bisa tersenyum memperhatikan tingkah Aletta.


...****************...


"Sini!" katanya lalu mengambil alih pekerjaan Revan yang sedang memasang dasinya.


Seperti biasa, berada dalam jarak sedekat ini dengan pria itu selalu membuat jantungnya berdebar abnormal.


"Selesai!" seru Aletta sambil menepuk pundak sang suami, dengan Revan yang langsung mengecup kening Aletta lembut.


"Masih pengin berduaan sama kamu." kaya Revan sambil memeluk istrinya dan menaruh kepalanya di bahu Aletta.


Aletta terkekeh pelan karena itu, "Sekarang kerja dulu lah." sahutnya, lalu mengajak Revan untuk sarapan, menggandeng lelaki itu mesra menuju meja makan yang langsung mendapatkan pandangan menggoda dari Bunda dan Ayahnya Revan.


Tumben sekali mereka melihat pemandangan seperti ini di pagi hari.


"Siniin!" kata Revan sambil memindahkan irisan jeroan ayam yang jadi campuran masakan pagi ini.


Soalnya, Aletta itu tidak suka jeroan ayam tapi ia terpaksa makan karena ya di campur oleh balado kentang kesukaannya.

__ADS_1


"Ekhem! Perhatian banget sih." sindir Bunda Rena.


"Ada yang beda nih!" celetuk Ayah ikut-ikutan, kedua orangtua itu melihat perbedaan yang amat kentara dari raut wajah anak-anak mereka, nampak sangat bahagia sepertinya di tambah pipi Aletta yang bersemu dan tak hentinya menyunggingkan senyum.


Kini, Aletta yang sudah tidak bisa di sebut gadis lagi itu cuma menunduk malu karena kedua mertuanya.


"Apa sih, Bunda sama Ayah iseng banget." sahut Revan yang mengerti kejahilan mereka.


Rena hanya tertawa kecil sambil menyenggol lengan suaminya, Rena adalah wanita berpengalaman dimana ia langsung paham saat melihat cara jalan menantunya yang agak berbeda.


Ia tahu bahwa rumah tangga putranya sudah sempurna.


Meskipun, Aletta berusaha normal tapi tetap saja Rena bisa menebaknya.


"Bentar lagi punya cucu kita, Bun!" seru Ayah tanpa berpikir.


"Hush! Ayah pura-pura gak tahu aja dong harusnya!" bisik Rena pada suaminya yang malah ember itu.


"Dah makan-makan!" sela Rena.


Aletta mencium punggung tangan suaminya sebelum pria itu berangkat kerja, kali ini berbeda karena ia melakukan dengan ikhlas dan tulus, bersamaan dengan itu Revan mengecup puncak kepala Aletta dengan kasih.


"Semangat kerjanya suami!"


"Yahh jadi nggak semangat." sahut Revan lesu, padahal sejak tadi Dio sudah sebal menunggu Revan lama sekali cuma berpamitan sama istri juga lama sekali.


"Lho? Kok gitu sih kan udah aku semangatin."


"Jangan semangatin aku lagi deh." katanya sambil memainkan rambut istrinya.


"Kenapa?" tanya Aletta kecewa, kenapa suaminya tidak suka jika ia berikan semangat?


"Ya habisnya, bukannya jadi semangat kerja aku jadi malas ninggalin kamu buat kerja, terlalu sayang buat di tinggal." kata Revan gemas lalu mencubit pipi Aletta, menciumnya dan sedikit menggigit.


"Akh! Kok gigit sih, dah sana kerja cari uang yang banyak!" usir wanita itu yang terlanjur kesal, sedangkan Revan hanya tertawa sambil menjauhi istrinya.


Akhirnya, berakhir sudah penantianku, batin si jomblo Cristian Aldio.


Aletta melambaikan tangan pada Aura yang sekarang sudah berbaikan dengannya, mereka memutuskan pergi bersama saat kelas mereka selesai.


Sekalian mengerjakan tugas bersama meski mereka beda jurusan.


"Ta, tahu gak?" celetuk Aura setelah mengehentikan jemarinya yang sejak tadi sudah menari di keyboard laptopnya.


"Nggak." balas Aletta cuek, karena ia masih fokus pada laptopnya dan sesekali menyeruput kopi yang mereka beli.


Soalnya mereka memang mengerjakan tugas di kafe.


"Ish! Lo gak asik!"

__ADS_1


"Iya-iya apa, Au?" tanya Aletta mengalihkan pandangannya dari benda kotak yang ada di depannya.


"Kemarin gue ketemu 'dia'." beritahu Aura sambil menekankan kata dia, karena gadis itu tahu bahwa Aletta, sahabatnya takkan mau mendengar nama yang membuat dirinya kesal.


"Stop! Jangan bahas!" Aletta mengangkat satu tangannya sebagai tanda bahwa ia mau Aura berhenti membahasnya.


"Tapi, Aletta___" Aura mau melanjutkan ucapannya tapi Aletta malah menutup kedua telinganya dengan tangannya dan menggelengkan kepala dengan matanya yang terpejam erat, sungguh ia tak mau mendengar apapun tentang orang itu!


"Iya-iya, nggak gue bahas, tapi seenggaknya lo sudah harus bisa berdamai dengan diri sendiri dan masa lalu lo." kata gadis itu sambil menurunkan kedua tangan Aletta yang menutupi telinga.


"Supaya lo nggak terus hidup dalam bayang-bayang gelap itu, supaya Lo bisa bahagia sama suami lo tanpa rasa khawatir." Aura mengelus bahu perempuan itu, ia jadi menyesal membahas hal itu tapi menurutnya Aletta harus tahu.


Aletta harus berdamai dengan masa lalu dan melupakan itu sepenuhnya supaya dirinya tidak di bayangi ketakutan.


"Gue bisa kok, Au. Sekarang, gue udah bisa bahagia, karena rasa cinta Revan ke gue menyingkirkan semua ketakutan yang gue punya." lirih Aletta tapi masih bisa di dengar Aura.


Karena, Aura tidak budek seperti suaminya, ehe...


"Serius?! Itu bagus, gue ikut senang gak salah gue percayain saudari gue ke Revan!" seru gadis itu bahagia, merangkul lengan Aletta.


Aura yang paling tau semua masalah Aletta, Aura yang selalu mendengarkan kali pertama untuk segala hal yang menimpa sahabatnya.


Ia senang sahabatnya itu menemukan sebuah kebahagiaan dari suaminya.


Sekarang ia sadar, bahwa sekarang bukan dirinya lagi yang akan jadi kali pertamanya Aletta.


Tapi, Revan.


Karena cowok itu adalah suami Aletta dan laki-laki yang sangat mencintai sahabatnya.


"Gue jadi tenang sekarang, sahabat gue udah punya sandaran dan rumah yang lebih kuat dan kokoh."


Aletta langsung memeluk Aura, dalam hatinya ia membenarkan hal itu, ia memiliki Revan yang luar biasa.


"Makasih ya, Aura sayanggg. Lo udah selalu ada buat gue, gue minta maaf kalau gue pernah salah ngomong sampai bikin lo sakit hati."


"Jelas lah gue sakit hati, anggap gue apa lo selama ini bisa-bisanya bilang kaya waktu itu." omel Aura menjentikkan jemarinya ke kening Aletta.


**Hmmm....


Kira-kira apa ya masa lalunya Aletta?


Penasaran gak sih kalian?


Siapa orang yang di maksud sama Aura ya?


Apa kalian penasaran??


Kalau iya boleh komen di bawahhh eheee**

__ADS_1


__ADS_2