
"Ale!"
"Hmm."
"Aku mencintaimu!" seru Revan, sampai Aletta bosan mendengarnya, dari lelakinya itu bangun tidur sampai sekarang mengekori dirinya memasak, terus saja mengatakan kalimat itu, Mbak Sari, tukang bersih-bersih rumah mereka itu saja sampai senyum-senyum melihat tingkah bucin suaminya.
Hadeh!
Dasar, Revan bucin!
"Ale!"
"Ssttt!"
"Ale sayang...."
"Diem!" ketus Aletta sambil menghentakkan satu kakinya, sedangkan tangannya sibuk menggoreng ayam.
"Dari tadi juga, aku diem nih lihat! Aku cuma diem duduk disini." jawab pria itu sok polos.
"Diem kepalamu! Dari tadi mulutmu itu lho!" jawabnya kesal, karena jujur saja ia malu dengan Mbak Sari.
"Heh! Gak sopan sama suami." tegur Revan, namun ekspresinya tetap senyam-senyum.
Dasar Revan, bucin!
"Ya abisnya kamu, malu sama mbak!"
"Gak papa, maklum kok saya, kan masih muda pengantin baru lagi." sahut Mbak Sari yang sekarang sedang mencuci peralatan masak yang habis dipakai Aletta.
Adeh!
Aletta jadi malu.
"Pengantin baru apanya mbak, udah nikah lama kok." elaknya.
"Baru dong, kan belum ada setahun yakan mbak?" celetuk Revan dengan nada bergurau, Mbak Sari hanya mengangguk sambil senyam-senyum.
"Dah lah, makan-makan." sela Aletta sambil menaruh hasil masakannya di meja makan, tempat Revan duduk dari tadi sembari meledeknya.
"Makasih istri cantikku."
"Revan!" dengus Aletta geram sendiri, kalau gak ada Mbak Sari sih, gak masalah.
Hari ini, Aletta berangkat pagi-pagi yang membuat Revan memutuskan untuk mengantarkannya.
Yah, Kiran jadi tidak berguna pagi ini, padahal gadis itu sudah siap di depan rumah dengan mobilnya.
Mendengus kasar karena penantiannya sia-sia, di tambah mendapatkan telepon dari Dio, Kiran langsung melesat dengan mobilnya menuju kantor.
Atau dia akan jengah mendengar omelan dari Dio.
Lagian, dirinya kan sudah pindah profesi utama jadi sopirnya Nona Aletta.
Tetap saja....untung ada gaji tambahannya.
"Kalau bukan atasan sudah aku cakar muka dinginnya itu!" gumamnya sambil menyalakan komputernya.
"Siapa yang mau kau cakar, hah?"
"Cristian Aldio yang mau saya cakar!" gerutunya sambil memperagakan tangannya yang seakan mau mencakar orang.
"Oh berani dengan saya?!" gertak orang itu, yang membuat Kiran langsung mendongak melihat siapa yang menyahutinya tadi.
Astaga!
Kiran bodoh!
Bisa-bisanya ia mengomel sampai tidak sadar siapa itu.
"Hah! Ng-nggak, mana berani saya ehe." jawabnya gagap, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Duh maap, Pak! Jangan hukum saya." mohonnya, sebab wajah Dio sudah tidak ramah. Ya, walaupun wajah pria itu memang tak pernah ramah sih.
"Jangan banyak omong, ikut aku sekarang!" titah pria itu, meski dengan perasaan yang takut, Kiran tetap mengekori Dio sampai ke ruangan wakil presdir.
"Mundur! Balik badanmu!" titah pria itu tiba-tiba yang membuat Kiran bingung apalagi sekarang pria itu juga ikut membelakangi pintu ruangan Revan.
__ADS_1
"Apa? Kenapa?" Kiran penasaran dan sedikit mengintip, memang apa yang membuatnya harus balik badan ?
"Banyak tanya!" kesal, Dio mendorong tubuhnya dan membalikkannya, "Jaga matamu itu!"
Hah?
Apa maksudnya?
Bosnya ini tidak jelas!
"Pergi sana!" usir Dio, Kiran hanya memutar bola matanya malas, "Dasar bos aneh!" gerutunya sambil berjalan menjauh.
"Aku dengar!" seru Dio yang menjauh Kiran langsung berlari.
Kenapa telinga bosnya begitu tajam dan lagi, suka tiba-tiba ada dimana-mana, seperti hantu!
Dio mengusap wajahnya kasar, sudah asistennya menjengkelkan, ditambah Revan!
Bosnya itu tidak tahu tempat!
Kalau mau bermesraan dengan istrinya di rumah sajalah!
Atau, minimal bisa tutup pintunya!
Arghhh!
Bisa-bisanya, bosnya bermesraan di kantor bersama istrinya!
Dio malu sendiri melihat itu!
"Ada Dio!" celetuk Aletta panik dan langsung berdiri dari pangkuan suaminya, ia melihat bayangan orang yang nampak akan mengetuk pintu dari ekor matanya.
"Mana?" tanya Revan santai.
"Ih! Kamu sih! Kalau dia lihat gimana kan malu!"
"Kok jadi marah-marah sama aku sih?"
"Ya iyalah, emang mau marah sama siapa?Sama Dio?!"
"Iyalah, dilarang marah sama suami."
"Aku juga mencintaimu,Ale sayang!" balas Revan masih dengan wajah santainya,ingat ya Revan manusia paling santai bukan malas.
Ingat!
"Gak jelas!"
"Jelas banget!" balas Revan sambil berjalan untuk menutup pintu ruangannya, lalu bersandar disana dengan gaya sok kerennya.
"Apaan coba." gerutu Aletta.
"Jelas mencintaimu!"
seru Revan sambil memeluk Aletta dari samping.
"Besok aku gak mau ke kantor kamu lagi deh!"
"Kenapa?" tanya Revan dengan ekspresi wajah lucu karena alis tebalnya yang saling bertautan dan bibirnya yang agak manyun.
"Kayanya aku ganggu kerjaan kamu deh, Dio pasti tadi ada urusan penting deh terus minggat gara-gara aku!" dumel perempuan itu.
"Bukan gara-gara kamu kok sayang." sahut Revan dengan santainya manaruh dagunya di bahu istrinya.
"Iya aslinya kan gara-gara kamu!" tukas Aletta sambil berdecak sebal.
"Ya gimana, aku kangen jadi kalau liat kamu bawaannya gak tahan mau peyukkk!" jawab Revan manja, hadeh kenapa suaminya jadi manja parah begini coba, alay lagi.
"Alay!" dengus Aletta.
...****************...
"Yan, perlu lo muncul di kehidupan dia lagi?!" tukas gadis itu tajam, matanya takkan pernah memandang biasa pada lelaki yang ada di hadapannya.
"Gue gak sengaja." sahut pria itu santai.
Tapi memang benar, Adrian tidak sengaja bertemu dengan Aletta dan dia senang akan itu.
__ADS_1
Adrian tersenyum miring, membayangkan wajah Aletta yang sangat cantik itu, bagaimana mungkin ia akan melupakan perempuan itu yang selalu bersemayam di hati dan pikirannya.
Bella?
Tck! Hanya pelampiasan!
"Gue harap, lo ngilang lagi dari hidup dia!"
"Kalau gue gak mau?!"
"Lo harus!"
"Bukan urusan lo, Flo!" tunjuk Adrian pada perempuan itu dengan geram.
Ia sudah cukup menghilang dari Aletta karena pendidikannya di luar negeri, sekarang ia merindukan gadisnya, gadisnya yang sudah menjadi istri orang.
****!
Adrian benci itu!
Aletta adalah impiannya selalu!
Bayangan gadis itu selalu menghantuinya.
Bahkan, Bella?
Ia memacarinya karena Bella cukup terlihat seperti Aletta-nya.
Pertemuannya dengan Bella di Milan, membuatnya merasa seperti ada di dekat Aletta-nya.
"Gue bakal bawa Aletta buat jadi milik gue lagi!" ucapnya penuh tekad.
"Adrian lo!" bentak Flora dengan amarah di matanya yang membara.
"Gue gak takut sama ancaman apapun dan juga gak masalah kalau sekarang dia istri orang, ada banyak cara untuk ngerebut dia untuk jatuh ke pelukan gue lagi."
"Sinting lo! Gak cukup kah semua pengalaman buruk yang udah lo kasih ke dia sampai dia takut buat di sentuh suaminya!"
Adrian menghentikan kegiatannya yang sedang menyesap rokoknya setelah mendengar kata-kata, tetangganya.
Ya! Flora tetangganya.
Duh!
Flora keceplosan, Adrian pasti akan kesenangan mendengar itu.
Flora belum tahu kabar terbaru dari rumah tangga sahabatnya, ia belum tahu saja jika Aletta sudah jadi milik Revan seutuhnya.
Benar saja, Adrian tersenyum tipis, namun perlahan semakin lebar pula senyuman itu hingga terdengar sebuah tawa.
"Bagus! Aletta harus jadi milik gue lagi! Udah gue bilang, cuma gue yang bisa dapetin dia seutuhnya!" katanya dengan percaya diri, lalu meminum segelas wishky yang ada di genggamannya.
Remang cahaya lampu di klub, tidak menutupi dirinya dari sorot ketidaksukaan Flora dan tidak pula membuat Flora buta untuk melihat sinar harapan dari mata Adrian.
"Inget! Ada Bella!" tukasnya, berharap pria itu sadar bahwa dirinya telah memiliki seorang kekasih, namun tidak!
Adrian dan obsesinya pada Aletta adalah sesuatu yang akan selalu menyatu.
"Siapa peduli?" kekeh Adrian meremehkan, Flora mendengus kesal lalu pergi dari hadapan pria itu.
Ada sedikit rasa sakit di sudut hatinya.
Ya, sedikit!
Rasa persahabatannya pada Aletta harusnya jauh lebih besar daripada rasa cintanya pada Adrian yang tak pernah berbalas dan sudah ia simpan bertahun-tahun.
Hayoo??
Penasaran???
Vote dulu yokkk
YANG PENASARAN BOLEH KOMEN DI BAWAH YAA...
LOPYUUU READERS SETIAKUUUU
LOPE SE-KEBON, SE-KABUPATEN, SE-PROVINSI BUAT KALIAN.
__ADS_1
JANGAN BOSEN YA SAMA CERITA GAJEKUUðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ¥²ðŸ’œðŸ’œðŸ’œðŸ’œðŸ’œðŸ’œðŸ’œ**