
Hari ini Aletta ada kelas, dirinya tidak bisa mengantarkan makan siang untuk suaminya, tapi dia membawakan suaminya bekal dari rumah, hah sekarang dia benar-benar berperan jadi seorang istri yang bertanggung jawab pada tugasnya.
Sepulang dari kampus, ia mampir ke tempat bibinya, ia ingin rindu rasa ayam goreng lengkuas dari kedai Bibinya.
Aletta pulang saat hari mulai sore, ia memutuskan beristirahat di rumah tak ada siapapun kecuali pelayan, ia bangkit karena merasa lapar, "Kangen banget sama rasa ayamnya bibi." gumamnya sambil mencium aroma ayam goreng lengkuas yang sudah ia pindahkan ke piring.
Ayam goreng lengkuas dan sambal bawang super pedas dengan nasi hangat adalah favoritnya!
Aletta merasa kekenyangan,tapi ia malah merebahkan dirinya, andai bibinya tau ia pasti akan di omeli sebab, tidur habis makan itu tidak baik!
Tak terasa ia tertidur karena kelelahan juga kekenyangan.
Saat terbangun, langit sudah gelap ia bangkit menutup tirai jendela kamar.
Melihat jam dinding, "Jam delapan?! Apa Revan belum pulang?" gumamnya, kemudian bergegas membersihkan dirinya, ia turun ke bawah setelahnya.
"Raina sudah bangun? Makan malam dulu gih!" titah Bunda yang tengah bersantai sambil menonton televisi di ruang keluarga.
"Capek ya sampai ketiduran lama." sambung Bunda ia jadi tak enak dan hanya meringis tak enak menanggapi bundanya.
"Emm, nanti deh makannya. Revan belum pulang ya, Bunda?" tanyanya kemudian.
"Ada banyak kepentingan sepertinya, Ayah juga tadi balik lagi ke kantor." jawab Bunda selalu dengan senyuman manisnya yang nampak tulus, itu yang membuat Aletta sangat kagum dengan sifat penyayang Bunda Rena.
Aletta hanya mengangguk mengerti.
...****************...
"Widih, Si Kampret ada apalagi nih?" sambut Gara, saat tiba-tiba Revan nongol begitu saja dan langsung nyelonong dengan muka lelah, dasi mengendur dan dua kancing kemeja yang terbuka, entah kemana jas nya.
"Ribet banget kerja di kantor, sialan!" umpatnya lalu melempar Gara dengan kulit kacang yang baru saja ia ambil isinya.
"Heh! Inget demi anak bini!" peringat Dimas, yang ikut nimbrung meski tangannya masih tetap sibuk dengan stik PlayStation yang sedang ia mainkan bersama Jonathan yang tetap fokus.
"Anjir, hampir keduluan!" umpat Dimas, saat melihat akibatnya jika dirinya meleng sedikit saja dari gamenya.
Padahal cuma ngomong tiga kata, nengok paling lima detik ke arah Revan, Jo memang tidak bisa di remehkan.
"Kali ini apalagi?" tanya Dimas mencoba mengerti sahabatnya meski fokusnya tetap pada gamenya.
"Palingan gak dapet jatah." seloroh Gara.
"Diem lo!" timpal Revan, mengacak rambutnya kesal, ini sudah pukul sembilan malam tapi ia sedang malas pulang ke rumah, malas bertemu ayahnya gara-gara perdebatan mereka di kantor tadi.
__ADS_1
Sudah banyak pekerjaan, perbedaan pendapat di ruang rapat membuatnya sakit kepala.
Mungkin, bersama Aletta akan tenang tapi ia sedang tidak ingin berharap banyak soal gadis itu.
Belum tentu Aletta mau mendengarkan keluhannya dengan seksama.
"Lo, Van. Jarang nongkrong dateng-dateng curhat. Emang ye calon bapak-bapak emang beda, ribet!" cemooh Gara, lalu terkekeh geli melihat wajah kusut sahabatnya.
"Heh! Lo juga bakal jadi bapak-bapak kampret! Seenggaknya gue berguna gak kaya lo yang kuliah aja belom beres!" balas Revan balik mencemooh Gara.
"Cih! Balik sono bangsat, di tungguin istri lo noh, huss!" usir Gara, tak terima di katai Revan, iya dia tahu bestie nya itu memang jenius dari orok.
"Harusnya lo yang di usir kutu, berisik banget ganggu konsentrasi gue maen aja!" kali ini Jonathan ikut menimpali.
Kesal dengan ucapan Jo, Gara mengacaukan permainan Jo dan Dimas dengan mencabut kabel hingga tv yang mereka gunakan bermain PlayStation mati.
"Gara Anj*!" umpat Jo dan Dimas bersamaan,
"Kabur, ada titan ngamuk!" merasa tak aman, Gara langsung melarikan diri masih dengan meledek teman-temannya yang sekarang sedang melemparinya dengan botol bekas minuman kemasan dan bantal namun tak mengenainya.
"Dasar, Gara! Sukanya ya buat gara-gara!" umpat Revan, matanya menyipit melihat keributan para sahabatnya.
Suara tawa Gara yang masih menggema meski cowok itu sudah menjauh, terasa panas di telinga mereka.
"Ngapain lo, Van? Pulang sono di tungguin bini lo tuh pasti!" usir Jonathan yang sekarang sedang kesal karena acara bermain gamenya di kacaukan oleh Gara yang kabur dan tidak bertanggungjawab.
"Lo ngusir gue!" sentak Revan tak terima.
"Au ah, gelap!" Dimas jengah dengan perkelahian teman-temannya dari tadi, ia dengan gontai menghidupkan kembali televisi, lalu memilih channel asal, lebih baik ia nonton sinetron ikan terbang saja daripada ikut ribut bersama teman-temannya yang prik!
...****************...
Waktu menunjukkan hampir pukul sebelas malam, mana mulai hujan lagi, ayah mertuanya sudah pulang tapi kenapa suaminya belum?
Aletta terus melihat ke arah pagar besi yang berdiri kokoh di depan sana, melalui balkon kamarnya, berharap ia segera menangkap suara mesin mobil pria itu.
Aletta sudah mencoba menghubungi suaminya melalui telepon tapi tidak di jawab!
Ada apa ini?! Aletta khawatir??
Tapi ini wajar kan? Revan kan suaminya dan dia adalah istri pria itu!
Mondar-mandir gelisah suaminya tak kunjung pulang, padahal ia masih memiliki tugas kuliah yang belum selesai ia kerjakan karena cemas duluan.
__ADS_1
Matanya langsung berbinar kala melihat Civic Turbo putih milik Revan memasuki halaman rumah, ia langsung berlari keluar kamar, menuruni tangga hingga sampai pada pintu bercat putih itu, buru-buru ia membukanya, menyambut suaminya, ia cemas karena belum pernah Revan pulang selarut ini selama pernikahan mereka.
"Re!" panggilnya saat sosok tampan itu berdiri di depannya, ia menampilkan senyuman paling tulus karena senyuman ini muncul tanpa di rencanakan.
"Belum tidur,hm?" tanya Revan, tangannya mengelus pipi sang istri, namun ekspresi Revan bukan ekspresi Revan yang biasanya, sedikit datar nada bicaranya dan kusut sekali ekspresi wajahnya, rambutnya tidak rapih, pakaiannya apalagi.
Aletta menggeleng, Revan tersenyum tipis, kemudian berlalu dari sana di ikuti Aletta yang kini mengikuti suaminya yang berlalu menuju kamar mereka.
"Kenapa belum tidur?" tanya Revan sambil benar-benar melepaskan dasinya yang sudah terpasang tak jelas sejak tadi, suara Revan lembut namun terdengar datar dan itu membuat Aletta merasa aneh.
"Nunggu kamu." sahutnya, hati-hati karena ia tidak tahu seperti apa suasana hati suaminya sekarang, ia takut salah jika seandainya terlalu banyak bicara.
"Oh iya, aku lupa nanya. Keadaan ayah gimana?" tanya pria itu saat Aletta menaruh jasnya ke keranjang pakaian kotor yang ada di pojok kamar mereka.
"Baik kok, gak ada yang serius." sahut Aletta, kemudian hanya hening.
Revan merebahkan tubuhnya di atas ranjang mereka, "Kamu gak mau mandi?" tanya Aletta.
"Aku lelah, sangat. Ini terlalu malam untuk mandi, aku ingin langsung istirahat rasanya." curah Revan tentang dirinya pada istrinya, bagaimanapun sebenarnya ia ingin berbagi rasa lelahnya namun ia takut jika Aletta akan merendahkan dirinya.
Dirinya sedang malas tertikam oleh lidah tajam istrinya.
Aletta mungkin akan berkata, 'Itu karena kamu yang dari awal malas jadi sekarang kaget dapat kerjaan banyak dan blabalabla.'
Revan sudah menebak apa yang akan di katakan oleh istrinya yang perfeksionis itu.
"Setidaknya, cuci muka dan aku siapkan pakaian buat kamu ganti." saran Aletta, Revan perlahan bangkit dan menuruti mau Aletta, ia sedang malas banyak bicara jadi ia menurut saja.
Aletta tahu, dia merasakan, bahwa Revan memahaminya, tapi dirinya? Ia merasa bahwa ia tak bisa memahami Revan.
Sungguh sebenarnya, ini tidak adil untuk suaminya.
Jika, Revan saja berusaha untuk memenuhi tugasnya sebagai suami kenapa Aletta tidak? Benar kan?
Ia ingin mencobanya, untuk bisa memahami Revan sehingga pria itu takkan merasa sendiri disaat seperti sekarang.
Aletta tak bodoh, dari gelagatnya Revan pasti memiliki masalah juga bukan hanya lelah belaka.
Namun, tetap Aletta tidak tahu cara menghadapi pria itu karena dirinya belum memahami suaminya.
Aku janji, mulai sekarang aku akan berusaha untukmu. - Raina Alettara.
Masih ada gak sih yang nungguin ???
__ADS_1