My Lazy, Rich Man

My Lazy, Rich Man
MLRM : Tara!


__ADS_3

Selesai kelas, Aletta memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar kampus, dimana di luar sana banyak penjual jajanan.


Ia berjalan santai sambil menikmati es boba rasa matcha di tangannya, memesan somay telur kesukaannya, sambil menunggu Kiran datang.


Tapi sayangnya, sampai pesanannya jadi, Kiran belum juga datang, ia memilih berdiri di dekat pohon agar tidak kepanasan.


Ngomong-ngomong, ia pulang lebih awal dan baru mengabari Kiran.


Jadi, ia harus menunggu sampai gadis itu datang menjemputnya.


"Tara!"


Tubuhnya menegang, detak jantungnya berdegup tidak normal, hanya satu orang yang memanggilnya begitu.


Adrian!


Perlahan-lahan, tubuhnya berputar untuk mengetahui benar Adrian atau bukan yang memanggilnya.


Dalam hatinya, ia berharap bukan Adrian, tapi cuma Adrian yang memanggilnya dengan khusus seperti itu!


Dan benar saja!


"A-adrian?"


Pria itu tersenyum lebar, hatinya semakin bahagia karena bisa menemukan pujaan hatinya, perempuan yang selalu jadi penghuni tetap di hati dan pikirannya.


"Hatiku tahu, kemana dia harus membawaku pergi." ujar pria itu dengan tatapan misterius, ia mendekati Aletta, seiring dengan itu Aletta berjalan mundur menghindari Adrian,


"Haha,tentu pada sang pemiliknya, Tara-ku sayang, pemilik hatiku." tukas Adrian dengan menekankan kata 'Tara-ku'


matanya menatap Aletta dengan kekaguman, mata tajam pria itu selalu memendarkan cahaya kekaguman pada seorang yang ia sebut gadisnya, miliknya, Tara-nya!


"Pergi!" usir Aletta, ia bahkan sudah berkeringat dingin melihat sosok yang paling ia benci.


"Why, baby?" tanya Adrian seduktif, tangannya bergerak menyentuh helai rambut Aletta, lalu mencium aromanya.


Sungguh!


Adrian sangat merindukan aroma gadisnya.


"Selalu harum, sama seperti dulu."


Sedangkan, Aletta hanya memalingkan wajahnya, matanya terpejam dengan ketakutan.


Ia tidak mau melihat wajah pria yang sudah merenggut kehormatannya secara paksa.


Tidak!


Aletta benci!


Dengan mengumpulkan keberaniannya, Aletta mendorong Adrian kuat-kuat, sampai lelaki itu hampir saja tersungkur.


"Hey! Kenapa? Kamu marah?" pertanyaan yang sangat santai di ajukan oleh Adrian, semakin membuat emosi di dada perempuan itu membuncah.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Adrian lagi dengan santainya mendekati Aletta, "Aku merindukan kamu, sayang."


"Ada apa ini? Apa yang anda lakukan pada Nona saya?!" sentak Kiran, dirinya datang dengan napas terengah-engah, melihat raut ketakutan majikannya dari kejauhan, membuat dirinya khawatir.


"Hanya pertemuan setelah sekian lama, benar bukan?" sahut Adrian menuju pada Aletta yang malah menatapnya tajam.


"Kiran, ayo pulang!" ajaknya, langsung menarik Kiran pergi.


Kiran hanya menurut, meskipun ia penasaran apa yang terjadi di antara mereka


...****************...

__ADS_1


Pertemuannya dengan Adrian benar-benar membangkitkan ketakutannya lagi.


Ia kembali berpikir pada malam pertamanya dengan Revan.


"Apa dia nggak sadar?" gumamnya, hatinya gelisah, matanya memandang bayang tubuhnya di cermin.


Revan, tidak mempertanyakan apapun padanya, apa pria itu sadar atau tidak bahwa Aletta sudah tidak perawan?


Kesal, ia melempar facial spray yang ada di meja rias ke arah kaca.


"Arghh!" teriaknya.


"Aku jijik!"


Aletta mencengkram rambutnya dan menjambak dirinya sendiri, ia merasa jijik pada dirinya sendiri.


Apa yang akan Revan pikirkan tentang dirinya?


Jika suaminya itu sadar, betapa malunya dia!


Dan ya, kalau pria itu menyadarinya, betapa baiknya Revan karena hanya diam saja, bukannya menghakiminya.


Hati Aletta terasa teriris memikirkan hal itu, ia merasa tak pantas!


"Kenapa kamu mencintai perempuan menjijikan seperti aku, Revan!"


Aletta menangis tersedu-sedu, sendirian di dalam kamarnya, Revan yang belum pulang membuatnya semakin leluasa untuk menyalurkan amarahnya.


Ia memperhatikan kekacauan yang telah ia buat, harus bagaimana ia menjelaskan pada Revan atas kekacauan ini?


Namun, Revan pulang melihat semuanya bersih tidak ada bekas kekacauan, tapi kaca yang pecah tidak bisa ia sembunyikan dengan cepat dan tepat.


Hari demi hari berlalu, setelah kekacauan yang ia lihat di kamarnya bersama Aletta.


Pertanyaan yang tak pernah Aletta jawab, apa yang terjadi di malam itu sebelum dirinya kembali ke rumah?


Istrinya itu, jadi lebih pendiam dan tutur katanya jadi lemah lembut, seperti sekarang.


"Aku masakin nasi goreng." ujar Aletta lembut sambil menyodorkan sepiring nasi goreng ke hadapannya.


"Terimakasih, sayangku!" ucap Revan, ia meraih tangan Aletta dan mengecup punggung tangannya, tapi istrinya itu buru-buru menarik tangannya, Revan mendongak dengan tatapan yang seolah bertanya, 'kenapa' tapi


Aletta hanya tersenyum tipis, istrinya itu selalu menanggapi seperlunya saja.


Dan satu lagi, Aletta selalu menghindari dirinya.


Aletta benar-benar melakukan apa yang di katakannya, tidak lagi datang ke kantor.


Selain itu, Aletta benar-benar menghindari dirinya,meski di rumah.


Baru saja, baru saja rumah tangganya membaik, dengan cintanya yang sudah bersambut tapi kenapa istrinya berubah jadi aneh?!


"Sayang!"


Revan memeluk Aletta-nya dari belakang, itu cukup mengejutkan Aletta yang tengah termenung di balkon, memandangi langit malam dengan terpaan angin yang dingin.


Reflek, Aletta bergerak menciptakan jarak untuknya dan Revan.


"Ah, kamu ngapain?"


"Peluk kamu, aku rindu." ungkapnya, karena benar adanya, ia rindu, rindu ocehan istrinya, rindu senyumannya, rindu kritikannya, marahnya, semuanya!


Ini sudah hampir seminggu!


Sikap istrinya sekarang bahkan lebih parah dari waktu mereka baru menikah.

__ADS_1


"Ohh, tapi aku mau masuk, anginnya dingin bikin ngantuk, aku mau tidur." kemudian tanpa menunggu jawaban apapun dari suaminya, Aletta melenggang begitu saja dan bersembunyi di balik selimut.


Semuanya benar-benar berubah!


Sikap manis Aletta, senyumnya, tawanya, omelannya, hilang.


Sekarang, cuma ada Aletta yang pendiam dengan senyum lirihnya yang lembut, tatapannya yang tak lagi berbinar.


Tidak ada gairah dimatanya.


Revan memperhatikan wajah istrinya yang sudah tertidur itu, ia mengelus surai hitam istrinya sayang.


"Kamu kenapa, sayang?" ucapnya berbisik.


"Kamu berubah, andai kamu percaya sama aku, tapi enggak, kamu bahkan gak mau berbagi sedikitpun masalah kamu ke aku, padahal aku ingin jadi suami yang bisa kamu andalkan, tempat kamu pulang dan berkeluh-kesah, kamu udah janji kan? Untuk berbagi segalanya sama aku."


"Tapi gak apa-apa, mungkin bagimu aku bukan suami yang pantas untuk kamu percaya, tapi kamu harus tahu aku sangat mencintaimu."


Revan mengecup kening istrinya dengan penuh kasih, kemudian ia memalingkan wajahnya menatap langit-langit kamarnya.


Revan tidak bodoh, ia tahu sesuatu terjadi pada istrinya.


Entah apa, tapi pasti ada sesuatu, ia merasa khawatir setelah Kiran melaporkan hal mencurigakan yang di lihatnya saat menjemput Aletta.


Ia berharap sampai di rumah, Aletta akan membagi itu dengannya, namun tidak.


Ia hanya menemukan kaca rias yang sudah pecah dan satu jari Aletta yang terluka.


Se-tidakpantas itu kah?


Dirinya mendapatkan kepercayaan dari istrinya sendiri.


Revan merasa tidak memiliki harga dirinya sebagai seorang suami.


Revan merasa dirinya tidak berguna menjadi suami.


Yang ia tahu, Ayahnya selalu tahu semuanya tentang Bundanya dan Bundanya akan selalu menceritakan hal apapun pada ayahnya tidak ada rahasia di antara mereka.


Tapi rumahtangganya tidak seindah rumah tangga orangtuanya.


Waktu sudah menunjukkan tengah malam, Revan sudah pergi ke alam mimpi, tapi Aletta justru membuka matanya lebar.


Menoleh ke arah suaminya, suaminya yang sering ia hina dulu, padahal suaminya itu lebih berharga dari apapun.


Dulu, dirinya benar-benar tidak bisa menjatuhkan hatinya pada Revan, karena ia takut akan seperti ini.


Bahkan dirinya sekarang, tidak pantas bersanding dengan Revan.


Perlahan, air mata itu jatuh meluncur membasahi pipinya, isakan kecil hampir lolos namun ia menutup mulutnya.


Menepuk dadanya yang sesak, bukan hanya karena sesak menahan tangis, tapi juga sesak karena perasaan itu, perasaan cinta yang tidak seharusnya.


Mencintai laki-laki yang sangat berharga, suaminya.


Aletta merasa tidak pantas!


"Maaf." ucapnya, bahkan nyaris tak terdengar.


Sepertinya kamu terlalu baik untuk aku, Re.


Justru aku ini yang salah, aku bukan istri yang baik dan tepat buat kamu, terimakasih dan maaf untuk semuanya, atas ketidaksempurnaan aku jadi istri kamu, aku juga mencintaimu.


Sayang, ungkapan itu hanya bisa ia ucapan dalam hatinya saja.


Mau ngomong apa sama Aletta?

__ADS_1


__ADS_2