
Pria itu berdiri di balkon unit apartemennya, memandang pemandangan lampu kota di malam ini, sesekali ia menghisap rokoknya dan menerbangkan asap itu ke udara.
"Tck! Menyebalkan!" umpatnya pelan, tiap kali ia mengingat bagaimana cintanya yang berusaha ia kunci tapi tetap terlepas ia sangat kesal di tambah, tiba-tiba kakeknya menyuruhnya untuk menikah cuma karena ulah yang di timbulkan adik kecilnya.
Adrian tahu itu, meski ayahnya bilang bahwa gadis itu adalah anak temannya,tapi Adrian sudah dewasa dan bukan orang bodoh.
Indira, ibunya memang selalu memanjakan anak-anak perempuannya, karena ia terobsesi dengan anak perempuan.
Indira sangat memanjakan Kaira dan Raya. kedua adik perempuannya.
Tapi lihat, akibatnya!
Dirinya yang menanggungnya!
Adrian menyentuh bibirnya, bibir yang akhirnya mencium gadis pujaannya setelah sekian lama, Alettara.
"Sshh.." desisnya karena masih ada sedikit rasa perih, tapi itu tak sebanding dengan senangnya dia.
"Aku harus menemuinya besok." tekadnya, padahal kemarin malam ia sudah di hajar oleh Revan dan juga di maki-maki oleh Aletta.
Tapi ia tidak gentar, dengan di terimanya ciuman kerinduannya itu.
Artinya, Aletta masih punya rasa yang sama padanya.
"Revan, semua adil dalam cinta dan peperangan." gumamnya dengan senyuman licik.
Adrian kembali menatap langit malam, lebam di wajah dan tubuhnya bukan apa-apa, di bandingkan rasa senangnya karena berhasil membangkitkan cinta Alettara sedikit demi sedikit.
🦋
Aletta merasa aneh dengan tubuhnya, entah kenapa rasanya perutnya mual dan ingin muntah, tapi saat ia bersiap memuntahkan rasa mualnya hilang.
"Kayanya masuk angin karena dari kemarin aku susah makan deh." tebaknya dalam hati, tak mau sakit berkelanjutan, ia segera pergi mengambil nasi hangat untuk mengganjal perutnya sebelum berangkat ke kampus.
Tapi, ternyata itu tidak ada pengaruhnya, perutnya terus bergejolak.
"Tck! Jangan drop dong!" ujarnya kesal pada diri sendiri, apalagi sekarang ia merasa pusing pada kepalanya.
Terpaksa ia duduk, "Kayanya aku gak bisa masuk kelas hari ini." gumamnya, lalu mengambil ponselnya untuk meminta tolong pada Ilma, agar membantunya izin tidak masuk kelas.
Tok Tok Tok
Terdengar suara ketukan pintu, ia malas membukanya karena tubuhnya terasa aneh sangat tidak enak di rasa.
Tapi, "Apa itu Revan?" ucapnya penuh semangat, tapi kemudian ia sadar kalau itu Revan apa perlu mengetuk pintu?
Dengan lemas, ia berjalan menuju pintu dan menemukan ibu mertuanya disana.
"Revan mana?" tanya Rena tanpa basa-basi lagi, membuat Aletta bingung harus jawab apa, karena ia sendiri juga tidak tahu dimana suaminya.
"Revan..."
"Bunda khawatir, kemarin ayah bilang dia lihat Revan babak belur pas di pesta, dia bertengkar dengan Adrian kah? Mama mau liat keadaan dia, sudah dua hari gak masuk kantor, apa parah?" cecar wanita tua itu, kemudian menerobos masuk ke dalam rumah yang nampak sepi.
"Revan dimana?" tanya Rena, saat ia tak menemukan keberadaan putranya.
"Itu, Bunda, Revan,__"
"Kenapa? Kok kamu jawabnya terbata-bata gitu? Jawab jujur, Rayna. Revan itu anak bunda satu-satunya, bunda khawatir sekarang. Gak ayahnya gak kamu, semua sembunyikan keadaan anak bunda." cerocosnya.
"Aku, aku gak tahu Revan dimana." jawabnya terpaksa dan membuat Rena terkejut.
"Apa maksud kamu, Rayna?!" tanya Rena tegas sambil mengguncang bahu Aletta.
"Revan pergi, Bunda." ujarnya lirih.
"Kemana?! Yang jelas dong? Ada urusan kerjaan ke luar kota?"
Aletta cuma bisa menggeleng dengan mata berkaca-kaca.
"Revan pergi ninggalin aku, aku gak tau dia dimana, dia___"
Belum selesai, Aletta menyelesaikan ucapannya, ia terjatuh tak sadarkan diri.
Rena segera memanggil Pak Sopo untuk membantunya membawa sang menantu ke rumah sakit, bibir perempuan itu nampak sangat pucat.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi di antara kalian?" gumam Rena khawatir, mendadak terbesit rasa sesal di hatinya karena mendukung Revan untuk menikah dengan Aletta yang bahkan tak mencintai putranya.
"Ini salahku. Anakku tidak bahagia dalam rumah tangganya dan selalu bermasalah." rutuknya pada dirinya sendiri, ia memegangi kepalanya yang terasa berat memikirkan masalah rumah tangga sang anak di tambah Revan entah ada dimana.
🦋
"Sebenarnya apa yang kamu pikirkan hah? Kamu sudah memohon sama ayah, sama bunda biar bisa menikah sama Aletta, kalian udah bahagia kan? Terus kenapa sekarang tiba-tiba mau ngurus perceraian?" kesal Anggara.
Anggara tahu itu dari Gio yang tiba-tiba bilang mau mengurus perceraian Revan.
"Aku bosan dengannya." sahut Revan dingin dan datar.
"Jaga bicaramu! Ayah tidak pernah mengajarkan kamu jadi lelaki brengsek!" tukas Anggara yang mulai tersulut emosi.
"Sekarang pulang dan kembali ke istrimu!" titah Anggara.
"Gak akan pernah sudi, aku kembali padanya." jawab Revan yang membuat Anggara menggebrak meja kerjanya kesal.
"Ayah dan Bunda kurang apa? Kamu hidup dalam keluarga yang sehat dan harmonis tetapi kamu sangat picik begini?"
"Ayah dan Bunda sempurna, tapi rumah tanggaku tidak bisa sesempurna itu."
"Apa maksud kamu?!"
"Aku sudah tidak bisa bertahan dengan wanita murahan seperti dia." jawab Revan datar yang langsung mendapat pukulan mentah dari sang ayah.
"Bajingan! Siapa yang kau bilang murahan Revan?!" Anggara kini mencengkram kerah kemeja putranya.
"Aletta, menantumu yang akan aku ceraikan." jawabnya santai.
"Bangsat!"
"Apa? Ayah gak terima? Kasian sama dia? Kenapa gak jadiin dia istri kedua ayah aja? Dia pasti mau."
"Revan! Ayah gak nyangka kata-kata itu keluar dari mulut kamu."
Anggara mengguncang tubuh putranya yang baru saja ia tambahkan luka di wajahnya yang masih ada bekas keunguan.
"Sadar! Kamu cinta kan sama dia? Kenapa jadi gini?"
"Jangan mempermainkan pernikahan, Revan!" tegas Anggara yang membuat Revan menengok ke ayahnya lagi.
"Lebih baik ayah ngomong itu ke Aletta bukan ke aku." sahutnya cuek lalu keluar dari sana begitu saja, sambil menyeka sudut bibirnya yang terasa semakin nyeri.
🦋
Adrian baru saja keluar dari ruangan dokter pribadinya yang praktek di rumah sakit Wiratmadja.
Ia baru saja menanyakan tentang lukanya, karena merasa tidak enak badan.
Baru ia keluar, matanya melihat seseorang yang ia kenali ada di atas brankar yang di dorong di koridor rumah sakit dengan buru-buru.
"Tara?!" gumamnya lalu mengikuti kemana para perawat membawa Aletta pergi.
Ia akhirnya muncul di dalam ruang rawat Aletta saat memastikan Rena pergi.
"Aku tidak menyangka, tapi aku tetap mencintaimu." ujarnya sambil memandangi Aletta yang masih belum sadar.
Adrian tidak akan membiarkan keluarga mereka tahu hasil pemeriksaan yang sebenarnya.
Tadi sebelum dokter memberi tahu pada Rena, Adrian sudah lebih dulu menanyakan keadaan Aletta pada dokter.
#flashback
Adrian bergegas melihat keadaan Aletta tapi ia urungkan karena sadar bahwa ada Rena disana.
Ia menunggu hingga pemeriksaan selesai.
Melihat dokter yang akan menghampiri Rena yang sedang menelpon di koridor rumah sakit, Adrian segera mencegahnya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Adrian berbisik matanya sesekali melirik punggung Rena yang masih sibuk menelepon.
"Maaf ,tapi tuan siapanya pasien?" tanya dokter perempuan itu.
"Tck! Kau tidak tahu siapa aku? aku pemilik rumah sakit ini dan dia kekasihku." jawab Adrian mengarang.
__ADS_1
"Kalau begitu anda harus bertanggung jawab, Pak." kata dokter itu melihatnya dengan tak suka.
Adrian mengernyit heran, "Apa maksudnya?"
"Pasien di dalam sedang mengandung. Jika dia memang kekasih anda, anda harus bertanggung jawab, Pak!" ketus Si Dokter emosional.
"Apa?!" pekiknya, ekor matanya melihat gerak-gerik Rena yang sudah akan mengakhiri telepon.
"Dengar! Jangan katakan kondisi sebenarnya pada perempuan tua itu!" tunjuknya pada Rena.
"Tapi kenapa?"
"Jangan banyak tanya, atau aku pecat kau dari rumah sakit!" ancam Adrian.
"Jangan-jangan, anda tidak mau bertanggung jawab ya?"
"Sembarangan! Sudah turuti atau ku pecat?" ancamnya lagi.
"Eh? B-baik, Pak." jawabnya patuh.
#end
"Aku tidak akan membiarkan kamu tahu kehamilanmu." kata Adrian dalam hati.
Ekspresinya berubah saat melihat mata cantik itu mengerjap.
"Revan?" gumamnya saat melihat samar-samar seorang lelaki berdiri di dekatnya.
Adrian merasa tak suka saat nama yang di sebut Aletta adalah Revan padahal ia yang berada di dekat perempuan itu.
"Ini aku, Aksa." ucapnya lembut, memberitahu.
Tangan besarnya mengelus lembut dahi Aletta, tapi langsung di tepis olehnya saat itu juga.
"Apa yang kamu lakukan disini, ini dimana?" cecar Aletta sambil melihat sekelilingnya yang tampak serba putih, ini bukan rumahnya!
"Tara, tenang. Kamu di rumah sakit,___"
"Apa?! Aku?" Aletta mengingat-ingat kejadian sebelumnya.
"Tapi kenapa kamu yang ada disini, bukannya Bunda?"
"Dia sudah pulang, ada urusan."
"Apa maksudmu? Bunda tahu kamu disini?!" tanyanya kaget, ia takut Bunda akan berprasangka yang tidak-tidak tentangnya.
"Tenang, Tara___"
"Jangan mendekat! Aku mau Revan, suamiku!" pekiknya saat melihat tangan Adrian yang akan menyentuhnya.
"Tara___"
"Aku bilang pergi! Jangan dekati aku!" teriaknya, "Aku mau Revan, bukan kamu!"
"Jangan harap, dia sudah tidak perduli denganmu lagi!" ucap Adrian yang membuat Aletta merasa tak terima dan memukuli Adrian yang sejak tadi berusaha menenangkannya dengan berusaha memeluk perempuan itu.
"Ini semua gara-gara kamu tahu gak?!!" bentak Aletta.
"Aku benci sama kamu!" bentaknya lagi pada Adrian, keadaan yang belum stabil dan emosinya membuat tubuhnya kembali lemas dan pucat sampai membuat Adrian memanggil beberapa perawat dan dokter yang tadi masuk ke ruangan pasien.
Selesai pemeriksaan, dokter cuma meminta Aletta jangan banyak pikiran dan istirahat, sebelum besok bisa pulang ke rumah.
"Pak, tolong jaga emosi pasien tetap stabil, stres tidak baik untuk janin." pesan dokter yang langsung di iyakan oleh Adrian.
"Ingat untuk sembunyikan kehamilan Aletta dari dirinya, mungkin dia akan lebih stress kalau tahu." pinta Adrian.
Dokter itu cuma menggeleng tak habis pikir tapi ia tetap mengiyakan ucapan Adrian demi pekerjaannya.
Pikirnya, Adrian sangat tidak bertanggung jawab. Sudah punya pacar aktris ternama tapi menghamili perempuan lain.
"Satu lagi, tetap jaga rahasia ini dari siapapun!" titah Adrian tegas.
Jangan lupa vote ya guysss
Like komen juga kembang kopinya
__ADS_1
Makasihhhh🐝