
Revan mendengar dari ayahnya, kata bunda Aletta sakit karena memikirkan dirinya yang tidak kunjung pulang.
Hatinya goyah, ia ingin melihat Aletta-nya.
Revan bergegas ke rumah sakit, "Ck! Dari semua rumah sakit kenapa bunda membawanya ke rumah sakit milik pria sialan itu!" umpatnya sesaat sebelum akhirnya, ia melangkahkan kakinya cepat ke ruangan Aletta.
Meski marah, ada rasa khawatir yang besar di hatinya untuk sang wanita tersayang.
Tapi, ada rasa sesal yang merambat di hatinya, terlebih saat melihat adegan di depannya, "Harusnya aku tidak mengganggu kalian." cibirnya dengan senyum kecut menatap dua insan yang terkejut dengan kehadirannya.
"Sepertinya, kamu sudah tidak membutuhkan aku ya?" cibir Revan, kemudian berbalik meninggalkan ruang rawat itu.
Buru-buru, Aletta mengejar Revan yang mulai melangkah pergi dan meninggalkan Adrian yang tadi bersiap menyuapinya.
"Re! Tunggu! Kamu salah paham!" serunya sambil berlari terseok-seok mengejar langkah lebar suaminya.
Revan menekan emosinya, rahangnya mengeras tapi hatinya sakit.
Ia berhenti melangkah dan membiarkan istrinya mendekat.
Tanpa lama-lama, Aletta menubrukan tubuhnya pada punggung lebar milik pria itu.
"Aku kangen, jangan tinggalin aku."
Jujur, ungkapan kerinduan itu menyentuh perasaannya, tapi lagi-lagi kali ini egonya lah yang paling menguasainya.
Pikirannya bilang, jangan kalah lagi karena hati dan cinta yang membuat bodoh.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu!" hardik Revan, hatinya tak tega tapi egonya sekarang tengah terluka.
Aletta terhenyak melepas tautan tangannya perlahan-lahan, ia merindukan pria ini, sangat!
__ADS_1
Tapi kenapa, bibir yang selalu mengutarakan cinta itu sekarang terus mengutuknya dengan hinaan.
"Jaga bicaramu, Tuan Bagaskara! Kau menyakitinya!" seru Adrian tepat di belakang mereka, setelah tadi cuma diam menonton keduanya.
"Aku? Menyakitinya?" tanya Revan dengan kekehannya yang terdengar mengejek.
"Dia! Dia yang terus menyakitiku meski seluruh cinta di dunia ini aku berikan, dia tetap tidak menghargai ku!" hardiknya lagi menunjuk pada Aletta yang terdiam dengan genangan air di pelupuk matanya.
"Banyak cinta aku berikan untuknya, tapi selamat kau pemenangnya Tuan Wiratmadja!" serunya dengan tepukan tangan.
Aletta menggeleng tak setuju dengan ucapan Revan, ia berusaha mendekat tapi Revan lebih dulu menggunakan tangannya sebagai pertanda untuk jangan mendekat.
"Surat cerai kita akan segera aku kirim padamu!" ucap Revan, hingga akhirnya meninggalkan Aletta yang terduduk lemas di lantai koridor rumah sakit dengan air mata yang meluncur sunyi tanpa isakan.
...****************...
"Lo yakin mau pisah dari Aletta?" tanya Jonathan, cuma pria itu yang bisa Revan ajak bicara saat ini, hanya Jonathan yang dirinya percaya soal ini.
Mata coklatnya yang jernih itu menatap langit malam, gelap seperti keadaan hatinya sekarang.
"Lo gak mau dengerin penj__"
"Penjelasan apa, Jo?! Dua kali gue lihat dengan mata kepala gue sendiri, dia berduaan sama si bangsat Adrian!" tukasnya emosi.
Jonathan hanya menghela napasnya pasrah, ia belum pernah menghadapi Revan yang seperti ini, biasanya sahabatnya ini selalu bersikap hangat.
"Tapi apa lo yakin gak akan nyesel?"
"Gak!"
"Lo cinta kan sama dia?"
__ADS_1
"Tapi dia nggak!" tegasnya, lalu dengan santai ia menyaut gelas wine milik Jonathan.
"Lo gak bisa minum, Van!" cegah Jonathan.
"Gue bisa! Sekarang, gue udah sering minum beginian, gak akan mabuk." ucapnya percaya diri, setelah berhasil meneguk segelas wine.
Besoknya, Jonathan pergi ke rumah Revan dan Aletta yang sekarang hanya di tempati Aletta saja.
"Ini dari Revan."
Jonathan langsung menyodorkan amplop coklat pada Aletta tanpa basa-basi, tepat saat pintu rumah terbuka.
"Apa ini?" tanya Aletta ragu, Jonathan dapat melihat wajah perempuan itu yang pucat, kantung matanya yang hitam dan juga matanya yang sembab.
Jonathan yakin, Aletta sedih karena kelakuan Revan yang menurutnya sangat kekanak-kanakan.
"Surat cerai, gue harap lo bisa segera selesaikan urusan kalian, tanda tangan secepatnya kalau lo setuju buat cerai, lusa Revan pergi ke Swiss."
Mata Aletta membelalak kaget, napasnya tiba-tiba sesak, dadanya sakit.
"Apa?"
"Tapi berhubung dia harus urus perceraian kalian, mungkin kepergiannya akan di tunda sampai proses perceraian selesai." lanjut Jonathan.
Pria itu dapat melihat tatapan kosong mata Aletta, Jonathan yakin Revan cuma salah paham, tapi entah kemana cinta lelaki itu yang biasanya selalu menerangi pikirannya tentang Aletta.
"Al, lo cinta sama Revan? Kalau iya, lo bisa banget jadiin kesempatan ini buat baikkan sama dia selama masih di Indonesia." sarannya, yang membuat Aletta mendongak menatap pria itu.
"Jangan kecewain sahabat gue lagi, gue percaya lo bisa." pesan Jonathan, "Gue pamit." ucap Jonathan, kemudian melenggang pergi dari rumah itu.
Jangan lupa like komennya
__ADS_1
Author terima kritik saran dari kalian kok:)