
Aletta diam-diam masuk ke kamar Adrian, "Aksa..." lirihnya dalam hati saat melihat sosok yang melindunginya selama ini tengah tertidur dengan damai.
Perempuan itu pelan-pelan duduk di bibir ranjang milik Adrian, menatap lamat-lamat pria yang menjadi naungannya.
"Aku paham sama pengakuan kamu di depan mama kamu barusan, kamu yang merusak kehidupan aku, aku tau! Tapi, kamu baik dan menghujani aku dengan cinta kamu, aku harus gimana? Cuma kamu yang mau menerima aku sekarang." ujarnya gusar, yang tentu cuma ia ucapkan dalam hati.
"Andai, Revan bersikap lebih dewasa menyikapi permasalahan kami, mungkin aku gak harus dalam posisi serba salah kaya gini."
Aletta mendesah kasar, tangannya mengusap kasar wajahnya sebab air matanya sebentar lagi akan merebak.
"Tara?" gumam Adrian setengah sadar, ini tengah malam dan ia merasakan kehadiran Aletta.
"Apa aku mimpi ya?" ucap Adrian sambil mengerjapkan matanya.
"Maaf aku ganggu ya?" celetuk Aletta.
"Hah? Jadi beneran kamu di kamar aku?!"
Adrian langsung bangkit dan mengumpulkan nyawanya.
"Eh, i-iya."
"Ngapain, ini udah malam, kamu harusnya tidur, kenapa? Nggak bisa tidur ya? Ada yang gak enak sama kandungan kamu? Atau masih kepikiran omongan mama?"
Tanpa menjawab, Aletta meringsak ke dalam pelukan Adrian, "Makasih ya, kamu perhatian sama aku, banget!"
"Anak ini, bukan anak kamu, aku bukan istri kamu, aku beruntung ada kamu di saat semua orang buang aku." ungkap Aletta.
Adrian terdiam, di sisi lain, ia senang, di sisi lain ia merasa bersalah, kesendirian Aletta sekarang adalah karena dirinya, bahkan mungkin kalau ia memberi tahu Revan dan keluarganya soal kehamilan Aletta.
Rumah tangga Aletta masih bisa di selamatkan.
Tapi, hatinya tidak akan selamat dari rasa sakit! Adrian memang egois, tapi itu karena cintanya yang tak pernah lekang oleh waktu untuk Aletta!
__ADS_1
"Ssttt! Kamu bikin aku baper, kalau aku nikahin kamu sekarang gimana? Mau? Hah?!" canda Adrian dengan kekehan yang mengundang pukulan kecil di dadanya.
"Kangen Revan." ucapnya pelan, sepertinya, kehamilannya membuatnya merindukan ayah dari anaknya lebih-lebih besar dari sebelumnya.
"Rasanya sampai pengin nangis. Aku ngidam pengen ketemu Revan, serius!" lanjutnya lagi.
Alhasil, senyum Adrian pudar, candaan yang akan ia lontarkan hancur, "Peluk aku aja, kalau kamu kangen dia. Anggap aja, aku gantinya dia." ucap Adrian, tangannya mendekap erat Aletta.
"Tapi__"
"Yaa ya ya, aku tahu Revan gak akan terganti, aku udah tahu jawaban kamu." ketus Adrian tanpa sadar.
"Aksa, aku ganti deh, ngidamnya aku pengin makan ayam kriuk." ucap Aletta mengalihkan pembicaraan.
"Sesuai mau mu, ratuku!" sahut Adrian yang dengan sigap melepaskan pelukannya, kemudian turun dari tempat tidur, meraih jaketnya, menyambar kunci mobilnya untuk segera mencari keinginan Aletta.
Entah dimana ia akan menemukan ayam kriuk tengah malam begini, yang penting ia sudah menuruti mau Aletta dan calon bayinya.
Pergi jauh dari Aletta, tak membuat Revan lantas dengan mudah melupakan perempuan itu.
Bayang-bayang pengkhianatan itu masih menghantuinya bercampur dengan kilasan adegan manis yang mereka lakukan.
Hatinya sakit, bercampur dengan sakit karena kerinduan.
Revan membanting gelasnya yang berisi minuman beralkohol sampai pecah, hancur seperti hatinya.
"Keterlaluan! Setidaknya pergilah dari ingatanku, Ale!" teriaknya frustrasi, dengan langkah kasar ia menuju kursi kerjanya, duduk di sana dan meraih laptopnya.
Namun, bukan mendapatkan fokusnya, ia malah semakin terbayang dengan kilasan adegan manisnya bersama Aletta.
"I love you too, Re."
"Re!"
__ADS_1
"Yeay! Makasih aku cinta kamu!"
"Semangat kerjanya, bye suami!"
"Argghhh! Aletta, sialan!!!" teriaknya lagi dan lagi, ia menjambak rambutnya frustrasi, ia tak mampu menahan hasrat amarahnya untuk mengobrak-abrik semua yang ada di depannya.
"Kenapa lo terus menerus muncul, padahal gue udah pergi jauh ke belahan dunia lain, anjing!" ucapnya kasar.
Ikatan batin tidak mengenal jarak, seperti halnya Aletta dan calon bayinya yang merasa rindu akan Revan.
Revan juga tidak bisa menolak untuk merasakan kerinduan yang telah lancang mengobrak-abrik emosinya.
"Van!" panggil seseorang dengan khawatir melihat kondisi sepupunya seperti orang gila membuat gadis itu khawatir.
Anna masuk ke ruangan kerja pria itu setelah mendengar keributan dari luar, entah apa yang sudah di buat hancur lagi oleh Revan.
"Gue kan udah bilang, balik sama Aletta! Lo gak bisa tanpa dia Van! Perceraian kalian bahkan belum selesai loh! Kalian bisa rujuk!"
"Gue udah suruh orang buat kasih tau Aletta, kalau perceraian kami sudah beres, dan memang harus segera beres, secepatnya!"
Anna cuma bisa menatap sepupunya jengkel, "Kalau masih cinta selesaikan, daripada kehilangan selamanya!"
"Dia selingkuh, Ann!" kilah Revan, "Dia milih cinta lamanya!"
"Dia yang milih cinta lamanya atau lo yang gak kasih dia kesempatan buat jelasin semuanya?!" tegas Anna yang membuat Revan terdiam.
Revan tidak bisa menyangkal kenyataan, bahwa ia tak pernah memberikan kesempatan pada Aletta untuk menjelaskan semuanya.
"Ini belum terlambat, temui dia,Van! Kalau emang dia salah, lo boleh cerai sesuai kemauan lo." nasihat Anna, kemudian pergi meninggalkan Revan yang dalam dilema.
Tim Adrian atau balik sama Revan?
Jawab di komentar yayyy
__ADS_1