
Cuaca sangat mendung, gelap dan berpetir.
Mungkin hujan akan segera turun mengingat angin juga sudah berhembus sangat kencang dan hari ini adalah hari pertama Aletta kembali kuliah dan sialnya saat ia mau pulang nampak badai akan menerpa.
"Ta, mau bareng gue gak, bentar lagi bakal hujan deras kayanya." tawar salah seorang teman perempuannya, Ilma.
"Ah, enggak deh, Ma. Kan kita udah gak searah lagi, gue nunggu jemputan aja." tolaknya halus, memang dulu ia searah dengan temannya yang bernama Ilma itu, tapi sekarang sudah tidak, kan dia sudah tinggal bersama Revan dan keluarganya.
"Oh iya, hampir lupa kalau Aletta udah nikah, yaudah gue sama Dinni duluan ya." lantas gadis bernama Ilma itu melambaikan tangannya yang di sambut pula oleh Aletta.
Dengan gelisah, Aletta menengok kesana kemari, karena supir yang tadi mengantarkan dirinya ke kampus tidak muncul juga untuk menjemput.
Ia memutuskan untuk menelepon, tapi tidak juga di angkat, sedangkan kilat dan guntur sudah saling bersahutan, awan semakin gelap padahal sekarang baru jam satu siang, bahkan angin menerbangkan sampah dan dedaunan kering, rasanya Aletta seakan akan terbang karena saking kencangnya angin bertiupan dan benar saja tak lama setelah itu hujan turun dengan sangat deras bahkan angin membawanya membasahi Aletta yang berdiri di pinggir koridor, merasa dirinya akan basah kuyup Aletta sedikit mundur meski hujan masih tetap menyembur ke dalam karena di bawa angin.
"Ayo pulang!" suara berat dan dalam yang beberapa hari ini jarang ia dengar karena lebih banyak bungkam, kini terdengar di telinganya.
"Re, kamu?"
"Pak Jono, gak bisa jemput, mendadak ban mobil bocor, ayo!" dan dengan langkah yang ragu Aletta ikut bergabung dengan payung yang sama dengan suaminya yang sudah berubah di matanya, tak sehangat dulu.
Aletta menatap Revan si cowok urakan yang sekarang jadi suaminya, lelaki itu sekarang memeluk bahunya erat demi melindungi dirinya dari terpaan hujan.
"Sial!" umpat Revan sebab payung yang di bawanya terbang terbawa angin kencang. Buru-buru ia menggiring Aletta untuk berlari bersama sampai menuju mobil rintik hujan yang besar di sertai angin membuat mereka basah dengan mudah.
Aletta basah dan Revan juga basah, payung yang mereka pakai tidak berguna karena tertiup angin begitu saja,
Sesampainya di dalam mobil, Revan melepas jas mahalnya yang sudah basah dan mengambil sweater hodie miliknya yang tersimpan di kursi belakang.
"Pakai ini dan lepas bajumu yang basah itu." titahnya pada sang istri yang malah diam terbengong mendengar perintahnya.
__ADS_1
"Apa yang kamu pikirkan, cepat ganti bajumu atau kamu akan sakit lagi!" tegas Revan menyadarkan Aletta.
"Tapi kamu?"
"Hanya jas dan celananya saja yang basah, kemeja ku masih cukup kering, pakai saja cepatlah!"
"Bisa nggak, gak usah membentak aku." sungut Aletta, karena ia cukup kesal memendam rasa sakit di bentak oleh Revan sejak kemarin.
"Sekarang, kamu berubah kamu cuek, dingin, datar, gak kaya sebelum menikah sama aku, apa karena setelah kamu dapat kamu mau buang aku gitu?!" ketus Aletta sembari merampas sweater hodie berwarna hitam milik suaminya.
"Padahal ya Revan, meskipun aku gak suka sama kamu, tapi aku masih mau berusaha jadi istri yang baik, tapi apa? Kamu cuekkin aku!" sarkas Aletta yang memancing emosi Revan.
"Sebelum menyalahkan aku, koreksi dirimu, apa kamu ikhlas menjadi istriku? Apa istri yang baik akan menolak dan menghina suaminya saat suaminya meminta haknya?" tanya Revan tepat sasaran yang mampu membungkam celotehan Aletta.
"Apa berusaha jadi istri yang baik itu dengan cara terpaksa melayani kebutuhan suamimu, begitu?!"
"Sekarang, cepat ganti aku tidak akan melihatmu!" tegasnya mengalihkan pandangannya ke arah jendela.
Setelah sekitar dua puluh menit perjalanan dalam keheningan, mereka sampai di rumah bersama mereka memasuki kamar.
"Mandilah lebih dulu!" suruh Revan namun Aletta enggan melangkah. Ia masih diam di belakang Revan.
"Aletta kamu dengar aku?" tekan Revan.
"Maaf, aku gak bermaksud." ujar Aletta yang langsung membuat Revan berbalik melihat ke arah Aletta.
Ia menatap Aletta penuh tanya, "Revan, malam itu aku enggak bermaksud menghina kamu, sumpah! Aku kira kamu itu... " dengan cepat Aletta membungkam mulutnya dengan kedua tangannya.
"Kamu kira aku apa?" tanya Revan dengan tatapan mengintimidasi.
__ADS_1
"Anu, itu.. aku cuma belum siap, iya aku takut. Kamu tahu kan, aku belum siap menikah. Bagaimana kalau setelah itu aku hamil dan aku masih belum selesai kuliah, Re."
Revan mengangguk mengerti, mendekati Aletta dan membelai kepalanya, "Kamu bisa bicara dengan baik-baik, bukan dengan cara seperti itu, kalau kamu takut hamil kita bisa menundanya."
"Apa?!"
"Apanya yang apa, Al. Kita bisa menunda kehamilan sampai kamu siap."
Aletta merutuki alasannya sendiri, kalau Revan berkata ingin menunda kehamilan, bukan berarti suaminya akan menunda hubungan suami isteri, benar kan?!
"Ah! Tapi, Re. Aku tidak tahu cara menunda kehamilan." ungkapnya gugup.
"Aku tahu caranya. Lagi pula,Al. Kamu bisa bertanya dengan bunda yang sudah lebih banyak pengetahuan tentang itu." saran Revan yang sukses membuatnya melongo, bertanya bunda? Itu bisa membuat nya sangat malu! Ayolah yang benar saja!
Revan tersenyum melihat wajah merah Aletta, istrinya pasti malu, "Aku maafin kamu, sekarang sana mandi atau mau mandi bersama?" tawar Revan dengan mata jahilnya menelusuri tubuh Aletta yang setengah basah.
Ia mengecup kilat bibir basah Aletta yang semakin membuat rona merah di pipi Aletta.
Aletta menggeleng kuat dengan mata membelalak.
"Aku tunggu sampai kamu siap." tegas Revan dan memilih keluar dari kamar berniat mandi di kamar mandi lainnya dan penggalan kalimat terakhir dari mulut Revan membuat Aletta mematung, ia terus mencerna dengan baik semoga saja dirinya salah tanggap.
Tapi yang di maksud oleh suaminya pastilah malam pertama mereka yang tertunda.
Aletta menggeleng kuat.
Ah, Aletta tidak mau, padahal itu adalah kewajibannya.
"Tapi, bagaimana kalau Revan balikan sama Tasya karena hal itu? Aku gak akan biarkan si ulat itu menang setelah menghina aku!" tekadnya.
__ADS_1