My Lazy, Rich Man

My Lazy, Rich Man
MLRM : Affair


__ADS_3

"Ngomong sekarang, kemana bos lo, sat!" tekan Revan di susul umpatan kasar pada Alex yang sudah ia cengkram kerah kemejanya.


"Tuan saya tidak ada di kantor, maaf sebaiknya anda pergi dari sini, sangat tidak pantas petinggi perusahaan besar seperti anda membuat keributan." celoteh Alex tanpa rasa takut, ya meski pergerakannya sudah di kunci oleh Revan, Alex masih punya keberanian untuk melawannya dengan lisan.


Kesal, Revan mendorong Alex menyudutkan pria berusia tiga puluhan itu ke dinding dan...


Bugg!


Alex memejamkan matanya, ia tak merasakan apapun, nyatanya Revan meninju dinding di belakangnya, bukan dia.


"Adrian bangsat! Lo, pasti tahu kemana bos lo bawa istri gue kan?! Jawab jujur, atau..." gertak Revan dengan sorot mata menyeramkan.


"Saya tidak tahu, itu bukan urusan saya." jawab Alex yang tentu adalah bohong.


"Lo pikir gue bodoh? Jawab!" gertak Revan lagi, buku-buku jarinya sudah memutih pertanda betapa kuatnya ia menahan emosi.


"Saya gak bohong. Saya nggak tahu, lagipula apa urusan anda? Kalian sudah bercerai." timpal Alex dengan beraninya, suasana di depan ruangan CEO itu semakin memanas karena emosi yang semakin membara.


"Bangsat!" umpat Revan bersiap melayangkan tinjunya, tapi....


"Hentikan!" cegah seseorang, yang adalah Indira.


"Apa yang seorang Bagaskara lakukan di kantor kami?" tanya Indira dengan penuh wibawa, tidak seperti biasanya yang selalu ramah dan cerah.


.


.


.


"Jadi? Nyonya Wiratmadja yang terhormat, bisa anda beritahu saya secepatnya, saya sudah tidak sabar." desak pria tampan berkulit cerah itu.


Sekarang mereka sudah berpindah tempat.


Tapi, Indira malah terus bersikap santai mengaduk kopi dinginnya lalu meminumnya dengan manner yang baik layaknya seorang bangsawan sungguhan.


"Jangan buang waktu saya." ucap Revan lagi, rambutnya berantakan karena aksinya barusan di depan ruang CEO, kancing kemeja teratasnya juga lepas.


Tapi itu justru menambah ketampanan seorang Bagaskara muda itu.


"Sabarlah nak, kamu ini persis seperti Rena yang tidak sabaran dan impulsif." kata Indira tenang, tangannya memainkan gelas yang baru saja ia sesap isinya.


"Jangan terlalu formal, aku teman ibumu." tambah Indira lalu meletakkan gelasnya di atas meja.


Revan melengos, ia setuju untuk ke cafetaria karena butuh informasi,bukan berbasa-basi !


"Oke-oke, aku akan segera memberi tahu, tapi Tante harap kita sama-sama untung ya?"


'Kayanya ada bau-bau kesepakatan disini, aku harus lebih cerdik, siapa tahu ini tidak menguntungkan posisiku.' batin Revan merasa waspada, ia sudah lebih dulu berpikiran buruk tentang sahabat bundanya itu.


"Jujur, saya tidak suka anak saya punya hubungan sama mantan istri kamu dan kamu buat keributan tadi mau cari dia? Kenapa?"

__ADS_1


ucap Indira gamblang.


Dahi Revan mengernyit dalam, 'Hubungan? Jadi apa benar, mereka ada affair?'


"Saya mau bawa dia pulang." tukas Revan.


"Bagus! Bawa pulang dia, rujuklah, perempuan itu sedang hamil anak kalian kan?"


Deg!


Ucapan Indira barusan menyerang perasaannya, "Hamil?" lirihnya.


"Iya! Saya nggak suka, anak saya masih punya masa depan, saya gak mau dia mengorbankan masa depannya dengan menjadi ayah dari bayi kamu! Bertanggungjawab atas kehamilan Aletta, jangan buat anak saya yang bertanggung jawab!" tegas Indira.


'Ck, emang cuma si keparat itu yang punya masa depan? Justru gara-gara anakmu itu masa depan pernikahan kami jadi suram.' ucap Revan yang tentu saja dalam hati, ia masih punya nurani untuk tidak menyerang seorang ibu seperti Indira dengan pedas.


Jangan langsung di ulti, santai dulu.


"Anda tidak berbohong kan? Aletta hamil?!"


"Iya, Rena juga sudah tahu, saya mau menjodohkan Aksa dengan perempuan pilihan keluarga kami, jadi saya harap selesaikan urusan kalian tanpa melibatkan Aksa."


'Bunda sudah tahu? Tapi kenapa diam saja.' batin Revan.


Revan tersenyum sinis, "Bukan saya ataupun Aletta, tapi anak anda sendiri yang sudah ikut campur dan membuat rumah tangga kami carut marut!" ketus Revan yang tanpa disadari melakukan pembelaan pada istri yang sudah ia usir beberapa bulan lalu.


Indira agak kaget, tapi ucapan Revan tidak salah, putranya yang sudah cinta mati pada istri orang, ia bahkan sudah tahu itu.


"Kalau gitu jangan banyak basa-basi, kasih tahu dimana mereka sekarang." ucap Revan lugas.


Indira menjelaskan bagaimana Adrian pindah di sebuah penthouse tanpa memberitahu siapapun demi menyembunyikan Aletta dari seluruh keluarga.


"Saya minta secepatnya, bawa Aletta jauh dari Aksa, saya gak mau keluarga besar Wiratmadja sampai tahu."


Indira takut scandal semacam itu akan mengancam posisi putranya di kursi kepemimpinan Wiratmadja Group, juga mempengaruhi kesehatan mertuanya yang sudah renta.


Revan hanya mengangguk, lalu meninggalkan wanita paruh baya itu sendirian dengan perasaan yang sulit di jelaskan.


'Ternyata cuma kesepakatan kecil tak berarti.' batin Revan setelah menyadari pemikiran negatifnya tadi tidak terjadi.


"Aku harus menanyakan ini pada Bunda." gumamnya, lalu menjalankan kendaraannya menuju rumah keluarganya.


...****************...


"Jangan urusi Aletta lagi, sayang. Nak, Bunda gak mau kamu sakit hati lagi dan lagi, Bunda nyesal dulu menuruti permintaan kamu, sekarang gak lagi!"


"Intinya, jawab aja, bunda tau kalau Ale hamil tapi kenapa gak bilang sama aku?" tanya Revan memelas, ia merasa bersalah karena meninggalkan istrinya dalam keadaan hamil.


Ia terbayang bagaimana perasaan Aletta di masa-masa sulitnya tanpa seorang suami yang menemaninya untuk ke dokter sekalipun.


"Kamu gak usah cemaskan soal itu, Aletta dan calon anaknya udah sama orang yang seharusnya." kata Rena, ia melengos ke arah lain, ia benci fakta bahwa anaknya di khianati setelah semua yang Revan lakukan demi perempuan itu.

__ADS_1


"Adrian maksud bunda? Bun, aku ini ayah bayi itu dan aku berhak unt___"


"Bukan!" pekik Rena muak, "Kamu bukan ayahnya, bayi itu milik Adrian, bukan kamu! Bunda gak nyangka Aletta yang bunda sayang layaknya anak sendiri semurah itu!" tutur Rena sarat akan hinaan.


"Bun!" tegur Anggara yang sedari tadi sudah diam, untuk memberi ruang pada istrinya.


"Emang iya lho, Yah. Bahkan sekarang keluarganya aja usir dia karena apa? Karena keluarganya malu, Aletta begitu murahan sampai punya affair sama cowok lain." tambah Rena menggebu-gebu.


Revan menahan emosinya, ia tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah sekarang.


"Bun, please..." pinta Revan lirih.


"What?"


"Nyonya Indira bilang, bayi itu milikku jadi jangan memperkeruh keadaan dan membuat aku bingung." ujar Revan sehalus mungkin.


"Hah!" desah Rena remeh, "Dira bilang gitu ke kamu? Kamu percaya Dira apa Bunda kamu sendiri?" tanya Rena yang sukses membuat terperanjat, seumur hidupnya ia belum pernah melihat bundanya dengan mode kejam dan kasar seperti sekarang.


Kecuali, saat membela sang putra semata wayangnya.


"Bun, aku ___"


"Revan dengar Bunda! Asal kamu tahu ya, Bunda sendiri yang dengar dari mulut si anaknya Indira itu, kalau bayi yang di kandung Aletta itu punya dia! Jadi kamu gak usah cari-cari pengkhianat itu lagi!" hardik Rena.


"Dan satu lagi, Revan. Kenapa Indira bilang kaya gitu sama kamu? Tau?! Karena Indira menolak kenyataan bahwa anaknya perebut istri orang dan membuatnya hamil di luar nikah."


"Ya Tuhan, Bunda!"


Anggara mengelus dada mendengar ucapan istrinya yang terkesan kasar seperti layaknya seorang antagonis.


"Bunda ngomong kenyataan lho, jugaan pernah Bunda kaya gini? Nggak kan? Bunda kaya gini demi anak bunda satu-satunya. Nurut ya, sayang ya?" pinta Rena manis namun tegas, kemudian meninggalkan ayah dan anak itu berdua saja.


"Ayah?" lirih Revan.


"Ayah gak tahu, Van." sahut Anggara yang memang tidak begitu tahu menahu soal kehamilan Aletta.


Tidak masalah, Revan akan cari kebenarannya sendiri.


Dia sudah mengantongi alamat penthouse milik pria parasit yang mengganggu hubunganya dengan Aletta.


Ia segera menyambar kunci mobilnya dan meninggalkan ayahnya ya yang malah seperti orang bodoh.


Revan jadi sedikit ragu, karena biar bagaimanapun dari info yang Indira berikan, Aletta dan Adrian tinggal bersama dalam satu atap.


"Anak siapa yang kamu kandung, Ale?" gumamnya perih, ia meninju kemudi, sebelum akhirnya benar-benar tancap gas menuju ke alamat penthouse baru Adrian.


'Jangan buat aku sakit untuk kesekian kalinya, aku mohon jangan buat perjuanganku menurunkan egoku jadi sia-sia.'


TIM ADRIAN OPO TIM REVAN.


KOMEN YOO

__ADS_1


__ADS_2