My Lazy, Rich Man

My Lazy, Rich Man
MLRM : Hurt


__ADS_3

"Revan itu anak tunggal, selain dia bertanggung jawab dia pasti punya sifat manja sebagai satu-satunya anak dari orangtuanya. Makanya dia punya sifat kekanak-kanakan dan tidak berpikir panjang." jelas Indira.


" Sedangkan Adrian? Anak itu, putra pertama dan punya tiga adik, dia jauh lebih dewasa dan bertanggung jawab daripada Revan, makanya sekarang kamu ada disini." lanjut Indira, pelan namun mengandung ketegasan.


Yang sukses membuat Aletta yang ada di hadapannya tersentak kaget.


Jujur saja, Indira tidak suka jika anaknya di sebut pria tak tahu diri karena merebut wanita milik orang lain, apalagi bertanggungjawab atas kehamilan yang mana anak dalam kandungan Aletta bukan anak Adrian.


Indira langsung terkejut dan buru-buru menemui Adrian di kantornya saat menerima telepon dari Rena yang mengatakan bahwa anaknya berselingkuh dengan mantan menantu Rena.


Sayangnya, ia tidak menemukan putra kesayangannya itu di kantor.


Dia harus repot-repot untuk mengancam Alex, agar pria itu mau memberi tau keberadaan Adrian.


"Dia punyaku, Ma!" sela Adrian, yang mendapatkan tatapan tajam dari Indira.


"Mama tau kamu anak baik, tapi daripada bertanggungjawab atas anak orang lain, lebih baik kamu menikahi gadis yang papa pilih, bertanggungjawab atas adikmu dengan menikahi gadis itu!" tegas Indira, Indira yang selama ini selalu lembut dan ceria di mata Adrian tiba-tiba menjadi seorang ibu yang tegas.


"Dia milikku!" kekeh Adrian sambil menggenggam tangan Aletta, Aletta mencoba menghentikan Adrian melalui tatapan memelasnya juga cengkraman perempuan itu di lengan Adrian.


"Siapa yang kamu klaim milikmu, Aksa?!" bentak Indira yang membuat mata Aletta terpejam kaget, ia cuma berani menatap lantai sejak Indira datang menerobos masuk ke dalam, padahal saat itu Aletta masih baru pulang dalam keadaan terpukul atas kejadian di supermarket.


"Aletta? Atau anaknya? Atau keduanya? Hah?! Kamu mikir gak, kalau papa tau,kakek tau? Ya Tuhan, Aksa kebanggaan keluarga merusak rumah tangga orang lain?"


"Jangan buat semuanya hancur, kamu bisa punya masa depan lebih cerah sama Adinda ya___"


"Adinda anak kecil itu?" remeh Adrian.


"Kamu pilih mama dan adik kamu atau perempuan ini dan anaknya?!" tanya Indira dengan nada mengancam.


"Aku pilih Aletta dan anak kami." jawab Adrian tegas, Aletta menoleh terkejut pada Adrian, "Aksa..." lirih perempuan itu.


"Kamu bahkan mulai gila ya, ngakuin anak Revan itu anak kamu?"


"Anak itu memang anak aku, Ma." kata Adrian santai dan datar.


"Aksa!" teriak Indira, tangannya bahkan sudah terangkat untuk menampar putranya itu.


"Ma, mama gak mikir? Aletta tinggal sama aku beberapa waktu ini, mama tau kan, wanita dan pria dewasa berdua dalam satu rumah, tidak mungkin kalau tidak__"


Plak!


Aletta, membelalak tak percaya, Indira menampar Adrian, air mata tanpa di duga jatuh tak terbendung melalui matanya.

__ADS_1


Ia merasa bersalah menjadi biang masalah di manapun ia berada.


"Aku memang pembawa masalah." batin Aletta perih, ia menahan sesak di dadanya saat ini karena kesalahannya.


"Aksa..." lirih Indira.


"Mama, mendidik kamu dengan baik kan? Terus kenapa?! Apa mencintai perempuan murahan seperti dia membuat kamu jadi bajingan juga?! Hah?!!" bentak perempuan paruh baya itu.


Adrian memejamkan matanya, menikmati rasa sakit yang menjalar di pipinya, ini pertama kalinya Indira memukulnya selama ia hidup.


"Mama gak pernah ajarkan kamu buat melakukan dosa kaya gitu, Aksa!"


"Tante, nggak! Aksa bukan bajingan, Aksa gak lakukan dosa apapun, ini semua cuma salah aku." bela Aletta, sambil memegangi punggung Adrian yang masih diam menunduk sambil memegangi pipinya.


"Ya!" teriak Indira, "Ya! Semua itu memang salah kamu! Kenapa kamu hadir di hidup Aksa?Hah?!"


"Ma!"


Aletta menggeleng saat, Adrian mulai untuk mengutarakan pendapatnya lagi.


"Maaf. Maafkan saya." ucap Aletta menunduk, Adrian sontak menoleh ke arah Aletta yang bersimpuh meminta maaf pada mamanya itu.


"Kamu ngapain? Kamu gak usah segitunya, ayo berdiri!" titah Adrian.


"Kalau kamu memang merasa salah dan masih tahu diri, jauhi Aksa!"


"Durhaka kamu, Aksa!" hardik Indira, napasnya sudah tersengal-sengal, emosinya membuncah tak karuan melihat drama pasangan di depannya ini.


"Jangan pisahkan kami, Aksa tolong, Aletta gak punya siapa-siapa lagi." melas Adrian, ia bahkan ikut bersimpuh di sebelah Aletta dengan tangan tertelungkup.


"Aksa, kamu lawan mama demi perempuan murahan ini?"


"Dia gak murahan, Ma! Kalau dia di cap murahan itu karena aku, karena aku mencintai dia. Sehingga, dunia mengucilkannya. Aku yang salah." bela pria itu, bahkan Adrian mulai menitikan air mata.


Melihat itu, Indira semakin muak saja.


Ia menghentakkan kakinya, lalu pergi begitu saja tanpa mau menatap keduanya lagi.


Namun, baru sampai depan pintu penthouse itu, "Jangan anggap saya, ibumu!"


Brakk


Terdengar suara pintu di banting keras.

__ADS_1


Adrian mengusap wajahnya kasar.


"Maaf." lirih Aletta, seketika itu Adrian sadar bahwa cintanya itu pasti butuh ketenangan juga.


"Bukan salah kamu." ujarnya lembut, padahal hatinya juga berantakan.


"Aku pembawa sial, aku pembawa masalah, gak bagi Revan, gak bagi kamu, makannya aku di buang keluargaku sendiri." cerocosnya pilu.


Adrian menggeleng, tangannya menangkup wajah sembab itu dan menatapnya dalam, ia melabuhkan satu kecupan lembut di kening Aletta.


"Bagi orang lain mungkin kamu pembawa sial, tapi bagi aku kamu kebahagiaan aku, selamanya." ungkap Adrian, jujur Aletta di buat tersentuh karena itu.


Demi dia, Adrian sudah mengorbankan banyak hal, nama baiknya, keluarganya, banyak !


"Semuanya makin kacau, Sa!" rengek Aletta dalam pelukan hangat Adrian.


Baginya, Adrian adalah rumahnya sekarang.


Dalam waktu sehari saja, semuanya hancur, dimulai dari Bella, Rena dan malam ini, Indira.


Pikirannya melanglang buana, tentang bagaimana jika seluruh keluarga besar Adrian tahu, bagaimana kalau Tuan besar Wiratmadja tau semuanya?!


"Gimana, kalau semua keluarga kamu tau, kalau kita tinggal bareng?"


"Tenang ada aku."


"Kalau mereka marah? Melebihi dari mama kamu? Bahkan ngusir kamu?"


"Bumil harus tenang jangan banyak pikiran, oke?"


"Aksa?"


"Ya?"


"Makasih."


"Makasih terus, kapan kita nikah?" canda Adrian, Aletta mencebik dan memukul pelan dada bidang Adrian, lalu berdiri meninggalkan pria itu sendiri.


"Alettara, I Love You, forever never surrender!" teriak Adrian, di susul kekehan ringan.


Sedangkan disana, pipi Aletta yang sedang kabur itu merah padam, mendengar ungkapan Aksa, orang dari masa lalunya yang semakin berani saja menunjukkan cinta untuknya.


Semangatin aku dong guysss:)

__ADS_1


Pengin upp, tapi ga semangat soalnya gada yang nungguin hihii:)))


*Alettara aku mencintaimu selamanya takkan pernah menyerah


__ADS_2