
Kabut di kegelapan mulai turun, suhu menjadi semakin dingin, waktu menunjukkan dini hari , membuat Revan kian erat memeluk istrinya dari belakang setelah percintaan hebat mereka baru saja terselesaikan.
Pukul dua dini hari dan Revan baru membiarkan istrinya itu istirahat.
Sesekali, pria itu mengecup bahu terbuka sang istri yang sudah mengantuk.
Tapi sayang, kantuknya hilang saat sesuatu hal terlintas di pikirannya.
Aletta berbalik cepat mengahadap suaminya.
"Re, kamu tahu Adrian__
"Mantan pacar kamu?"
"Kok kamu tahu padahal aku belum cerita."
"Aku juga tahu semua yang kamu sembunyikan dari aku, tapi aku diam, nunggu kamu sendiri jujur sama aku." jelas Revan, tangannya tergerak menyingkirkan rambut nakal Aletta yang mengganggu wajah cantiknya.
Aletta menundukkan tatapannya, jadi Revan sudah tahu semuanya, tapi lelaki itu tak pernah sekalipun menghakimi dirinya, malah Revan menunggunya sampai mau bicara sendiri.
"Mas Bayu sering pinjam uang ke kamu kan?" celetuk Revan yang membuat Aletta kembali menaikkan pandangannya menatap sang suami.
"Aku juga tahu itu, gak apa-apa." ucap Revan saat menangkap rasa tidak enak yang terpancar dari ekspresi wajah istrinya.
Sebenarnya, soal Adrian, Revan juga baru tahu beberapa waktu lalu.
Saat pria itu mengatakan bahwa ia yang pertama bagi istrinya.
Sebenarnya, di saat itu Revan tidak tahu menahu, tapi ia pura-pura bersikap tenang seolah sudah tahu semuanya.
Baru setelahnya, ia meminta Kiran dan Dio untuk mencari tahu, kemudian mengaitkannya pada apa yang ia alami di saat malam pertama.
Jadi, ia menyimpulkan bahwa saat pertama kali istrinya adalah bersama pacarnya, Adrian.
Dan itu secara terpaksa.
"Re, waktu itu aku di paksa." ucap tiba-tiba, meski Revan menerimanya apa adanya ia tetap takut Revan jijik padanya, mengiranya wanita murahan.
"Aku juga tahu itu. Tapi, bukannya kalian pacaran?" tanya Revan hati-hati.
"Heem, tapi kamu tahu darimana?" tanya Aletta yang malah bertanya balik.
"Kalau soal Adrian mantan kamu, dari Kiran sama Dio, tapi kalau soal yang kamu sembunyikan dari aku, Aura yang bilang." jelas Revan santai.
"Hah?"
"Jangan marah sama Aura, aku yang maksa dia ngomong." kata Revan, setelah pertengkaran mereka, Revan tidak ngambek begitu saja ia juga mencari tahu, walaupun Kiran dan Dio kurang bisa di andalkan tapi lumayan lah bisa bantu-bantu.
"Itu sesuatu yang gak mau aku ungkit, aku terkadang merasa jijik sama diri ak___"
"Ssst!" Revan menaruh telunjuknya di bibir sang istri.
"Jangan pernah bilang gitu!" tukas Revan, ia tidak suka Aletta mengatai dirinya sendiri seperti itu.
"Maaf."
Aletta menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya yang tak tertutup kain seluruhnya.
"Jangan takut lagi sayang." bisik Revan dengan nada menenangkan, tangannya mengelus lembut punggung istrinya berharap itu bisa menyalurkan ketenangan.
"Asal ada kamu di samping aku."
jawaban itu membuat Revan tak tahan untuk tidak memberikan kecupan pada pipi Aletta yang memerah.
"Jadi, bener ya kata bunda kamu bersitegang sama Adrian. Cemburu yaa..." Goda Aletta.
"Tck! Ngeselin tahu gak dia, dari awal aku lihat dia aja udah gak suka, dia lihatin kamu gitu banget. Ternyata dia mantan kamu."
__ADS_1
ketus Revan.
"Ciyee, cemburu..."
"Nggak!"
"Masa sih? Yah kecewa aku." kata Aletta pura-pura memasang wajah sedih.
"Ngapain cemburu, tetap aku pemenangnya!" tukasnya percaya diri.
"Iya-iya."
🌼
🌼
🌼
🌼
"Aura, lo ngomongin apa aja sama Revan?" tanya Aletta penasaran, ia langsung membahasnya tepat saat mereka bertemu di warung pecel dekat kampus.
"Please, Ta. Nggak ada maksud gue buat berkhianat sama lo, sumpah!" ujar Aura takut sebab ia ingat kata-kata sahabatnya saat itu.
Jika sampai ada yang tahu soal traumanya dan Adrian maka sudah pasti satu dari mereka adalah penghianat.
"Lagian, gue gak tega sama dia, sama hubungan kalian juga yang gi__"
"Heh!" tegur Aletta agak keras, "Gue gak marah sama lo!" seru Aletta kesal, soalnya ia nanya baik-baik kok Aura malah ketakutan.
"Hah?Benaran?!"
"Iya, bawel! Bilang sama gue apa aja yang lo ceritain?"
"Tadinya nanyain soal lo, ada sesuatu yang gue tahu gak, yang di sembunyikan sama lo, tapi disitu gue belom ngaku, sampai akhirnya dia nanyain soal Adrian, kenapa Adrian bilang Adrian yang pertama buat lo, terus gue terpaksa cerita deh. Maaf, daripada ntar suami lo salah paham lebih jauh lagi." jelas Aura panjang lebar.
Aletta mengangguk mengerti, "Ya, bener sih andai lo gak bilang tentang kejadian itu, mungkin Revan bakal ngira gue semurahan itu." ucapnya lesu.
Kenapa takdirnya begini, ia harap dulu jika Adrian yang pertama maka Adrian lah satu-satunya dan selamanya.
Tapi, pria itu meninggalkannya keesokan harinya.
Dan sekarang, ia kurang terima bahwa suaminya bukan yang pertama baginya.
"Ikhlas, lupain, damai sama masa lalu." saran Aura sambil mengelus bahu Aletta lembut.
Aura tahu, itu bukan pengalaman yang baik bagi seorang Aletta si perfeksionis.
Perempuan yang selalu disiplin dan menjunjung tinggi harga dirinya.
Harus kehilangan harga dirinya saat setelah kelulusan.
"Tapi, waktu gue lakuin itu sama Revan, kok sakit ya?" bisik Aletta pada Aura.
"Ta! Kok lo bahas gituan sihh!" rengek Aura yang merasa telinganya ternodai.
"Ih, gue kan cuma nanya."
"Ya kan dulu lo cuma sekali terus udah lama kan gak nganu jadi___"
"Pelan-pelan, anjir!" potong Aletta sambil membungkam mulut Aura dengan tangannya.
"Ya kan gue cuma jawab!" ucap Aura belepotan karena ia masih berusaha menyingkirkan tangan temannya itu dari mulutnya.
"Ya jangan kenceng-kenceng jawabnya!" sahut Aletta kesal.
🌼
__ADS_1
🌼
🌼
🌼
"Adrian?" lirihnya saat melihat pria itu bersandar di mobilnya.
"Ngapain kamu disini, Kiran mana?!" bentaknya, sambil matanya mencari sopir sekaligus penjaganya itu.
"Tara, please dengerin aku!"
"Nggak! Aku udah nikah gak ada yang harus di bahas lagi!" tukas Aletta tegas.
"Tara..."
"Jangan panggil gue ,Tara!" hardik Aletta dengan mata menatap tajam ke arah Adrian dan telunjuknya ia gunakan untuk menunjuk ke arah pria itu.
"Mundur!" teriak Aletta, tapi Adrian masih mencoba maju seiring dengan kakinya yang berjalan mundur.
"Mundur gue bilang! Gue benci liat muka lo!" teriak Aletta frustrasi, untung keadaan di sekitarnya sepi.
Hati Adrian terasa tercubit, Alettara yang selalu bersikap manis, Alettara yang lugu dan lucu di matanya, Alettara yang terkadang manja padanya sekarang sangat membencinya.
"Please, dengar aku sekali aja!" pinta Adrian, ia mencekal tangan Aletta yang hampir saja berbalik meninggalkan dirinya.
"Maaf! Aku cuma gak mau kehilangan kamu jadi aku terpaksa melakukan itu supaya kamu tetap jadi milik aku meski kita berjauhan!" jelas Adrian tegas, ia memeluk Aletta dari belakang erat, sangat erat karena perempuan itu terus memberontak.
"Aku lakukan itu supaya kamu tetap jadi milik aku." ulang Adrian yang kini menaruh dagunya di bahu Aletta yang bergetar karena menangis.
"Yang kamu lakuin itu, menghancurkan mental aku, menghancurkan cinta aku ke kamu, kepercayaan aku ke kamu, semuanya!" ucap Aletta pelan, namun tegas penuh penekanan di setiap nada yang terucap menggambarkan emosi dirinya selama ini.
"Lepas!"
"Gak!"
"Lepas!" Aletta berhasil melepaskan pelukan Adrian setelah menyikut perut pria itu.
"Tara! Apa gak ada perasaan yang tersisa buat aku, hah?!" tanya Adrian, Aletta berhenti sekejap, namun ia kembali melangkahkan kakinya dan berlari jauh dari area parkir.
Aletta yakin, bahwa perasaannya pada pria itu telah habis setelah hari terburuk dalam hidupnya itu.
Tapi, Adrian yakin bahwa cinta Aletta masih tersisa meski secuil untuk dirinya.
Ia hanya perlu sedikit usaha lagi untuk membangkitkan seluruh cinta di hati perempuan itu untuknya.
Matanya menatap nanar punggung Aletta yang semakin jauh karena perempuan itu berlari.
Berlari menjauhinya.
Padahal, dulu Alettara itu selalu berlari mendekati dirinya, memeluknya.
Berlari mendekati dirinya dengan senyum cerah yang menyambutnya.
Sekarang, semuanya habis!
Caranya sudah salah!
Dirinya terlalu bodoh!
Pikirannya di usia itu sudah membodohi dirinya !
Spam bunga mawar okeee?
oke doonggg
biar makin semangat update nyaaa
__ADS_1
vote jangan lupaaa