
Revan tidak begitu menganggap penolakan Aletta dengan serius, ia mencoba mengerti mungkin suasana hati Aletta tidak baik karena ucapan Celine, mungkin?
"Re, aku boleh ajak temen-temen kesini nggak?" tanya Aletta sambil agak berjinjit memasangkan dasi untuk sang suami tercinta yang tampan tiada tandingannya.
Di matanya sih, gak tau kalau di mata orang lain.
"Teman yang mana?" Revan mengangkat Aletta dalam gendongannya, "Dasar pendek!" ejek Revan.
"Ih! Enak aja, aku gak pendek yang ada mah kamu tuh ketinggian kaya tiang listrik." balas Aletta tak terima, tapi tak urung tangannya melingkar di leher suaminya.
"Iya-iya yang pendek."
"Revan!"
"Ale!"
"Tck!" decak Aletta, Revan menurunkan Aletta tepat saat mereka sampai di ambang pintu, pria itu menangkup kedua pipi istrinya menekannya hingga bibir Aletta jadi maju mengerucut seperti bebek.
Revan mengecup bibir bebek, eh maksudnya bibir Aletta yang seperti bebek itu sambil tersenyum.
"Aku kerja dulu jangan nakal di rumah." pesan Revan.
"Sayang nanti aku ada kelas jam sembilan, terus aku boleh gak ajak temen-temen?" tanya Aletta dengan manjanya.
"Teman yang mana dulu."
"Memang teman ku ada berapa? Cuma mereka saja kok. Riri, Aura, Flora, tambahan Adinda mungkin?" jawab Aletta sambil menghitung jumlah temannya.
"Iya-iya boleh, ini kan rumah kamu."
"Yeay! Makasih, aku cinta kamu!" seru Aletta sambil mengecup pipi suaminya.
"Ale!" istrinya ini sekarang mulai nakal, mana dia harus menahan diri karena akan pergi ke kantor.
"Hehe.. semangat kerjanya kamu harus kerja, bye suami!"
"Hmm iyaa." balas Revan datar.
"Jangan marah gitu dong nanti gantengnya hilang, pulangnya bawa jajan ya!" pesan Aletta lagi sambil mendorong Revan agar segera berangkat bekerja.
...****************...
"Bagus rumah baru lo, Let." Riri berdecak kagum melihat rumah Aletta yang bergaya modern.
"Lat let lat let, emang gue ulet!" dengus Aletta kesal.
"Seneng lo sekarang, suami ganteng, kaya lagi." sahut Flora sambil mengamati sekeliling halaman belakang rumah.
Ya, mereka dari tadi berkeliling dan sekarang sudah sampai di halaman belakang yang juga banyak bunga, Revan tahu banget sih kalau dirinya suka bunga.
__ADS_1
"Gue bersyukur banget sih, punya Revan yang selalu jaga dan lindungi gue, untung gue nikahin." canda Aletta.
Mereka bersantai bersama di sebuah gazebo kayu.
"Au!" panggilnya pada Aura yang sibuk dengan ponselnya.
"Apaan!"
"Gue ketemu Adrian." ujarnya lirih, malas sekali ia menyebut nama lelaki bajingan itu.
Adrian itu adalah mantan terkahirnya yang membuatnya malas berpacaran lagi setelahnya.
"Hah?!" teriak semuanya serentak, walaupun tidak sedalam Aura, namun sedikit banyak Flora dan Riri tahu soal Aletta.
"Terus-terus?" desak Riri.
"Nabrak!" sahut Adinda.
"Serius!" seru gadis imut itu.
"Pura-pura gak kenal, benci banget gue liat mukanya cuma bikin gue inget sesuatu yang paling memalukan dalam hidup gue, cuma kalian yang tahu soal itu da___"
"Revan gak tahu?" tanya Adinda sambil minum es teh yang di suguhkan.
Aletta hanya menggeleng lemah.
"Cepat atau lambat, dia harus tahu karena dia suami lo, orang yang hidup sama lo!" saran Flora.
Aura menyentuh bahu Aletta, mengusapnya pelan, "Dia gak akan jijik,kalau emang dia cinta sama lo apa adanya, tenang, jujur lebih baik daripada dia tahu dari orang lain."
"Nggak akan ada orang lain yang kasih tahu dia, kecuali salah satu dari kalian bocor." kata Aletta yang membuat semuanya jadi menegang.
Ucapan Aletta terdengar seperti sebuah peringatan.
...****************...
Aletta termenung sendirian, ia duduk di pinggiran kolam renang mencelupkan kakinya lalu menggoyangkan kakinya.
Namun, pandangannya kosong.
Pikirannya bergelut sebab saran dari sahabat-sahabatnya tadi.
Ia harus bagaimana?
Jujur? Dirinya takut Revan tidak akan mau dengannya lagi!
Sedangkan ia sudah terlanjur cinta pada pria itu.
"Ale!" terdengar gema suara Revan memanggil namanya, namun ia memilih diam karena sibuk dengan pikirannya.
__ADS_1
"Kamu disini?" suara Revan kali ini sukses membuatnya menoleh ke arah pria itu, Aletta langsung bangkit dan berlari ke arah Revan.
"Hey pelan-pelan, kakimu basah kalau kepeleset gimana?!" Revan menatap ngeri pada Aletta yang berlari ke arahnya lalu menubruknya dengan pelukan.
"Hey, kangen ya?" goda Revan, namun Aletta sedang malas bercanda, perempuan itu hanya mengangguk dalam pelukan Revan.
"Revan?"
"Ya?"
"Kamu cinta sama aku apa adanya?"
"Kenapa tanya kaya gitu?"
"Tinggal jawab apa susahnya!" rajuk Aletta yang masih betah bersandar di dada suaminya.
"Iya sayang, aku cinta kamu apa adanya aku terima semua kekuranganmu jug__"
"Apapun itu?"
"Ya, apapun itu!" jawab Revan yakin, entah kenapa Aletta tiba-tiba bertanya seperti itu.
"Kamu percaya sama aku?" kini Revan yang bertanya.
"Nggak ada alasan untuk nggak percaya sama kamu, lelaki terbaikku." Revan tersenyum bahagia mendengar jawaban Aletta, ia semakin mendekap erat tubuh istrinya tercinta.
"Jangan kuat-kuat, sesek!" protesnya seraya memukul pelan dada bidang suaminya.
"Maaf, hehehe."
"Revan?"
"Apalagi sayangkuu?" sahutnya gemas.
"Mau aku gak hari ini?"
tanpa menjawab ataupun banyak bicara, Revan langsung menggendong Aletta sambil menciumi bibirnya.
Ciumannya terus berlanjut hingga Revan membawanya ke sofa coklat yang ada di ruang tengah.
Yang sepertinya akan menjadi saksi bisu percintaan kedua mereka.
"Aku mencintaimu, Re." ungkap Aletta di sela ciuman mereka yang menggebu.
Revan sudah sangat merindukan ini, percintaannya dan istrinya.
Revan membalas ungkapan cinta itu dengan setiap sentuhan lembut yang membuat Aletta semakin yakin bahwa cintanya untuk Revan kini, lebih besar daripada ketakutannya.
**pendek dulu deh bingung banget
__ADS_1
makasih yang udah mampir buat baca kisah Revan dan Aletta 💖💖💖💖
Membosankan gak sih**??