
Mereka berbincang-bincang, dengan banyak orang di pesta itu.
Beberapa kali juga mereka menyambut sapaan dari rekan bisnis Anggara yang mengenali Revan sebagai pewaris perusahaan.
Tak lupa mereka juga bertemu dengan Tuan Dinegara, alias bapaknya Gara.
Dan juga, Celine kalau tidak salah Aletta dengar nama perempuan itu Celine, perempuan yang memandang suaminya penuh minat.
"Istri kamu?" tanya Celine dengan gayanya yang elegan, ya Celine selalu elegan dirinya bukan cuma wakil ayahnya di perusahaan, tapi dia juga pemilik brand kosmetik dan pakaian atas namanya sendiri Dceline, yang menjadikan Bella sebagai brand ambassador.
"Iya, istriku, Aletta." jawab Revan memperkenalkan Aletta dengan bangga.
Celine memperhatikan Aletta dari atas ke bawah membuatnya jadi risih, Revan yang menyadari itu sejujurnya kurang suka.
"Cantik ya, kerja dimana?" tanya Celine basa-basi sekaligus kepo.
"Saya masih kuliah." jawab Aletta singkat, Aletta mencium aroma-aroma bahwa dirinya akan di rendahkan sekarang.
"Kuliah? Aku pikir kamu seusia dengan Revan."
"Y-ya karena saya bekerja lebih dulu baru lanjut kuliah." terangnya.
"Bekerja? Di perusahaan mana? Apa kamu juga anak dari salah satu pemilik perusahaan besar seperti Revan dan teman-temannya?" tanya Celine sengaja, meski dirinya tahu bahwa istri Revan cuma gadis biasa.
"Tidak, aku cuma orang biasa. Ayahku bukan pemilik perusahaan manapun." jawabnya tegas, tidak ingin terlihat bahwa dirinya tertindas, meski dugaannya benar bahwa dirinya akan terlihat sangat aneh bersanding dengan Revan di pesta ini yang lingkungannya jauh-jauh berbeda darinya.
"Maaf, aku kira karena, kamu tahu kan pergaulan kami ya__"
"Iya aku mengerti." potong Aletta, mungkin Celine agak aneh bagaimana gadis miskin seperti dirinya menikahi seorang anak konglomerat.
"Bukankah agak aneh, maksudku Revan seorang yang berprestasi menikah dengan gadis biasa saja yang__"
"Gara saja seusia dengan aku tapi dia masih belum selesai kuliah dan satu lagi Aletta bukan gadis biasa, dia satu-satunya perempuan yang mampu menaklukkan hati saya." sela Revan, tangannya mempererat genggamannya pada Aletta, ia tidak akan membiarkan ada sela sedikitpun untuk istrinya di hina.
Aletta menatap Revan tak percaya, ia beruntung berada di sisi Revan yang melindunginya.
Revan semakin tidak suka dengan arah pembahasan Celine.Cuma, bagaimana lagi ia memandang Gara sebagai sahabatnya, jadi ia tak mau menegur Celine atas itu.
"Ngomong-ngomong, kamu pakai brandku, aku sangat bangga akan hal itu. Istri dari wakil presiden direktur yang terkenal jenius dan tampan, memakai karyaku."
Aletta langsung melayangkan tatapannya pada Revan, seolah bertanya, benarkah?
"Ah benarkah ini?" sahut Aletta sambil mengamati pakaiannya, "Ah ya, tentu saja suamiku pasti akan memberikan yang terbaik untukku." lanjut Aletta sambil tersenyum paksa, untuk formalitas saja, hehe.
"Bahkan aku akan memberikan yang jauh lebih baik dari ini jika istriku mau." sahut Revan yang membuat Celine nampak tak suka, matanya memancarkan ketidaksukaan namun ekspresinya?
Celine tetap bersikap profesional meski kecemburuan menyergap relung hatinya.
"Kak!"
Celine menoleh saat mendengar panggilan dari seseorang yang ia kenal.
"Bella!" Celine langsung memeluk hangat perempuan cantik itu, sedangkan Aletta yang sudah bosan hanya mendengus malas karena bertemu dengan orang yang sama yang hanya akan membicarakan basa-basi tidak penting.
Namun, satu yang menarik perhatiannya, Bella bersama seseorang yang dirinya kenal.
"Hey, Aletta kita ketemu lagi!" sapa Bella dengan ceria, oke!
__ADS_1
Aletta akui meski Bella aktris terkenal tapi perempuan itu sangat ramah.
"Kalian kenal?" tanya Celine penasaran sambil menunjuk keduanya bergantian.
"Tadi kenalan waktu nyamperin kak Saga." jawab gadis itu.
"Sayang! Maaf aku terlambat." panggil seseorang yang suaranya akrab di telinga Bella dan juga di telinga Aletta.
Tubuhnya menegang saat melihat siapa yang kini dengan entengnya merangkulkan tangannya di pundak Bella.
"Kenalin, Adrian pacar aku!" dengan antusias gadis itu mengenalkan seorang lelaki yang ada di dekatnya, bersamaan dengan itu Aletta hanya bisa diam mematung.
"Ini tidak penting dan bukan urusan kita, ayo pergi saja."bisik Revan pada Aletta, Aletta lega karena Revan tidak suka situasi yang juga tidak ia sukai.
"Nona Celine, Bella, kami pamit istriku sudah lelah sepertinya." pamit Revan.
"Silahkan, kalau begitu, aku akan bertemu dengan rekan yang lain." ujarnya, lalu pergi terlebih dahulu karena yah sesungguhnya ia gerah melihat pria yang ia sukai bersama istrinya.
"Kenapa cepat sekali ini masih jam sembilan, Van, Aletta?" kata Bella, yang sepertinya tidak rela mereka pulang.
"Iya, kenapa cepat sekali, aku bahkan baru datang." sahut Adrian yang kini mencuri pandang terhadap Aletta, sedangkan Aletta sendiri?
Dirinya menunduk dan merapatkan dirinya pada Revan karena tak mau bersitatap dengan lelaki itu.
"Dan kita bahkan belum berkenalan." sambung Adrian mengedipkan sebelah matanya, itu merujuk pada Aletta yang cuma menunduk saja.
Tangan pria itu bahkan sudah terulur untuk berjabat tangan pada Aletta.
"Maaf, sepertinya tidak ada sesuatu yang menguntungkan jika kita berhubungan dekat bukan? Jadi kenapa anda harus berkenalan dengan istri saya?" sinis Revan menyingkirkan tangan Adrian yang cuma melayang tanpa mendapat sambutan dari Aletta, apalagi ia sadar tatapan Adrian pada istrinya dan ia tidak suka!
Revan selalu sadar bagaimana setiap pria muda yang ia temui di pesta ini melirik istrinya.
"Sayang, temanmu itu sombong sekali." bisik Adrian pada Bella dengan matanya yang tak lepas dari Aletta dan Revan yang sudah berjalan menjauhi mereka.
"Revan memang dingin jika tidak begitu mengenal seseorang." jawab Bella asal, tapi benar Revan itu hanya bersikap hangat dan humoris pada sahabat dan keluarga saja, karena itu Bella dulu tidak terlalu dekat dengan Revan, sebatas tahu jika Revan teman kakak sepupunya.
Padahal, dulu ia berharap bisa berpacaran dengan teman kakak sepupunya yang paling tampan itu!
"Lagian kenapa nanyain istrinya coba?!" rajuk Bella.
"Emm, istrinya sangat cantik."
"Dasar menyebalkan!" ketus Bella, bisa-bisanya pacarnya malah memuji perempuan lain.
...****************...
Aletta menaruh tasnya asal di atas meja rias, ia melepas jepitan rambut dan mulai menghapus make-up yang menempel di wajahnya.
Melepaskan satu demi satu perhiasan yang menempel di tubuhnya, antingnya, cincin, dan juga, "Biar aku bantu."
Revan membantu Aletta untuk melepaskan kalung pemberiannya tadi, setelah ia melihat istrinya kesulitan melepas itu.
"Terimakasih." kata Aletta.
"Sama-sama sayangku." jawab Revan lalu mencuri kecupan singkat pada leher jenjang sang istri.
"Re, lepas aku mau mandi, gerah!" protesnya saat pelukan Revan menghalangi gerakannya yang ingin pergi mandi.
__ADS_1
"Mandi bersama?"
"Sendiri!"
"Aku ikut!" rajuk Revan yang membuat seulas senyum lebar tercipta di wajah cantiknya.
"Nggak, Re!" decak Aletta sebal padahal aslinya tidak sebal juga sih.
"Ikut, Ale!"
"Nggak!"
"Ikut!"
"Suamiku sayang__"
"Istriku sayang."
"Revan!"
"Ale"
"Tck! Stop! Aku bukan merk minuman!" decaknya yang mulai jengah.
"Habis yang waktu itu kita belum pernah ngulang lagi loh." kata Revan yang kini menempatkan kepalanya di tempat favoritnya, bahu Aletta.
"Ngulang apaan sih!"
Jujur, Aletta sebenarnya paham maksud Revan cuma dia pura-pura tidak tahu saja.
Soalnya, Aletta tidak sedang dalam suasana hati yang baik.
"Aku mau kamu malam ini sayang." bisik Revan di telinga Aletta, bahkan pria itu meniup belakang telinganya pelan, kemudian menggigit kecil daun telinga istrinya.
Darah Aletta serasa berdesir dan tubuhnya memanas karena rangsangan yang suaminya lakukan.
"Tapi, aku capek, Re." keluh Aletta, padahal bukan itu alasannya yang sesungguhnya.
Ia menyesal menolak suaminya, tapi ia juga takut berbuat hal yang akan lebih mengecewakan Revan jika ia memaksakan diri.
Lagian, untuk apa sih?
Dan kenapa dirinya harus bertemu lagi dengan Adrian?!
"Yaudah kalau gitu, kamu mandi gih!" Revan mengalah, ia memilih menjauhkan dirinya dari Aletta meski sebenarnya ia rindu, rindu mengulang saat itu.
Tapi mau bagaimana lagi?
Maafin aku, Revan.
ucapan Aletta yang hanya tertahan dalam batinnya saja.
Double up guys
maaf kalau part ini gak jelas bangett yaa
Huh!
__ADS_1
Satu kata buat Aletta ???