My Lazy, Rich Man

My Lazy, Rich Man
MLRM : Gengsi


__ADS_3

Revan terbangun sebab sinar matahari yang lancang mengganggu tidurnya, namun sialnya ia terbangun dengan kepala yang terasa pening.


Ia memperhatikan sekeliling, 'Aku di rumah?' batinnya, saat menyadari interior ruangan yang sangat ia pahami.


Revan mengingat-ingat kapan dirinya pulang ke rumah, perasaan kemarin ia mampir dulu ke club terus...


"Adrian!" gumamnya geram, otaknya kembali mengingat kata-kata Adrian yang membuatnya emosi sampai kehilangan kontrol dan minum berlebihan.


"Tck! Tahu apa memang dia soal istriku, dasar sok tahu!" umpatnya, ia ingat jelas bagaimana pria itu menyulut emosinya dengan membicarakan istrinya dan bersikap seolah betapa dia sangat tahu tentang istrinya.


Ah iya, istrinya!


Ia sekarang di rumah pasti ada istrinya!


"Ale!" ia beranjak dari ranjang dan memanggil nama istrinya itu, meski sambil menahan sakit kepalanya ia tetap berusaha menemukan dimana istrinya itu.


Ia berhenti berteriak saat matanya menangkap sosok perempuan yang dengan cekatan menaruh semangkuk sup yang masih mengepulkan asap di atas meja makan.


"Kamu udah bangun?" sapa Aletta yang menghampiri Revan.


"Pusing?" tanyanya lagi.


"Sedikit." sahutnya, Aletta meraih tangannya dan di bawa dirinya untuk duduk di depan meja makan.


Mereka makan bersama-sama, jujur saja, sebenarnya Revan sangat merindukan rasa masakan istrinya ini.


Ia makan dengan lahap.


Aletta senang melihat itu sampai lupa memakan makanannya sendiri, "Aku kangen kamu." ucap perempuan itu tiba-tiba, Revan berhenti mengunyah makanannya dan mendongak ke arah istrinya, yang ternyata sedari tadi hanya menatapnya saja.


Terbukti dari makanan di piringnya yang masih utuh.


Sebenarnya, dalam hatinya, Revan sangat girang mendengar ungkapan kerinduan dari istrinya itu, hanya saja....


"Makanlah." sahutnya cuek.


"Revan, kamu gak kangen aku?"


Revan belum pernah merasa se-gengsi ini sebelumnya untuk mengatakan perasaannya pada Aletta.


Cuma kali ini, ia bahkan sangat gengsi untuk bilang bahwa ia rindu Aletta.


"Biasa aja." balasnya kemudian, Aletta langsung kecewa, namun ia tetap tersenyum.


Sakit.


Rindunya tak berbalas dan itu sakit.


Padahal, rasanya ia sudah sangat haus akan pelukan Revan.


"Oh iya, terimakasih hadiahnya aku suka." celetuknya, berusaha mencairkan suasana.


Huh!


Revan ini kenapa jadi dingin pada Aletta sih?


Padahal niatnya cuma mengetes, kenapa jadi bablas?


"Sama-sama, tentu bagus karena kamu sangat menyukai boneka sapi." jawab Revan dan ini jawaban terpanjang selama mereka berbicara.


"Kalungnya juga cantik." sambung Aletta dengan senyum penuh di wajahnya.


Cantik.


Revan ingin mencubit pipi Aletta karena gemas ,tapi ia gengsi.


"Kalung?" tanya Revan heran, tentu saja heran, ia tak merasa mengirim hadiah berupa kalung apapun.


"Belum aku pakai, nunggu kamu yang pakaikan." lanjut Aletta, sedangkan Revan hanya mengernyitkan dahinya, ia bingung cuma enggan bertanya.


Revan cuma mengangguk pelan dan melanjutkan makannya.


🌼


🌼


🌼


Kiran sedang kesal bukan main, ia jadi terjebak di situasi yang tidak menguntungkan gara-gara kecerobohan atasannya.


Dio baru saja di marahi Tuan Anggara karena tidak bisa mengendalikan Revan yang sembarangan dalam membuat keputusan, hanya karena masalah pribadi.


Dan Si Cristian Aldio itu akhirnya menumpahkan kekesalannya pada Kiran.


Terus.....


"Lihat! Betapa aku di permainkan sekarang." omelnya saat melihat nama CEO Wiratmadja Group yang terpampang di layar ponselnya.


Ia enggan mengangkatnya dan memilih menyeruput es teh nya sampai habis hingga berbunyi srot-srot.


Matanya teralihkan lagi saat layar ponselnya kembali menyala.


CEO Wiratmadja Group


- Angkat atau kau tahu akibatnya!


"Cih mengancam dia. Semua bos sama saja menyebalkan!" dengusnya sebal, ia berakhir dengan menjawab telepon itu dimana ia di manfaatkan seorang pria sempurna yang mengejar istri orang!


"..."


"Maaf. Pak saya tidak bisa melakukan ini lagi."


"..."


"Saya pikir perjanjian kita cuma sekali, tidak terus menerus seperti ini."

__ADS_1


"..."


"Tidak ada surat kontrak yang menjelaskan tentang saya harus menurut pada Bapak terus menerus." jawabnya kesal, Kiran pikir sudah setimpal, CEO itu tetap bekerja sama dan ia sudah melakukan syaratnya kemarin.


Ya masa dia menjadi perantara perusak rumah tangga atasannya sendiri sih?!


"Cakep-cakep doyannya istri orang." cibirnya, yang kini sedang mengomeli ponselnya sendiri setelah panggilan itu berakhir.


Hadeh, Kiran benar kan?


Mending, Adrian sama author aja yakan???


Setuju kan semua??


🌼


🌼


🌼


🌼


"Alex!" teriak Adrian kesal, Alex muncul dengan buru-buru mengira bahwa ada hal darurat yang terjadi.


"Iya, Tuan Muda. Ada yang bisa saya bantu?"


"Bisa kerja sama kita dan perusahaan si Revan sialan itu di batalkan?"


Alex langsung membelalakkan matanya kaget, "Apa? Jangan, kakek anda bisa marah." sahutnya gelagapan.


Hubungan antara dua perusahaan itu bukan hubungan yang baru, tapi antar keduanya sudah saling percaya.


Tanpa Adrian tahu, Anggara dan Bramasta, ayahnya itu adalah sahabat dekat.


"Tapi untuk apa sih, kan bukan semata-mata karena keuntungan, jadi gak rugi kan kalau kita___"


"Aksa!" teriak seorang wanita yang nyelonong masuk ke ruangannya begitu saja.


"Nggak bisa!" hardik wanita itu.


"Apa sih, Mama ini." keluhnya saat Mamanya itu menjewer telinganya.


"Jangan macem-macem, kamu ini baru jabat sebentar belum ada sebulan udah yang aneh-aneh aja." oceh Indira, mama Adrian.


"Aneh apa sih!" pekiknya sebal, sedangkan Alex hanya bisa menunduk menahan tawanya.


Sedingin-dinginnya Adrian, ia pasti kalah dengan tingkah gila Mamanya.


Mamanya memang agak laen.


"Om Anggara itu temennya Papa, Aksa..."


"Bodo amat! Yang temennya Om Anggara itu kan Papa bukan Adrian!" elaknya kesal.


"Nurut!" hardik sang Mama, "Kerja yang benar, jangan sampai kakek kamu suruh Sean yang jadi pewaris selanjutnya."


Iyalah!


Mana berani kakeknya memberikan tampu kekuasaannya pada Sean yang tidak kompeten.


Adrian di tunjuk langsung sebagai CEO tentunya karena ia kompeten.


🌼


🌼


🌼


🌼


🌼


'Gak ada salahnya kamu insiatif buat ajakin duluan.'


Kira-kira begitu ucapan Bunda Rena yang terus terngiang-ngiang di pikirannya sejak tadi.


"Apa iya gak apa-apa? Duh malu!" cicitnya gusar, Aletta sibuk mondar-mandir di kamarnya, sedangkan Revan?


Revan belum pulang, tadi siang pria itu pamit pergi sebentar karena ada urusan.


Sebentar apanya, ini lho sudah jam delapan malam, sedangkan Revan pergi dari siang!


Kalau saja situasinya pria itu tidak sedang ngambek, pasti Aletta sudah ngambek di buatnya.


Dengan ragu, tangannya membuka lemari dan mengambil satu set pakaian tidur yang sangat terbuka.


Itu adalah pemberian mertuanya, waktu awal-awal pernikahan tapi ia hanya menyimpannya tanpa berniat memakainya.


"Ngeri banget." ujarnya meringis melihat model pakaian itu.


Tapi setelah dipikir-pikir, ia harus membujuk Revan yang sudah terlanjur marah padanya.


Dengan ragu, Aletta menaruh pakaian itu di atas kasur, kemudian ia akan mandi terlebih dahulu.


Revan mendengus kesal sambil memasuki rumahnya dan Aletta.


Kesal, ayahnya kan sudah di beritahu alasannya berbicara tidak sopan pada Adrian adalah karena Adrian itu suka pada menantunya.


Lha kok, tetap saja kena marah.


Revan mengacak rambutnya asal secara kasar, pergi dari siang sampai malam cuma di ceramahi terus malah di ajak ketemuan dengan teman ayahnya, yang mana adalah Bramasta Wiratmadja, ayahnya Si Adrian kampret.


Masuk kamar, Revan menaruh kunci mobilnya di nakas yang terletak dekat pintu kamar.


Kemudian, ia berbalik untuk menuju kamar mandi, ia rasanya sudah sangat gerah.

__ADS_1


Baru saja ia mau membuka pintu kamar mandi, Aletta begitu saja muncul dengan hanya menggunakan handuk saja yang panjangnya cuma sampai atas lutut.


Revan menelan ludahnya kasar, tidak di pungkiri bahwa ia sangat merindukan istrinya.


"Kamu udah pulang?" tanya Aletta yang sebenarnya juga kaget melihat suaminya sudah di depan pintu.


Sial !


Rambut basah Aletta yang di singkap ke satu sisi dan air yang menetes melewati kulit leher di sisi lainnya membuat hasrat lelakinya bergejolak.


"Dari mana? Capek ya, mau mandi air hangat?" tanya Aletta, sebab suaminya bukan menjawab malah diam saja sambil melihat dirinya.


"Ehemm, gak usah tadi dari ketemu relasi bisnis sama Ayah." jawab Revan dengan suara yang berat, tenggorokannya tercekat dan jantungnya sudah berdebar tak karuan.


Raut wajah istrinya yang polos dan manis itu semakin membuatnya sulit untuk tidak menyentuh sang istri.


"Yaudah aku mau pakai baju dulu, mandi gih!"ujar Aletta berjalan melewati Revan yang masih diam mematung.


Aletta berniat memakai pakaiannya yang tadi tapi, "Kenapa masih disitu? Nggak jadi mandi?" tegurnya saat dari ekor matanya ia masih melihat Revan yang tetap diam.


"Atau butuh sesuatu yang lain?" sambungnya lagi, yang membuat Revan berbalik ke arah suara Aletta berasal.


Revan mengangkat satu alisnya, lalu menggeleng pelan, " Sudah aku bilang, aku tidak ingin mandi air hangat." jawab Revan dengan bahasa formal dan itu membuat hati Aletta sedikit tercubit.


"Yang aku maksud bukan itu, t-tapi mungkin kamu butuh sesuatu yang lain?" ucap Aletta gugup, pelan-pelan kaki jenjangnya mendekati suaminya yang masih diam di tempatnya.


"Contohnya ini." ujarnya, kemudian ia berjinjit untuk meraih bibir tebal suaminya dan berhenti di bibir itu cukup lama.


Menyadari, jika Revan tidak merespon ciumannya, Aletta melepaskan tautan bibirnya tangannya ia kalungkan pada leher sang suami.


Matanya menatap mata indah Revan dalam, ada kekecewaan terpancar di mata bulat perempuan itu dan Revan menyadarinya.


"Maaf, harusnya aku gak lakukan ini, aku gak tahu diri banget, aku murahan ya?" ucap Aletta dengan suara parau, Revan tahu suara itu menahan tangis.


Istrinya ini sangat cengeng!


Aletta melepaskan kedua tangannya dari leher jenjang suaminya, ia menunduk malu dan kecewa.


"Hey, kamu ngomong apaan sih?" Revan meraih dagu perempuan itu agar mau menatapnya lagi seperti tadi, apa ini?!


Dirinya telah menghancurkan kepercayaan diri istrinya,yang mungkin sudah susah payah perempuan itu bangun, untuk membujuknya.


"Kamu pasti berpikir aku murahan sekarang karena meminta itu ke kamu." ujar perempuan itu meski kepalanya mendongak namun bola matanya tak mau melihat ke arah suaminya.


Malu, dirinya malu!


"Kamu juga tahu kan sebenarnya aku__ hiks, pas malam pertama kita, kamu tahu kamu bukan yang pert___"


Cup


Revan membungkam Aletta yang masih terisak itu, tidak!


Ia tidak tahan jika istrinya mengatakan kekurangannya, itu pasti menyakitkan baginya dan Revan tak suka Aletta tersakiti.


Revan menciumnya lembut seolah menyalurkan ketenangan pada Aletta, tangannya memeluk erat istrinya itu.


"Bagiku, aku yang pertama buatmu. Dengar, aku yang pertama buatmu!" bisik Revan tegas tepat di telinga Aletta.


Revan melonggarkan pelukan mereka, "Dengar, cuma aku yang berhasil mendapatkan itu dengan cinta dan persetujuan darimu, jadi akulah yang pertama."


Aletta, menatap haru suaminya, Revan benar-benar pasangan yang terbaik dan ia beruntung mendapatkan pria itu sebagai suaminya.


Tanpa ragu, Aletta menghamburkan diri ke pelukan suaminya.


"Aku kangen, aku sayang kamu, jangan tinggalin aku lagi, aku mohon." cerocosnya dalam dekapan hangat sang suami.


Bahkan sekarang kemeja navy Revan sudah basah oleh air mata istrinya.


Tangan kekarnya mengelus lembut surai hitam sang istri, sesekali ia mengecupnya sayang.


"Maafin aku, aku masih saja belum bisa jadi istri yang baik." ungkap Aletta.


"Aku cuma butuh kamu jujur sayang, aku cuma mau kamu berbagi semuanya sama aku, supaya aku merasa berguna sebagai suami."


"Aku malu, kamu tahu soal itu tapi kamu cuma diam tanpa ngomong sama aku, kamu gak marah sama aku, ka___"


"Buat apa aku marah, aku menerima istriku apa adanya dan mencintai setiap kekurangannya." potong Revan, ia menangkup wajah cantik itu dan menatap dalam mata bulat istrinya.


"Sekarang kamu harus janji ya? Janji apapun yang terjadi jangan ragu untuk berbagi semuanya ke aku."


Aletta tersenyum lebar dan mengangguk, "Iya aku janji, kamu juga janji tetap disini sama aku ya?"


"Pasti!"


Merasa ada yang salah dan aneh, Aletta melepaskan diri dari pelukan suaminya,


"Ehm, Re aku belum pakai baju." ucap Aletta canggung, dari tadi mereka melakukan drama, ia lupa tenyata ia belum mengenakan apapun selain handuk.


"Nggak usah!" ucap Revan tegas, menarik Aletta kembali hingga menempel dengan tubuhnya, ia peluk erat pinggang sang istri, hingga satu kecupan ringan jatuh di bahu mulus Aletta yang basah terkena tetes air dari rambutnya yang masih agak basah.


Mata perempuan itu terpejam menikmati sentuhan suaminya juga kecupan lembut suaminya di kulitnya.


"Habis ini kamu gak butuh pakaian, sayang. Aku butuh istriku malam ini." bisik Revan dengan suara serak, sebelum akhirnya ia membawa Aletta dalam gendongannya.


Wuuuu aku deg-degan nulis part ini


Kalian yang baca deg-degan juga gakkk?


***Nih loh aku double up


double vote juga dongg


hehehe


yok spam bunga Daisy di komentar

__ADS_1


sapa tau ada juga yang kaish mawar dan kopi eheheheh***


__ADS_2