My Lazy, Rich Man

My Lazy, Rich Man
MLRM : Adrian vs Revan


__ADS_3

"Untuk apa rapat ini kalau anda sudah memutuskan putra anda sebagai pimpinan selanjutnya? Apa suara pemegang saham di perlukan?" sindir Adrian dalam rapat umum pemegang saham kali ini.


Beberapa pemegang saham manggut-manggut, tanda setuju dalam diam atas pendapat Adrian.


"Saya setuju kata, Tuan Adrian dari Wiratmadja Group." sahut seorang pria paruh baya yang ada dalam rapat tersebut.


"Kita butuh bandingan untuk meyakinkan kalau Revan Agra Bagaskara ini pantas untuk memimpin perusahaan." ujar yang lain.


"Kurang ajar! Adrian benar-benar mempersulit keadaan." batin Revan, matanya melirik tajam ke arah Adrian.


"Ngomong-ngomong, di rapat kemarin saya sempat menyarankan Arkana Raka Prawira sebagai perbandingan, apa sudah ada yang mempertimbangkan?" tanya Adrian, yang membuat Anggara jadi ketar-ketir, anak sahabatnya ini benar-benar, pantas Revan dendam wong dua-duanya sama-sama dendam.


"Tapi, Raka hanya keponakan saja dan pewaris tunggal hanya anak saya." tegas Anggara dengan hati-hati.


"Tapi, kinerjanya luar biasa, lebih baik daripada__" seorang pria sekisar empat puluh tahunan menahan kalimatnya, segan mengungkapkan bahwa Revan tidak kompeten.


"Apa harus anak anda yang memimpin perusahaan meski tidak kompeten? Kami disini juga mencari keuntungan." ujar yang lainnya.


"Pertimbangkan soal ini, Tuan Anggara. Nugraha Prawira juga memiliki saham yang cukup disini." sahut lainnya lagi, Nugraha Prawira adalah adik ipar Anggara yang adalah seorang angkatan darat.


"Raka lebih dulu bekerja di perusahaan, jelas pengalamannya lebih luas." kata yang lain lagi.


"Iya, lagipula jika memang Raka lebih pantas, tidak ada salahnya dia menjabat, hanya menjabat bukan mewarisi, daripada perusahaan nanti hancur di ta___"


"Maaf, semuanya tapi saya tidak berminat mengambil hak sepupu saya sendiri." sela Raka, pria manis sepupunya Revan yang tampan.


Jujur, Raka merasa tidak enak, perusahaan pamannya adalah murni usaha pamannya, meksipun ayahnya orang yang membantu pamannya itu di saat sulit juga punya saham cukup banyak tapi ia tidak mau mengambil hak sepupunya.

__ADS_1


"Kami butuh perbandingan, apakah Revan itu pantas memimpin perusahaan di saat ini?" tutur Adrian lagi, Revan hanya diam sambil menahan kekesalannya.


🦋🦋🦋


Revan mengusap wajahnya kasar, gara-gara Adrian para pemegang saham meragukannya.


"Ayah bakal bicara sama Bramasta nanti, anaknya ini benar-benar tidak bisa di remehkan." ucap Anggara, putra sahabatnya itu sudah membuat kekacauan di perusahaan miliknya.


"Revan bilang juga apa, ayah gak percaya sih malah belain dia terussss." sindir Revan.


"Ya mana ayah tahu bakal ada kejadian seperti tadi? Kan yang ayah tahu satu-satunya pewaris ayah ya cuma kamu!" elak Anggara tak mau di salahkan.


Aletta dengan ceria menuju lobi perusahaan, ia membawa makanan kesukaannya Revan.


Hatinya senang membayangkan reaksi Revan nanti, tapi itu tidak berlangsung lama saat ia berpapasan dengan....


Astaga! Dia lagi, dia lagi, sepertinya Aletta akan jarang ke perusahaan setelah ini.


Aletta pura-pura tidak dengar dan melanjutkan langkahnya.


Tapi sayang, tangannya di cekal!


"Jaga kelakuanmu, kita di perusahaan!" desis Aletta.


"Berarti kalau bukan di perusahaan suamimu, aku boleh bertemu denganmu kan?" kekeh Adrian.


"Tck! Lepas!" tegas Aletta dengan suara pelan, ia memperhatikan sekeliling takut kalau ada yang memperhatikan mereka berdua.

__ADS_1


Kesal karena genggaman Adrian yang terus menguat, Aletta menghentakkan tangannya hingga terlepas.


"Aku benci sama kamu!" ucapnya sebelum benar-benar meninggalkan Adrian dengan rasa sakit yang berdenyut menjalar di jantungnya.


Pria tampan itu tersenyum miris.


Melihat betapa wanita yang ia cintai itu membenci dirinya.


Fokusnya pada Aletta pecah saat ponsel di saku jasnya berdering.


"Kenapa, Papa ?"


"Ke rumah sakit sekarang!" titah Bramasta di sebrang sana.


Mendengar kata rumah sakit, Adrian langsung panik, "Lex! Gas ke rumah sakit!"


"Rumah sakit mana, Tuan?" tanya Alex.


"Pa! Rumah sakit mana?!" tanyanya panik.


"Rumah sakit punya kita, cepetan papa sama mama__"


"Lex! Buruan!" titahnya sambil memutuskan sambungan teleponnya dan langsung berjalan cepat-cepat meninggalkan area kantor.


Hmmm pendek aja lah


Belum semangat:(

__ADS_1


__ADS_2