
"Ale! Jangan gila!" teriak Adrian kasar, ia benar-benar di liputi rasa panik saat menemukan Aletta yang bersiap melompat dari balkon penthouse yang baru saja ia tempati bersama Aletta dua hari lalu.
Pria itu menggendong tubuh lemah itu dan membawanya ke ruang santai, merebahkannya di sofa dengan penuh perhatian.
"Revan?" gumam gadis itu lemah, kedua tangannya merengkuh rahang tegas milik Adrian, sebelum pria itu berdiri meninggalkannya.
"Sadar, aku Aksa bukan Revan." jelas Adrian lembut, sembari melepaskan kedua tangan itu dari wajahnya.
Namun, Aletta menggeleng dan mengalungkan tangannya pada leher pria itu.
Lalu, memeluknya erat-erat.
"No! Tadi kamu panggil aku Ale, cuma Revan yang panggil aku dengan panggilan selucu itu."
Adrian bingung apa yang terjadi dengan perempuan ini, kenapa Aletta jadi bertindak impulsif hingga mau bunuh diri, bahkan sekarang Aletta sudah berhalusinasi.
Tadi, ia memanggil nama Ale, karena spontan dan di rundung kepanikan saat melihat tubuh perempuan itu hampir saja jatuh, sebab satu kakinya sudah melangkah ke udara.
"Letta, aku Adrian!" tegasnya lagi, kali ini Aletta sadar dan wajah yang tadinya penuh aura harap kini menggelap kecewa.
Adrian meninggalkan, Aletta sendiri, ia pikir Aletta butuh waktu untuk tenang.
Sebentar lagi, sidang perceraian mereka tapi Aletta menolak hadir, kondisi Aletta mulai buruk setelah ia menandatangani surat perceraian.
...****************...
"Lo gak merasa, lo terlalu terburu-buru ambil keputusan? Setelah besok, lo bakal kehilangan Aletta selamanya!"
Gara berusaha menasihati sahabatnya, sejak ia tahu bahwa Revan menceraikan istrinya hanya karena sesuatu yang menurutnya bisa di jelaskan.
"Van, gue tau, gue bukan orang yang bisa ngomong serius, tapi inget bagaimana susahnya waktu lo dapetin hatinya, terus sekarang? Lo mau lepasin dia gitu aja?"
Revan masih diam, ia tak peduli dengan ocehan Gara, ia memilih menikmati sesapan demi sesapan rokoknya.
__ADS_1
Ya! Sejak kejadian hari itu, sekarang Revan jadi perokok berat.
Hatinya tidak akan pernah bisa menerima bahwa Aletta memghianatinya setelah semua cinta yang telah ia berikan.
Satu bulan kemudian.
Adrian baru kembali ke penthouse nya bersama Aletta, mereka tinggal satu rumah tapi tentu beda kamar.
Itu karena Aletta sudah tidak tahu harus bagaimana, harga dirinya bilang untuk jangan kembali ke rumah pemberian Revan.
Apalagi, lelaki itu sudah benar-benar mencampakkannya.
"Tara?" panggil Adrian, ini sudah pukul sepuluh malam, ia baru kembali dengan semua lampu sudah mati, tapi ia melihat secercah cahaya dari dapur.
Ia melangkah semakin dekat dan mendapati lampu dapur menyala terang dengan Aletta yang sibuk menggeledah isi kulkas.
"Hey, baby? Kamu ngapain?" tanya Adrian yang menghentikan aktifitas perempuan itu begitu saja.
"Aku lapar, aku pengin makan nasi goreng pakai telur ceplok, tapi kayanya telur kita habis ya?" kata Aletta, sambil melirik ke dalam kulkas yang belum ia tutup.
"Nggak! Aku maunya buat sendiri, jugaan kamu pasti capek kan?"
Aletta tidak mau semakin menyusahkan Adrian, sudah banyak hal yang pria ini lakukan untuknya, menampungnya dan calon bayinya bahkan menghidupi mereka.
Ya, Aletta sudah tahu kalau dia hamil.
Awalnya, ia merasa pedih, karena ia tahu setelah dirinya dan Revan resmi bercerai, bahkan lelaki itu sudah pergi ke Swiss.
Tapi, kebaikan Adrian menyembuhkan kesakitan batinnya.
"Nggak apa-apa kok, demi anak kita, ya kan baby?" sapa Adrian, sambil mengelus perut Aletta yang sedikit membuncit.
"Aksa, please."
__ADS_1
Adrian tak mengindahkan peringatan kecil Aletta, ia suka menyebut bayi di perut Aletta adalah anaknya, karena ia mencintai ibunya.
"Kalau mencintai ibunya, harus cinta sama anaknya juga, ya kan baby?" sahut Adrian yang semakin menjadi-jadi saja di mata Aletta.
Terbesit di pikirannya, kalau tiba-tiba mereka bertemu Revan secara kebetulan dan Adrian berucap begitu, apa yang akan terjadi nanti?!
Katakanlah, Aletta sudah berpikir berlebihan.
Aletta, meraih satu buah apel lalu ia gigit asal, "Aku makan apel aja." katanya kemudian, duduk di atas kursi dan melipat tangannya di atas meja makan.
"Kamu mandi sana, terus istirahat." ucap Aletta cuek, tapi di telinga Adrian itu terdengar seperti bentuk perhatian.
Adrian tersenyum tipis, ia mendekati cintanya yang nampak lucu saat makan buah itu.
Tangan besarnya mengusak kasar rambut Aletta.
"Aksa mah, resek!" protes Aletta dengan bibir mengerucut sebal.
"Gemesin banget sih, jadi pengin cepetan nikah sama kamu." canda Adrian, sambil mencubit kedua pipi Aletta yang makin chubby sejak hamil, lalu kabur begitu saja.
"Dasar gila!" teriak Aletta, tapi ia tersenyum tipis setelahnya, kejadian barusan mengingatkan kenangannya bersama Revan.
Senyum manisnya lama-lama menjadi senyuman pahit dan menimbulkan setetes air mata jatuh.
Meski banyak hinaan yang ia dengar dari mulut Revan, namun tak menghapuskan perasaannya pada pria itu yang malah semakin dalam.
"Kamu apa kabar, Re? Aku harap, kamu bakal ada ketika dia lahir." gumamnya lirih, tangannya mengusap perutnya dengan perasaan pilu.
Namun, dalam kelicikan Adrian yang di butakan oleh obesesi cintanya.
Adrian akan memiliki Aletta dan berencana mengenalkan anak itu sebagai anak mereka nanti.
Revan, keluarga Revan, atau bahkan teman-teman pria itu, Adrian tak membiarkan mereka semua tahu keberadaan Aletta dan anaknya.
__ADS_1
Selama satu bulan, karena kondisi mentalnya yang berantakan, Aletta bahkan tidak keluar dari tempat ini, moodnya kembali hanya setelah ia tahu kehamilannya.