
"Dadaaa, Auau! Makasih udah anterin gue buat ketemu sama ayang Revan tercinta!" serunya sambil melambaikan tangan kepada Aura yang telah mengantarkan dirinya sampai depan gedung kantor suaminya.
"Hmmm." Aura hanya berdehem, membalas tingkah lebay sahabatnya itu, tapi ia maklum Aletta sedang di mabuk cinta.
Eaa...
Aletta memang tidak pulang bersama Kiran, karena ia mau pergi bersama Aura jadi ia menyuruh Kiran untuk meninggalkannya saja.
Dengan percaya diri perempuan itu melangkah menuju ruangan suaminya, yang masih menjabat sebagai wakil ayahnya.
Ayah mertuanya memang sudah menyuruh Revan menggantikan beliau jadi pimpinan perusahaan, tapi...
Revan juga butuh pelatihan dulu bukan?
"Lho?? Kiran?" celetuknya saat melihat ada Kiran di depan ruangan suaminya.
Sedangkan, Kiran, gadis itu hanya menundukkan kepalanya sebagai rasa hormat pada majikannya.
"Kamu ngapain disini?" tanya Aletta kepo.
"Menunggu Tuan Cristian, Nona." jawab Kiran dengan formal karena sekarang dirinya sadar sedang berada di kantor.
Aletta yang hampir menyuruh gadis itu meralat panggilannya, mengurungkan niatnya karena ia ingat dimana mereka sekarang.
"Dio di dalam?" tanya Aletta, karena ternyata setelah Kiran selesai menjadi sopir Aletta, gadis itu masih akan menjalankan pekerjaan sebagai asisten Dio, saat di butuhkan.
"Iya, Nona. Sedang ada pertemuan penting dengan utusan dari Dinegara Corp." sahut Kiran, Aletta hanya mengangguk mengerti dan ikut menunggu di luar ruangan.
Setelah menunggu sekitar lima belas menit, pintu terbuka dan muncul seorang perempuan cantik dan tinggi dengan setelan formal yang nampak glamor.
Yang di ikuti seorang lelaki tegap yang berpenampilan formal pula di belakangnya.
"Itu siapa?" gumam Aletta menyenggol lengan Kiran.
"Nona Celine, putri sulung dari Tuan Dinegara." sahut Kiran pelan setelah melihat kedua orang itu sudah pergi agak jauh.
"Suamiku!" seru Aletta yang membuat Revan berjengit kaget di tempatnya.
"Aletta!" serunya dengan nada suara ala orang kaget, istrinya ini benar-benar mengangetkan, untung sayang.
"Kamu ngapain disini, udah sore, enggak pulang?" tanya Revan yang sedang menyusun berkas-berkas miliknya, kemudian menutup laptopnya.
"Kangennnn." ujar Aletta manja, merangkul leher suaminya dari belakang.
Mimpi apa, Revan?
Istrinya sekarang terlihat sangat bucin bukan?
Revan hanya tersenyum tipis meskipun dalam hatinya ia sangat senang.
__ADS_1
Revan menggenggam tangan Aletta dan menarik tangan itu dari lehernya untuk di bimbing sampai di depannya lalu membuat Aletta duduk di pangkuannya.
"Tuan say__" ucapan Dio terputus saat melihat pemandangan di depannya ia langsung membelakangi Revan dan Aletta, bodoh sekali Dio kenapa tadi tidak mengetuk pintu, tapi salahkan juga Tuannya yang membiarkan pintunya terbuka.
Kaget, Aletta mau beranjak dari pangkuan suaminya, tapi Revan menahannya.
"Kenapa?" tanya Revan cuek pada Dio.
"Undangan pesta di kediaman Dinegara, dua hari dari sekarang, saya permisi." Cristian Aldio, lelaki tegap dan dingin itu langsung keluar dari ruangan Revan.
Bisa-bisanya, bermesraan di depan jomblo sepertinya.
"Malu!" seru Aletta menutupi wajahnya yang lucu dimata Revan.
"Kamu sih!" tuduhnya pada sang suami.
"Lho? Katanya kan kangen." kilah Revan, sambil menarik tangan yang menutupi wajah Aletta.
"Y-ya, jangan gini juga."
"Terus gimana? Kaya tadi malam di kamar kita?" goda Revan dengan tangan yang menari dengan nakalnya di leher belakang istrinya.
"Re! Jangan nakal!" seru Aletta seraya menepis tangan Revan.
...****************...
"Kamu bawa aku kemana sih, Re?" tanya Aletta bingung karena matanya di tutup oleh kain dari rumah sampai ke tempat yang Aletta tidak tahu sekarang dia dimana.
Aletta menapaki kakinya dengan hati-hati meskipun ia di gandeng oleh suaminya sendiri.
Tapi tetap rasa was-was melangkah tetap ia rasakan karena pandangan matanya yang tertutup kain.
"Buruan deh aku udah gak betah kaya gini terus!" dengus Aletta tidak sabaran.
"Oke, sebentar!" dengan perlahan Revan membuka ikatan kain yang menutupi matanya.
"Re, ini dimana?" pertanyaan pertama yang keluar dari mulut perempuan itu ketika melihat sekelilingnya.
"Rumah kita!" seru Revan merentangkan kedua tangannya di hadapan Aletta menunjukkan seisi rumah yang ia beli untuk mereka berdua, lebih tepatnya untuk Aletta, ia membelinya atas nama istrinya.
"Re?? Serius?? Aku pikir kamu cuma___" Aletta menganga tak percaya, ia pikir itu cuma omong kosong seorang Revan.
Tapi dalam waktu beberapa hari, pria ini membeli rumah??
"Ini rumah buat kamu atas nama kamu." kata Revan dengan kebanggaan.
"Kamu suka?" tanya Revan yang di balas dengan serbuan Aletta yang langsung memeluk dirinya.
"Aku gak peduli sama rumahnya, Re." kata Aletta sambil melepaskan pelukannya, ia menatap suaminya dengan serius, Revan langsung terdiam, senyumannya hilang, istrinya tidak suka hadiah darinya?
__ADS_1
"Kamu enggak suka? Aku pikir kamu bakalan suka sayang." kata Revan mengulum bibirnya kecewa.
Aletta merangkul leher suaminya, meletakkan kepalanya tepat di bagian jantung lelaki itu bisa ia dengar betapa suara jantung ini selalu ia harap tetap berdetak untuknya.
Karena, pemilik jantung ini adalah sandarannya.
Aletta menggelengkan kepalanya, semakin membuat Revan kecewa.
Kejutannya gagal!
"Maaf." kata Revan.
"Denger!" titah Aletta dengan tegas, " Aku gak peduli sama rumahnya, aku gak peduli di manapun kita tinggal, atau sebesar apa rumah yang akan kita tempati, karena aku bisa tinggal di mana saja, asal ada kamu di dekat aku dan kalau ini tempat yang kamu pilih untuk menghabiskan waktu kita bersama, aku akan menyukainya." jelas Aletta panjang lebar.
"Re, selama ada kamu, aku bisa hidup dimana pun, asal ada kamu aku pasti bisa bernapas." lanjutnya.
Tanpa dirinya sadari bahwa kata-katanya membuat sang suami terharu.
"Sekali lagi, aku merasa beruntung memiliki kamu dan menjadi milik kamu." kata Aletta lagi dan lagi yang semakin membuat Revan terenyuh di buatnya.
Pria itu tak menyangka, Aletta-nya yang sulit ia kendalikan, yang suka bicara seenaknya tentang dirinya, kini sangat membutuhkannya.
"Aku pengin kamu selalu sama aku, jangan pergi, jangan tinggalkan aku, aku butuh kamu di setiap langkah aku, Revan."
Dan akhirnya, Aletta-nya benar-benar membutuhkannya, keinginannya untuk menjadi penyelamat dan pelindung Aletta-nya berhasil!
Tanpa membalas apapun dari perkataan istrinya, Revan mendekap erat tubuh perempuan itu, perempuan yang selalu ia cintai hingga kini.
"Aku sampai bingung harus dengan kalimat mana lagi aku menyampaikan betapa besar perasaan aku ke kamu dan betapa aku merasa beruntung memiliki kamu, sayang." ujar Revan lirih.
"Kamu cinta aku, Ale?" tanya Revan yang langsung di balas anggukan oleh Aletta.
Revan menangkup wajah Aletta, menatapnya dalam, "Meski aku bukan orang kaya?" tanyanya iseng.
"Iyalah!" seru Aletta kesal, "Yang penting gak malas cari duit!" ketus Aletta, yang membuat Revan terkekeh geli.
"Kamu pikir aku cuma mau duit kamu?!" sentak Aletta yang kemudian membelakangi suaminya.
"Aku bercanda sayang, aku tau kamu gak kaya gitu."
"Hmm."
"Jangan marah dong." bujuk Revan sambil memeluk Aletta dari belakang.
Maaf ya kalau part ini gak seru hehe
Makin kesini makin gaje dan membosankan yaa?
Ayo ngaku di komen kalian
__ADS_1
Double up nih
Jangan lupa mampir di Crazy Rich CEO yaahh