My Lazy, Rich Man

My Lazy, Rich Man
MLRM : Tugas


__ADS_3

Selesai!


Akhirnya, sarapan pagi ini siap.


Aletta baru tau ternyata sensasi jadi istri se-menyenangkan ini jika di lakukan dengan ikhlas. Ia jadi ingin libur kuliah setiap hari. Haha.


Lebih senang lagi saat melihat semua keluarga menghabiskan makanan yang ia masak, rasanya benar-benar istimewa! Aletta tidak dapat menahan senyum bahagianya.


"Mantu, bunda lagi bahagia sekali ya?" tanya Rena dengan kerlingan mata menggoda.


Aletta hanya tersenyum semakin lebar memperlihatkan deretan giginya.


"Oya, Raina--"


"Aletta, bun. Bunda suka banget sih panggil istri aku Raina." sela Revan.


"Biarkan saja, bunda itu tadinya kalau punya anak cewek mau di kasih nama Raina, tapi ternyata gak punya." jelas ayah maklum.


"Nanti, ayah sama bunda mau berangkat ke Singapura." lanjut ayah serius.


"Kok mendadak, Yah?" heran Revan.


"Ayah juga baru terima telepon tadi malam, memang sangat mendadak." seraya meraih gelas yang berisi air minum.


"Alah, jangan sok kaget bahagia kan kamu jadi berduaan sama istri kamu!" ledek bunda yang membuat keduanya tersipu.


"Ya udah, Revan berangkat dulu." lelaki itu berdiri dari duduknya menyalami ayah bundanya dan terakhir meninggalkan kecupan di kening istrinya di susul sang istri yang mencium punggung tangannya.


"Kerja yang rajin." pesan Aletta setengah berbisik, "Semangat, my hubby." Aletta kembali berbisik karena bagaimana juga disana masih ada ayah bunda yang sedang duduk memperhatikan keduanya.


Keduanya tersipu, bedanya Revan merasa senang dan puas sedangkan Aletta merasa sangat malu dan malah berlari ke dapur.


Entah bagaimana bisa dia berlaku semanis itu pada Revan pagi ini? Apa isi kepalanya terbalik?


Ia menepuk pelan keningnya, "Ya ampun, aku lupa nanti kan Flora, Riri dan Aura ngajakin main, di bolehin gak ya sama Revan?"


Ia berlari kecil menyusul Revan untuk meminta izin, tapi hasilnya? Revan baru saja melajukan mobilnya keluar dari pagar tinggi rumah itu.

__ADS_1


Revan memsuki gedung perusahaan dengan senyum lebar di saat biasanya ia paling malas pergi ke perusahaan dan memasang wajah kesalnya setiap melewati semua karyawannya. Tapi hari ini berbeda, wajahnya benar-benar bersinar karena bahagia.


Aletta memberikan semangat untuknya.


Aletta! Istrinya!


Oke, sekarang baru bisikan semangat, selanjutnya bisa saja ia mendapatkan morning kiss atau hal manis lainnya, Revan tidak sabar menanti semua nya.


Sesuai tugas, Dio akan datang untuk membacakan jadwal Revan. Dio adalah asistennya yang sangat di siplin berbanding terbalik dengan Revan.


Dengan seksama Revan mendengarkan akan apa saja yang ia lakukan hari ini.


Ia mengacungkan jari telunjuknya ke atas, lalu "Tambahkan, makan siang dengan istri saya pukul dua belas tepat!"


"Tapi, tuan pukul dua belas tiga puluh ada jadwal meeting sekaligus makan siang dengan wakil presiden direktur Adinegara Group."


Ah, sial !


"Bisa kamu rubah, hanya meeting pukul satu siang?"


Sayangnya, ia sedang mati-matian menjadi rajin bekerja dan bertanggung jawab demi istrinya yang sejak dulu ingin ia dapatkan!


Jangan sampai usaha bundanya untuk membujuk istrinya menikah jadi gagal karena dirinya jadi lelaki nakal dan pemalas lagi!


.......


"Ya Allah, non. Ini ngapain?" mendadak bi Sumi histeris saat melihat menantu majikannya berada di belakang, tepatnya di tempat khusus mencuci pakaian.


"Lagi cuci baju, dong. Nih!" Aletta menunjukan sebuah kemeja yang sedang ia cuci dengan tangannya.


"Itu tugas kami semua pelayan disini, bukan tugas Nona Aletta." Bi Sumi mengaitkan jari jemari nya takut tiba-tiba nanti majikannya datang dan memarahinya karena membiarkan menantunya mencuci. Ya meskipun itu tidak mungkin, kan majikannya sedang sibuk bersiap untuk ke luar negeri.


"Gak papa, kok Bi, ini juga tugas Letta sebagai istrinya Revan." dan ini juga salah satu usahanya untuk menjadi istri berbakti sebagai balasan atas usaha Revan yang berusaha jadi suami bertanggung jawab untuknya.


Jika Revan bisa berusaha menjadi seperti yang Aletta mau, kenapa Aletta tidak bisa berusaha jadi seperti yang suaminya inginkan juga?


"Duh, gimana ya nanti kalau nak Revan tau, bisa di marahi kita semua disini."

__ADS_1


"Nggak, jangan khawatir, yang aku cuci cuma baju suamiku kok, yang lain kalian yang cuci, oke?!" balas Aletta semangat, yang membuat semua pelayan disana tidak sanggup membantah dan hanya bisa mengangguk pasrah.


Bukan hanya mencuci bahkan Aletta menjemur pakaian Revan, lalu ia menyiapkan makan siang untuk di bawa ke kantor suaminya.


Ia sedang memotong bawang merah saat ia merasakan lengan kekar melingkar di perutnya. Ia tidak takut, tapi kali ini ia hanya gugup dan jantungnya berdebar-debar, Aletta tahu ini siapa, siapa lagi kalau bukan, "Re, aku lagi masak." peringat Aletta, namun Revan malah semakin mengeratkan pelukannya.


Menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Aletta, aroma khas mawar Aletta terendus oleh penciumannya, tapi bercampur dengan bau keringat.


"Kamu hari ini ngapain aja?" akhirnya suara serak dan dalam milik Revan terdengar di telinga Aletta, membuat Aletta merinding sebab napas Revan menggelitik lehernya yang bebas, rambut panjangnya ia jepit ke atas.


Aletta berbalik menghadap Revan, tapi ia tak berani menatap wajah tampan suaminya.


"Ngapain aja boleh." tangannya dengan ragu-ragu merayap dari dada hingga sampai ke leher Revan. Ini adalah salah satu inisiatif nya, berharap itu bisa membuat suaminya senang.


Setidaknya, itu yang pernah ia baca di salah satu buku, ada adegan romantis antara suami dan istri.


Ya ia belajar jadi istri yang baik dan menyenangkan hati suami, tapi bukan dari buku, melainkan membaca banyak novel yang menceritakan tentang kehidupan pernikahan.


Revan menangkap tangan kiri Aletta lalu mengecupnya lembut, "Bau bawang, tapi aku suka." lalu dengan jahil Revan menggigit jari telunjuk Aletta.


Aletta yang tadinya tersipu, jadi tersentak dan menatap Revan kesal. Bukannya takut sang istri akan marah, Revan justru mengecup pipi Aletta sebelum akhirnya ia menjepit hidung Aletta gemas.


"Nah gitu dong, masa gak mau lihatin suaminya sendiri. Punya suami ganteng jangan di anggurin, sayang."


Aletta yang malu tapi kesal berakhir memeluk Revan menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu bercampur kesal.


"Astaga!"


Aletta berjengit kaget merasakan sebuah tepukan di pundaknya.


"Non, kenapa? Kok diam saja itu hampir aja tangan nona, teriris." tunjuk seorang pelayan, dan benar saja ia melamun, membayangkan hal-hal romantis dengan suaminya sampai ia hampir mengiris jarinya sendiri.


Astaga, Aletta!


What happen with you?!


Mau bilang apa tentang bab ini?

__ADS_1


__ADS_2