
Perhatian!
Part mengandung adegan yang cukup dewasa. Yang nggak nyaman bisa di skip.
Hari ini Revan bekerja dengan sangat semangat. Di karenakan istrinya berjanji akan membawakan makan siang ke kantor nya dan makan bersama. Dengan cepat ia mengerjakan pekerjaannya hingga tersisa sedikit agar ia bisa menghabiskan waktu yang lama bersama Aletta nanti.
Tangannya yang menari di atas keyboard laptop terhenti kala ia mendengar suara pintu terbuka. Ia berpikir itu Aletta lantas mendongak bahagia tersenyum lebar.
"Revan, surprise! " namun bukannya senang, justru senyuman di wajah tampan itu menjadi surut ia membuang wajahnya malas melihat wajah cantik yang sangat mencintai uangnya.
"Aku bawa makan siang!"
Tck, padahal dulu saat berpacaran Tasya tidak pernah membawa makan siang, yang ada perempuan itu datang padanya hanya untuk mengajaknya pergi ke pusat perbelanjaan.
"Pergi!" usirnya dingin, namun Tasya tidak perduli dan terus mendekat tanpa tahu malunya ia memeluk leher Revan yang ada di kursi kerjanya dari belakang.
Dengan kasar Revan menepis, tapi perempuan itu merengek dan malah semakin lancang.
"Revan!" ini bukan Tasya, ini Aletta yang baru saja sampai dan melihat seekor ulat bulu menempeli suaminya.
Revan terkejut ia takut Aletta akan salah paham.
Dan sekarang, yang ada hanyalah Aletta yang setia bergelayut di leher suaminya setelah ia membuat Tasya pergi dengan kesal luar biasa.
"Yang, aku laper ayo makan."
"Ish! Nggak suka di panggil kaya gitu!" berengut Aletta tapi tangannya terus melingkari leher suami tampannya.
"Kamu cemburu?"
"Ish! Dasar ulet bulu gak tau malu, kamu kok mau sih di peluk dia!" elak Aletta tak mau mengakui kalau sebenarnya ada rasa kesal saat ia melihat Revan di tempeli Tasya.
"Kamu cemburu?" goda Revan lagi, kini pipinya memanas, untung saja ia ada di belakang Revan jadi jikalau pipinya memerah lelaki itu takkan tahu.
"Lagian kok kamu bolehin dia masuk sih, kamu masih suka ya sama dia?!" Revan terkekeh geli, ia paham istrinya pasti gengsi mengakui bahwa ia telah cemburu.
"Dia masuk sendiri." jawabnya singkat.
"Kok boleh sama sekretaris kamu di depan? Harusnya mereka kan cek dulu siapa yang mau ketemu kamu!" Revan menengok sedikit ke belakang lalu menjepit hidung mancung Aletta dengan dua jarinya gemas.
"Banyak tanya banget sih istri aku." ujarnya gemas menyatukan hidungnya dengan hidung Aletta.
"Ih, aku kan cuma nanya!" elak Aletta dengan suara kencang yang mana itu untuk menutupi kegugupan dirinya di perlakukan begitu oleh Revan. Aletta kan... jadi baper.
__ADS_1
"Iya-iya, pelan dong sayang, telinga aku jadi korban ini." lantas dengan jahil Aletta malah menggigit kecil telinga Revan yang mana tanpa dirinya ketahui bahwa tindakan itu bisa membuat sang suami bergairah.
Deru napasnya yang mampir di leher Revan saat memeluk tadi sudah membuat Revan hampir kehilangan akal tapi ini?
Tanpa Aletta duga, Revan menarik tangannya dan membawanya ke pangkuan lelaki itu.
"Re, kamu ngapain?"
panas, pasti Revan bisa melihat pipi merahnya sekarang. Aletta malu!
Dengan tak sabaran Revan menyatukan bibir mereka berdua, ia mencium istrinya dengan penuh gairah. Aletta pun merasakan hal yang berbeda biasanya suaminya selalu menciumnya dengan lembut tapi ini... sedikit kasar.
Revan terus mencium Aletta dengan gairah yang semakin menuntut untuk melakukan lebih, ia berhenti tepat ketika ia merasa bahwa wajah istrinya basah, bahu istrinya bergetar, Aletta menangis. Untuk kesekian kalinya, setidaknya kali ini gadis itu tidak mendorongnya.
Revan menyatukan keningnya pada kening Aletta, "Maaf." ujar Revan dengan nada rendah, kalian boleh bilang dirinya cengeng, tapi saat ini ia sungguh ingin menangis, dulu ia bisa menerima jika Aletta menolak di ajak berhubungan.
Tapi ini hanya ciuman dan istrinya menangis karena itu.
Revan menjauhkan wajah mereka dengan raut kekecewaan yang amat kentara, ia bergerak menurunkan Aletta dari pangkuannya, namun di luar dugaan, tangan Aletta langsung memeluk erat lehernya sembari menggeleng kepalanya kuat.
"Nggak mau turun!" pekik gadis itu sesenggukan.
Sedangkan, Revan mulai tak nyaman karena miliknya sudah terpengaruh sejak tadi dan akan semakin bereaksi jika bokong Aletta terus berada di atasnya.
"Nggak, turun sekarang lepaskan tanganmu dari sini." ujarnya datar seraya berusaha melepaskan kedua tangan yang melingkar di lehernya.
"Nggak mau, cium aku, Re!" paksa Aletta yang justru membuat Revan emosi. Bagaimana mungkin ia mencium Aletta di saat gadis itu saja ketakutan saat ia cium.
"Aletta! Jangan keras kepala! Aku tau kamu cuma mau memenuhi ucapan kamu, tapi kamu harus melakukannya dengan hati kamu jangan terpaksa!" bentak Revan akhirnya.
Ia ingat Aletta sudah bertekad dan ia yakin ini salah satu usahanya.
Aletta menatap Revan tidak percaya, ia berusaha menerima Revan pada tubuhnya, ia ingin menepati janji untuk jadi istri yang baik, itu saja! Tapi kenapa Revan marah?
Ia berdiri dan berjalan cepat untuk meninggalkan ruangan suaminya. Revan yang segera menyadari kesalahannya langsung mengejar Aletta sebelum gadis itu benar-benar pergi.
"Aletta tunggu!"
"Sayang, maaf aku gak bermaksud." ujarnya lembut kala tangannya telah menangkap tubuh mungil yang bergetar karena menangis.Ia mendekap tubuh itu erat.
"Maaf, aku gak maksud bentak kamu, maaf ya sayang."
"Kamu jahat! Padahal aku cuma mau berusaha menerima kamu, aku gak mau kecewain kamu, aku gak terpaksa aku lagi berusaha!" cerocos Aletta memukuli dada bidang yang tengah mendekapnya.
__ADS_1
"Iya maaf. Aku juga, aku cuma takut kamu memaksa diri kamu, aku gak ingin egois,Al." tangannya mengusap rambut hitam legam panjang itu dengan kasih.
Aletta mendongak menatap suaminya, ia memejamkan mata sejenak lantas kembali menatap mata suaminya, "Sekarang cium aku!"
"Enggak! Kasih tau aku dulu, kenapa kamu menangis." Aletta terdiam cukup lama memikirkan jawaban yang pantas ia berikan pada suaminya.
"Kamu tadi kasar, gak kaya biasanya." jawabnya lirih menundukkan kepala. Revan terkekeh pelan, hatinya merasa lega bahwa alasan istrinya bukan karena jijik padanya atau hal menyakitkan lainnya.
"Jadi sayangku mau aku cium dengan lembut heem?"
"Revan!" pekik Aletta memukul pelan dada suaminya lagi.
"Maaf, tadi aku terlalu ingin, karena kamu menggoda aku." katanya menekankan kata 'ingin'. Aletta paham maksud Revan, keinginan suami yang belum pernah ia penuhi sebagai seorang istri karena keegoisannya.
"Aku... aku gak goda kamu kok." elaknya gugup.
"Kamu, iya! Hati-hati dengan diri kamu Al, atau aku bisa memakanmu!" ancam Revan bercanda.
"Memangnya kamu bisa?!" tantang Aletta yang membuat wajah Revan berubah jadi datar.
Benar juga, memangnya ia bisa? Dirinya saja selalu membuat istrinya ketakutan, ia heran apa di mata Aletta tubuhnya seperti tubuh gorila atau malah genderuwo? Kenapa ketika ia membuka pakaiannya Aletta seolah menatap seram padanya?!
"Emm, anu maksud aku memang kamu bisa makan aku, kamu kan manusia." kilah Aletta.
"Aku lapar, ayo makan, kamu bawa apa untuk makan siang kita?" ujarnya mengalihkan topik dan menggandeng Aletta ke arah sofa dan meja yang berada agak ke pojok ruangan.
Ia mengambil kotak bekal dan membukanya dengan wajah yang ia buat sesenang mungkin, "Wah, udang tumis brokoli? Ada sayur kembang pepaya juga?"
"Iya, itu makanan kesukaan kamu kan?" tanya Aletta hati-hati sebab ia agak tidak percaya saat bunda bilang salah satu makanan kesukaan Revan adalah kembang pepaya yang mana adalah makanan oraang di kampung. Ia pikir suaminya hanya makan sup dan daging atau makanan orang kaya lainnya.
Revan menghirup aroma lezat yang keluar dari makanan yang di bawa istrinya, ia mencubit kecil pipi Aletta, " Terimakasih, istrinya Revan." lalu mengecup pipi Aletta beberapa detik.
Revan cukup senang dengan perubahan sikap Aletta sekarang, lebih baik dari sebelumnya, sikap seenaknya Aletta mulai berkurang. Gadis itu sekarang mulai hati-hati saat bicara.
"Uh, pipinya kamu merah, malu ya?"
"Revan!"
"Bibirnya mau juga gak? Tadi kan minta di cium?" goda Revan.
"Nggak ih, Revan diem gak!"
Dan begitulah mereka, Revan yang takkan pernah bisa berlama-lama marah pada Aletta dan Aletta yang selalu tak jelas akan sikapnya yang sering mengecewakan suaminya.
__ADS_1
Hayookk komen votenya kencengin dong. hehe