My Lazy, Rich Man

My Lazy, Rich Man
MLRM : Gift


__ADS_3

Hallo!


Author Tim Adrian garis keras nih


Sebelum lanjut baca aku mau nanya....


Kalian Tim Adrian atau Tim Revan?


Emm aku berubah pikiran nih..


Kayanya aku Tim Gara aja🥲


-


-


"Oh, Kiran?" ujar Aletta lesu dengan nada kecewa, bahunya langsung melemah.


"Nona, ada hadiah untuk anda." ucap Kiran sambil menyodorkan dua buah paper bag warna kuning dan biru.


"Dari siapa?" tanya Aletta tanpa minat, seolah terpaksa menerima dia kantong itu.


"Satu ini dari Tuan Revan dan___"


"Revan?" Aletta terlonjak senang, sudah ia duga Revan tidak akan setega itu padanya, "Terimakasih, kamu boleh pergi!" ucapnya, kepalang senang ia langsung masuk rumah dengan gembira.


Tak apa bukan Revan, tapi setidaknya pria itu masih nampak memperhatikan dirinya meski secara tidak langsung.


Bunda Rena baru saja pulang, setelah kepergian perempuan itu Aletta membuka hadiah kiriman dari Revan.


Pertama ia membuka paper bag warna kuning. Wah, ini adalah warna kesukaannya.


"Bagus banget!" serunya saat membuka kotak perhiasan yang berisi kalung berbandul bunga Camelia.


Tunggu!


Ada sepucuk surat.


'Untukmu yang selalu indah seperti Camelia dan selalu seharum Mawar, tapi tentu saja kau lebih cantik dari bunga apapun di bumi.


Ily🤍 '


Sangat senang dengan hadiah pertama, ia tak sabar membuka yang kedua, "Aaaa.... boneka sapi lagi, love you suami aku!" serunya senang sambil memeluk boneka sapi berukuran kecil itu.


.


.

__ADS_1


.


.


Revan meninggalkan pekarangan rumahnya dan teman-temannya, atau biasa di sebut basecamp itu.


Menjelang malam, ia berniat untuk pulang tapi ia memilih pergi ke club sebentar, walau tidak untuk minum setidaknya ia bisa mengobrol dengan teman-temannya.


Ia yakin Rafi dan Gara pasti ada disana.


"Widihh, ada angin apa nih lo, sampe sini?" tanya seorang bartender yang cukup tampan, ia adalah Bagas, salah satu temannya juga.


Revan melakukan tos dengan Bagas sebagai cara mereka bertegur sapa,


"Gara sama Rafi mana?" tanya Revan langsung, Bagas hanya menunjuk satu sudut menggunakan dagunya.


"Mau minum apa lo?" tanya Bagas.


"Gas, lo tau kan gue gak minum begituan?"


"Iya-iya, yakan sapa tahu berubah, lagi banyak pikiran terus mutusin buat minum, aelah."


Benar juga.


Ah! Revan jadi tergiur ingin mencoba minum, siapa tahu bisa melupakan beban pikirannya.


"Vodka!" pesan seseorang, Revan reflek menengok ke arahnya dan betapa sialnya dia.


"Wah, Tuan Muda Bagaskara disini, minum juga?" tegur seseorang itu yang ternyata adalah Adrian.


Dalam hatinya Revan mencibir, orang seperti Adrian kok di kagumi, katanya dulu ketua OSIS kok doyan minum. Cih!


"Mau minum bersama?" tawar Adrian sambil mengangkat gelasnya ke arah Revan dengan posisinya yang bersandar pada meja bartender.


.


.


.


"Revan goblok!" umpat Gara, sambil memapah tubuh Revan yang hampir kehilangan kesadaran.


"Diem aelah! Mending ini cepetan bawa pulang, biar di urus bininya, males gue juga udah pening." ucap Rafi yang memapah di sisi sebelah kanan.


Sesampainya di rumah Revan.


"Lho? Kak, ini Revan kenapa?" tanya Aletta panik, suaminya berhari-hari tidak pulang pas pulang malah keadaannya begini.

__ADS_1


Sangat menbagongkan.


Eh, membingungkan.


"Anu, tadi__"


"Anu anu mulu lo, Gar! Bentar ya Aletta, ini suami kamu kita bawa ke dalam dulu boleh?" ucap Rafi yang sudah tak tahan lagi memapah tubuh Revan.


"Jadi, tadi itu Revan minum padahal dia kan gak pernah minum, tapi karena di ajak sama kakak kelas kita dulu jadi dia minum deh." jelas Rafi panjang lebar, setelah dengan susah payah dirinya dan Gara membawa Revan sampai ke kamar.


"Kakak kelas?" tanya Aletta heran.


"Iya! Revan gondok banget kayanya sama tuh cowok, makanya sampai relain minum buat jaga gengsi." sahut Rafi.


"Emang dodol bener tuh suami kamu, kuat minum juga kagak, sok minum segala hadeh." ucap Gara yang masih setia mengumpat.


"Hust! Diem lu!" tegur Rafi, "Kita pulang dulu deh. Oya,jangan lupa masalah kalian di selesaikan."


"Hooh! Biar tuh bocah satu gak rungsing." celetuk Gara, yang langsung di tutup mulutnya oleh Rafi dengan tangannya.


"Kita pulang!" ulang Rafi sambil menyeret Gara yang reseh.


"Iya kak! Makasih!" seru Aletta dari depan pintu.


Aletta menatap wajah yang sudah ia rindukan sejak lama, mengusap rambut hitam itu serta mengecup mata indah Revan yang terpejam.


Ia melepaskan satu demi satu yang melekat di tubuh lelaki itu, kecuali celananya.


Aletta mengganti kemeja Revan yang sudah kusut dan acak-acakan dengan kaos hitam yang entah kenapa Revan selalu terlihat berkali-kali lipat tampannya setiap menggunakan warna hitam.


Ia menatap sendu, Revan yang tertidur itu perlahan air matanya jatuh.


"Maaf." gumamnya, ia meringsek masuk ke dalam pelukan Revan, "Aku kangen." gumamnya lagi lalu memeluk tubuh kekar itu erat-erat.


Kehangatan sikap Revan.


Kesabaran pria itu dalam menghadapinya, entah kenapa baru ia sadari setelah ketiadaan Revan beberapa hari ini.


Memang benar semua akan terasa jika orang itu sudah tidak lagi peduli.


Aletta berharap semoga ia belum terlambat, semoga Revan masih punya banyak kesabaran dan punya banyak kesempatan untuk dirinya.


Pendek ya?


Maaf ya, hari ini aku capek banget kerja dari jam 07.00 terus jam 20.30 baru pulang gaessss.


Ayo semangatin aku dengan like komen dan vote ya gaess biar aku tetep semangat update walaupun kerja cape bangettt

__ADS_1


Lopyu readers ❤️


__ADS_2