
Jujur, mudah dibayangkan, tapi sulit dilakukan, apalagi ini bukan tentang sesuatu hal yang biasa bagi dirinya.
Dia.
Aletta, tak pernah merasa ragu akan perasaan Revan untuknya, tapi itu membuatnya semakin malu melihat kenyataan betapa ternoda nya dia untuk seorang Revan!
Apalagi, jika di ingat bagaimana dulu mulut kotornya itu suka bicara tentang Revan, suaminya, sembarangan!
Terbesit di pikirannya, untuk meninggalkan Revan, tapi Revan juga sebuah anugerah yang sulit di sia-siakan.
Ah, Aletta rasanya ingin menghilang saja rasanya!
Alettara, i love u
Suasana hati Aletta kian memburuk, kala layar ponselnya menyala dan menunjukkan satu pesan dari nomor tak di kenal, jika itu dari Revan wajar, tapi ini???
Siapa?
Meski agak ngeri, Aletta tetap membalas pesan tersebut untuk memastikan.
Tapi kemudian tidak ada balasan lagi.
Tak peduli, ia melempar ponselnya begitu saja ke atas kasur, pikirannya semakin kalut.
Andai, jujur adalah hal yang mudah di lakukan.
Sayang, hatinya belum siap.
"Surprise!" pekikan Revan yang membuat lamunannya buyar. Aletta memperhatikan suaminya itu dengan kebingungan.
Tapi ia paham saat melihat apa yang pria itu bawa.
"Boneka sapi!" pekik Aletta girang, ia langsung berlari turun dari ranjang dan merebut boneka itu dari Revan.
Revan bahagia melihat kegirangan istrinya, sudah lama Aletta tidak selepas ini.
"Makasih!" serunya sambil memeluk boneka sapi raksasa itu erat-erat.
"Makasih aja nih?" goda Revan.
"Makasih banget, kamu selalu yang terbaik, suami!"
"Suami siapa?"
"Suami aku dong!" seru Aletta masih dengan kegirangannya, entahlah Revan juga heran, kalau cuma boneka sapi saja bisa membuat istrinya luluh kenapa tidak dari kemarin?
Tapi, dirinya juga lupa kalau Aletta sangat suka boneka sapi. Untung tadi konsultasi dengan Jonathan.
Revan memang yang terbaik, suasana hati Aletta setidaknya membaik, berkat suaminya yang terus berusaha untuk menghibur dirinya.
Sejak kemarin, entah membawakan makanan kesukaannya, mengajaknya jalan-jalan dan sekarang boneka sapi.
__ADS_1
Aletta memeluk Revan, hatinya di selimuti rasa tulus saat memeluk suaminya yang terbaik itu.
"Kamu memang yang terbaik, Re. Maaf ya, aku bukan yang terbaik buat kamu, aku___"
Revan mengendurkan pelukan mereka, "Ssst!" ia menaruh telunjuknya di bibir istrinya itu.
"Kamu yang terbaik juga untuk aku, jika kamu merasa bukan yang terbaik untuk aku, maka cobalah melakukan yang terbaik untukku sampai kamu merasa sempurna buatku."
Aletta menatap haru pada suaminya, suaminya yang selalu menerima dirinya apa adanya.
Ia mendekap lagi tubuh kekar itu dan mengangguk dalam pelukannya.
"Re, aku boleh nanya?" meski masih ragu, tapi mungkin ini saat yang tepat.
"Nanya? Ya tinggal nanya." sahut Revan santai sambil melepaskan pakaiannya, hingga ia hanya bertelanjang dada.
"Duduk dulu sih!" pinta Aletta dengan tangan yang masih menggendong sapi besar pemberian suaminya, yang besarnya bahkan hampir sebesar dirinya.
"Yayayaya." Revan menaruh pakaiannya di keranjang pakaian kotor, lalu duduk di ranjang, sebelah tangannya terangkat ke depan untuk menarik tangan Aletta, hingga jatuh dalam pangkuannya.
Ah! Kenapa suaminya suka sekali sih menaruhnya di pangkuan, mana lagi sedang telanjang dada begini, Aletta kan jadi agak gimana gitu, deg-degan.
"Nanya apa?" ulang Revan, tangannya bergerak merapihkan helaian rambut nakal yang menjuntai menutupi wajah Aletta yang merah padam.
Gimana sih Aletta?!
Berapa bulan nikah tapi masih saja, malu-malu harimau.
hehe...
"Tergantung, pertanyaan kamu apa." sahut Revan santai, ia tidak bisa berjanji untuk hal yang belum tentu bisa dirinya tepati.
Aletta mendengus kasar mendengar jawaban Revan, "Janji dulu lah!" rajuk Aletta tetap bersikeras.
"Hmmm, iya-iya aku janji." jawabnya sambil mengecup kening istrinya itu, Revan menunggu pertanyaan dari Aletta, ia sudah berharap bahwa perempuan itu akan mengatakan sesuatu, sebab ia yakin sangat yakin, bahwa Aletta telah menyembunyikan banyak hal darinya.
Aletta nampak berpikir, bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri, sampai ia memilih mendorong bahu suaminya lantas ia berdiri dari pangkuan suaminya.
"Nggak deh, gak jadi aja." putus Aletta lalu berbalik, berniat keluar dari kamarnya, namun baru saja tiga langkah, suara Revan mengangetkan dirinya.
"Rayna Alettara!" panggil Revan, namun kini dengan tegas dan menggunakan nama lengkap.
Aletta tersentak mendengar itu, "Kembali ke posisimu!" titah pria itu, bahkan sekarang pria itu menggunakan bahasa yang lebih baku.
"Revan." lirih perempuan itu, ada ketakutan tergambar dimatanya saat melihat Revan versi ini, Revan yang menunjukkan sikap dingin dan tegasnya.
Perlahan-lahan, Aletta mendekati Revan dan Revan langsung menarik istrinya itu kembali di posisinya semula.
"Bisa aku minta satu hal darimu?" tanya Revan, suara pria itu terdengar tegas meski dengan setengah berbisik tepat di telinga Aletta, Revan sukses membuatnya tak bisa berkutik.
"A-apa?"
__ADS_1
"Hargai aku." jawaban Revan membuat Aletta kaget, matanya membulat menatap Revan tak percaya, "Ya, hanya itu, hargai aku sebagai suamimu, aku berterimakasih karena kamu telah membalas cintaku, namun sekarang, tidak bisakah kamu mempercayai aku, sebagai suamimu! Dan ya ___" kata-kata itu terputus, Revan harus bisa menahan dirinya dengan tidak melanjutkan kalimatnya.
"Revan a-aku___"
"Katakan! Katakan kenapa Aletta!"
"Sudah aku bilang aku tidak pantas buatmu!" sentak Aletta yang lebih tegas bahkan setengah berteriak.
Revan membuang napasnya kasar, baru saja tadi mereka berbaikan tapi sekarang, apa mereka malah akan bertengkar?
"Aletta, apa maksudmu?!"
"Re!" bukannya menjawab Aletta malah berteriak emosi.
"Aku perempuan hina yang gak pantas kamu cintai! Kamu tahu kan, kamu pasti tau aku miskin, bermasalah dan kotor!"
"Aletta!"
"Kamu terlalu baik buat aku sedangkan aku cuma perempuan yang menjijikan buat kamu!"
"ALETTARA!" bentak Revan, dan itu membuat Aletta langsung terdiam, air matanya luruh begitu saja, baru kali ini kan, Revan membentak dirinya? Revan, pria itu sudah tidak bisa membendung emosinya.
"Hentikan omong kosong mu itu! Aku! Aku suamimu ini ,hanya meminta untuk kamu hargai, kenapa sih Aletta?!! Kamu selalu menyembunyikan banyak hal dari aku?! Hah?!"
"JAWAB AKU!" tegas Revan sambil mengguncang bahu istrinya yang kini hanya terdiam dan menangis saja.
Merasa bersalah melihat istrinya menangis dengan bahu yang bergetar, Revan lantas memeluk Aletta.
"Maaf, maaf kalau aku bukan suami yang baik sampai kamu saja tidak mempercayai aku, tapi kenapa? Bukannya kamu bilang, cuma aku yang bisa kamu percayai di dunia ini, hm?"
Kali ini, Revan bertanya dengan nada lembut di iringi penyesalan yang teramat karena telah membentak istrinya.
Aletta masih menangis dalam dekapan Revan, semakin sesak rasanya, Revan benar-benar terlalu baik untuknya, ia sudah berusaha menghargai Revan dan memang benar di dunia ini hanya pria itu sandaran hidupnya, satu-satunya yang ia percaya melebihi keluarganya.
Namun, perempuan seperti dirinya,apa pantas di samping pria seperti Revan?!
Semakin tak tahan, ia mendorong dada Revan dan langsung bergerak cepat masuk ke kamar mandi, ia bersandar di dinding dan menghidupkan shower.
Menangis sejadi-jadinya, isakannya semakin menjadi, kenapa gejolak emosi di hatinya tak pernah usai?
Perlahan-lahan tubuhnya melorot hingga menyentuh dinginnya lantai kamar mandi.
"Maaf, Re. Aku gak siap." isaknya.
"Arghhh!" teriak Revan, kakinya menendang kursi rias dan apa saja yang bisa ia tendang, ia tidak tahu bahwa mencintai Aletta akan sesulit ini bahkan setelah ia mendapatkan hatinya sekalipun!
Bisa-bisanya, Aletta merendahkan dirinya sendiri!
...****************...
**Aish jinjja!
__ADS_1
Emosi kali aku sama Aletta.
Hmmhh, jangan lupa vote like and komen readers setiakuu**