My Lazy, Rich Man

My Lazy, Rich Man
MLRM : Trauma?


__ADS_3

Sudah hampir satu bulan, namun segalanya masih sama, Revan yang jatuh bangun menghadapi sikap Aletta yang menurutnya sangat labil dan kekanak-kanakan.


Dan Aletta yang masih suka seenaknya saat bicara pada suaminya. Pernah sekali lagi saat mereka hampir 'bersatu', Aletta mendorong Revan sampai terjatuh dari tempat tidur.


Membuat lelaki itu keluar kamar dengan emosi dan kabur ke basecamp.


Tentu, di rumah akan selalu ada Aletta dengan segala penyesalan yang tak ada gunanya.


Seperti hari ini, jadi seminggu lalu saat pulang kuliah ia pergi ke kedai ayam milik bibinya, ia berniat bekerja lagi disana tanpa sepengetahuan Revan.


Dan hari ini ia ketahuan dan membuat harga diri suaminya terluka.


Apa susahnya sih, Al. Kamu hargai posisi aku, meskipun kamu gak cinta sama aku, tapi aku tetap suami kamu!


Apa susahnya kamu terima dan pakai uang yang aku kasih? Uang itu bukan uang hasil mencuri itu hasil kerja kerasku.


Silahkan, lakukan semua sesuka hati kamu!


Entah, kapan kamu akan bersikap dewasa.


Dan kira-kira itulah ucapan Revan yang masih terngiang dan membuat Aletta menyesal tak ada habisnya.


Revan yang merasa di remehkan pun tidak pulang seharian.


"Aku gak bermaksud gitu kok, aku cuma masih mau jadi orang yang ada gunanya." gumamnya dengan wajah yang ia tenggelamkan di bantal.


Bagi Aletta maksudnya itu benar, karena ia tidak bisa memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri pada Revan, maka ia mencoba untuk tidak jadi beban, tapi tentu itu membuat Revan tersinggung.


Apa kata orang nanti?!


Aletta menantu keluarga Bagaskara tapi masih bekerja di kedai ayam.


***

__ADS_1


"Sial!" teriak Revan masuk ke ruangan basecamp dengan umpatan bahkan mendorong kasar pintu membuat Dimas, Gara dan Jonathan yang ada di dalamnya tersentak kaget.


"Woy elah! Bikin kaget aja sih, suami orang!" nyinyir Gara. Biasalah, Gara itu suka nyinyir orangnya.


Revan tak perduli dengan ucapan Gara memilih duduk di samping Dimas.


"Kenapa lagi sih, Van? Gagal dapat jatah lagi?" kekeh Dimas melihat wajah kusut sahabatnya.


"Ini nih, kalau nikah keburu-buru, harusnya lo pendekatan dulu yang bener, bukan main lamar aja anak orang."


Jonathan memelototi Gara yang berbicara begitu, yang membuat Revan jadi makin bingung saja.


"Kurang gue apa sih?!" akhirnya dengan geram Revan mengeluarkan suaranya untuk bertanya pada ketiga temannya.


"Lo gak lebih ganteng dari gue." celetuk Gara yang langsung mendapati wajahnya di lempar sebungkus snack balado yang tumpah ruah di wajahnya. Ia mau protes tapi Jonathan sudah lebih dulu memperingati dengan mata tajamnya.


"Kali ini kenapa lagi, memang?" tanya Dimas kalem. Bertujuan, agar Revan nyaman bicara dengannya. Revan membuang napas kasar, mengacak rambutnya kesal dan, "Aletta gak terima nafkah apapun dari gue, dia malah kerja lagi diam-diam!"


"Lo semua tau kan darimana gue bisa dapat uang, gue gak minta ayah apalagi ngepet!" dan lanjutan kalimatnya membuat Gara terbahak-bahak. Namun, tidak ada yang perduli.


Jonathan menepuk pundak Revan berharap itu akan membuat hati sahabatnya lebih tenang.


"Mungkin dia belum siap, Van. Jangan terlalu di paksa."


"Dim! Udah mau satu bulan dan dia gak bisa gitu sedikit aja naruh rasa ke gue?"


"Van!" panggil Jonathan misterius, membuat Revan menatap serius pada Jonathan.


"Selain itu, bisa jadi Aletta punya trauma yang berhubungan dengan hal itu." ungkap Jonathan serius.


"Masa sih?" bahkan Gara jadi ikutan serius.


"Gue cuma bilang, bisa jadi. Nggak tau benar atau enggak. " dan benar saja Revan langsung berpikir keras, meski akhirnya mendengus kesal karena tebakan Jonathan tidak berdasar sama sekali.

__ADS_1


Memang, cara menolak Aletta itu tidak tepat karena tidak sejak awal sebelum Revan meminta izin padanya. Terlebih saat menolak sorot mata Aletta sangat ketakutan.


Pernah saat Revan sengaja mengejutkan Aletta dengan memeluk Aletta dari belakang namun perempuan itu langsung berteriak meminta di lepaskan seolah Revan sedang memaksanya.


"Jangan-jangan dia punya trauma tentang hubungan percintaan dan yang berkaitan dengan itu, gitu, soalnya Aletta gak pernah punya pacar lagi kan setelah sama... "


"Stop, Jo! Lo bikin gue tambah pusing, kebanyakan nonton film misteri lo!" elak Revan karena memang Jonathan itu pecinta film bergenre misteri.


"Kayanya bener kata Dimas, dia belum siap. Cuma yang gue heran kenapa dia se-enggak percaya itu dengan kemampuan gue?!" curhatnya.


"Re! Mikir, lo kan manusia paling santuy, cewek mana yang percaya kalau lo duitnya banyak karena kerja. Suruh dateng ke kantor induk aja ogah-ogahan. Malah milih mojok sama Tasya di kelab."


"Sialan lo!" pekik Revan lantas melempar bantal sofa ke arah Gara.


"Sial, bener juga Gara. Apalagi, Aletta itu kan polos dan lugu banget,anaknya disiplin dan rajin banget dari SMA. Taat aturan lagi." dan kini Dimas malah berpihak pada Gara.


"Mana percaya dia sama elo yang hobinya bolos, balapan liar, tawuran, nyebat, minum dan main ce... "


"Bacot!"


umpat Revan memotong kata-kata Jonathan.


Terserah apa kata dunia yang penting Revan pintar sejak lahir!


Lagian maaf saja, soal balapan liar ia hanya pernah sekali itu pun karena di kompori oleh geng musuh. Tawuran juga dia cuma jadi penata strategi dan nonton di lokasi. Minum? Ia saja jarang kalau bukan karena si cabe nyinyir alias Gara sama Rafi tidak mengajak, ia tidak akan pergi minum ke kelab.


Teman-teman nya ini pandai melebih-lebihkan cerita!


Kurang serius apa sih Revan?!


Bahkan sekarang ia sudah mau jadi wakil sang ayah alias wakil presdir.


Harusnya perempuan itu sadar kalau Revan juga bekerja untuk memenuhi kebutuhannya.

__ADS_1


"Aku menikahimu untuk menjamin hidupmu, tapi kamu sendiri malah menyengsarakan hidupmu."


~Revan untuk Alettara~


__ADS_2