My Lazy, Rich Man

My Lazy, Rich Man
MLRM : Mencoba Menerima


__ADS_3

Apa rasa kesal yang Aletta rasakan ini salah?


Menyalahkan takdir yang telah Tuhan berikan, apakah Aletta berdosa? Apakah Aletta sudah sangat tidak bersyukur?


Bukan, bukan itu.


Belajar mencintai Revan itu mudah, sebab lelaki itu pernah mampir di ruang hatinya dan masih meninggalkan jejak yang belum terhapus.


Lalu apa?


Aletta hanya takut. Ia sudah pernah bilang kan?! Dirinya takut, jika dirinya tidak pantas!


Karena kekurangan Revan hanya satu, yaitu pemalas, sudah itu saja.


Bahkan dengan kecerdasannya, lelaki itu mampu membuat kemalasan nya jadi berkelas.


Lalu apa?


Aletta, tetap tidak ada apa-apanya jika di sandingkan dengan Revan. Lelaki itu terlalu sempurna hidupnya, sangat di sayangkan jika harus bergabung dengan hidupnya yang acak-acakan.


Aletta itu percaya diri namun juga rendah diri.


Bukan karena ia tidak berpendirian, tapi memang ada beberapa hal yang membuatnya begitu.


Aletta, sosok paling ceria di antara teman-temannya, setelah ia tahu jadi gadis pendiam itu seringkali di tindas. Contohnya, di tindas oleh Saga. Hanya karena satu, gadis bodoh yang menyukai seorang pria populer yang sesungguhnya tidak cerdas sama sekali. Bahkan Aletta jauh lebih berprestasi di kelas ketimbang Saga.


Bahkan sekarang, ia melihat tatapan menindas dari sorot mata Saga.


"Berhenti lihatin istri gue, gue colok mata lo!" dan gertakan Revan berhasil membuyarkan lamunan Aletta.


Lagi-lagi mengingat bahwa ia adalah istri dari Revan Agra Bagaskara membuatnya benar-benar merasa takut. Bagaimana jika? Ah terlalu banyak kemungkinan yang akan dia kemukakan! Semuanya berjalan dengan begitu cepat.


"Istri lo cantik, Van. Harusnya gue embat dari dulu." seloroh Saga yang membuat Revan lantas membuang wajahnya ke arah lain, untung Saga tahu diri dan segera pergi dari atas pelaminan.

__ADS_1


Pernikahan yang tidak semewah yang terbayang oleh kalian itu membawa ketegangan di antara kedua mempelai. Revan yang masih bimbang dan Aletta dengan perasaan yang campur aduk.


Kenapa tidak mewah, padahal Revan orang kaya? Itu adalah salah satu syaratnya agar Aletta bersedia menikah dengan suka cita.


Tidak sederhana tapi juga tidak mewah sekali, yang penting tidak mempermalukan keluarga Bagaskara.


Senyum, Aletta mengembang kala ketiga sahabatnya datang.


"Wuah, Aletta nikah muda sama Revan lagi!" ujar seorang perempuan berambut cokelat gelap sebahu dengan gaun ungunya sembari cium pipi kanan kiri dengan Aletta. Namanya, Flora satu kelas dengan mereka berdua.


"Aku nggak nyangka loh, Letta sama Revan, kejutan!" seru seorang gadis dengan tubuh agak berisi dengan rambut bergelombang, sembari ia menyalami tangan Revan. Dia, Riri yang paling heboh berdiri di belakang Flora dan tepat di depan Aura gadis kurus yang berdecak kesal karena ia tak kunjung di beri kesempatan untuk mengucapkan selamat pada sepasang pengantin baru.


Setelahnya kepergian tiga teman Aletta, Revan nampak bernapas lega.


"Leganya tiga ulat itu pergi juga." desahnya pelan namun cukup mampu di dengar Aletta.


"Revan! Mereka teman aku, kalau mereka ulat berarti aku juga ulat begitu?!" sewot Aletta berbisik-bisik.


Tapi, Revan sudah putuskan untuk memiliki Aletta selamanya! Dengan cara apapun itu dan dia berhasil memilikinya sekarang meski ada rasa tak enak bergelayut padanya.


Intinya, ia bukan terobsesi memiliki Aletta tapi ia ingin melindungi dan membahagiakan perempuan yang selalu mengisi ruang hatinya dan tak pernah mau pergi.


"Aku cinta kamu." bisik Revan di telinga Aletta yang sekarang sudah merona pipinya.


"Kamu milikku!" tukas Revan lalu mengecup sudut bibir Aletta tak tahu situasi yang membuat Aletta kaget dan refleks memukul lengan kekar Revan.


"Ciumannya di simpan buat nanti malam dong, Van! Nggak sabar amat, Amat aja sabar, woy:" teriak Dimas dari tempatnya menikmati makanan yang di sajikan bersama temannya yang lain.


"Ganas banget sih, Van! Tahan, woy!" ledek Rafi membuat suasana menjadi riyuh. Revan menoleh menatap Aletta dan tersenyum miring seolah dirinya menang sedangkan Aletta menunduk malu.


"Revan kurang ajar, buat malu saja!" batin Aletta mendumel apalagi ketika ia melirik kesana kemari ada bunda Rena yang tertawa, Ayah Anggara juga tertawa, ah seluruh tamu undangan semuanya berbisik-bisik meledek.


Samar-samar ia dengar percakapan dari rombongan teman-teman Bunda Rena dan Anggara.

__ADS_1


'Ya ampun, anak muda jaman sekarang'


'Iya ya beda sama kita dulu, gak ada cerita malu-malu kucingnya.'


'Iya pada berani ya, unjuk keromantisan.'


'Pantas Bu Rena langsung menikahkan muda saja padahal yang perempuan masih kuliah daripada bablas, iya toh?'


dan masih banyak bisikan-bisikan maut yang terasa panas di telinga.


Semua gara-gara Revan yang jahil tanpa seizinnya! Aletta malu di acara pernikahannya sendiri tahu?!


***


Aletta menatap sekeliling ruangan yang bernuansa abu-abu yang kini ada sedikit sentuhan bebungaan di atas tempat tidur beralas kain putih. Kamar pengantin?


Sekarang apa yang bisa perempuan itu lakukan selain mencoba menerima? Ia benar-benar menjadi istri seorang lelaki bebas dan pemalas.


Ya, Revan itu bebas. Punya banyak perempuan tanpa terikat status pacar, alkohol bukan hal asing untuk lelaki itu, malam adalah sahabat lelaki itu dimana malam datang maka Revan akan hadir.


Mendadak, ia teringat sebuah tayangan sinetron di channel berlogo ikan terbang, tentang seorang perempuan yang menikah dengan lelaki yang lebih muda darinya dan suaminya jadi sangat tidak bertanggung jawab, bahkan mengabaikan nya saat hamil lalu lebih memilih bermain play station bersama temannya.


Apa dirinya akan bernasib sama?!


Meskipun, Revan itu lebih tua satu tahun darinya tapi jelas dengan percaya diri ia katakan, dirinya lebih bertanggung jawab!


Cklek!


Tck! Suara pintu terbuka itu mengagetkan Aletta sampai ia tersentak apalagi kala netranya menangkap sosok tegap dan tampan.


Revan.


Jantungnya berdegup kencang, Aletta tentu tidak lupa jika ini adalah malam pertamanya.

__ADS_1


__ADS_2