My Lazy, Rich Man

My Lazy, Rich Man
MLRM : I Miss You


__ADS_3

"Mari kita sambut, Yang Terhormat Bapak Adrian Aksa Wiratmadja!"


Aletta tidak tahu bahwa CEO muda yang mengisi seminar di kampusnya adalah Adrian.


Oh iya, Aletta juga baru tahu bahwa mantan kekasihnya itu adalah seorang pewaris yang baru-baru ini di umumkan oleh perusahaan terkemuka seperti Wiratmadja Corp.


"Ganteng banget, gue sih mau jadi pacarnya."


"Keren ya, masih muda sudah jadi CEO."


"Ganteng, kaya, sukses, muda, sempurna!"


Kira-kira begitu bisik-bisik para mahasiswi yang telinganya jangkau.


Kalau saja, Adrian tidak meninggalkan kenangan buruk padanya, mungkin Aletta akan menunggunya dan menatapnya disini dengan kekaguman yang sama.


Ah, tapi tidak!


Revan-nya juga sama luar biasanya dari pada pria itu.


Bahkan lebih!


Karena, Revan adalah suaminya, suami yang sangat mencintai dan menghargai dirinya.


Tidak akan ada duanya!


Tidak pantas di banding-bandingkan!


Dan apa tadi itu?


Ia dapat menangkap tatapan Adrian yang sesekali menyorotnya.


Dengan wajah masam, Aletta ikut bertepuk tangan setelah Adrian selesai mengisi seminar.


Bersama para mahasiswi lainnya, Aletta bisa melihat bagaimana Adrian berjalan melewati koridor bersama asistennya dengan penuh wibawa.


"Uy! Ganteng tuh, perfect!"


ujar Dini yang tiba-tiba datang dan menyenggol lengan Aletta, menaik-naikan alisnya sebagai isyarat yang mengarah pada Adrian.


"Mending juga suami gue." sahutnya ketus dengan wajah kusut.


"Kenalin suaminya dong, mbak..." goda Dini.


"Enak aja!" sentaknya bergurau, lalu pergi meninggalkan Dini begitu saja, gadis itu masih terpukau pada pesona Tuan Muda Adrian.


"Tampannya..." puji gadis itu dengan kedua telapak tangan yang menangkup wajahnya sendiri, jangan lupa tatapan mata yang mengelukan pria tampan itu.


Pria tampan yang berwajah blasteran Eropa itu benar-benar tampan di matanya.


.


.


.


"Tara!"


Aletta berjengit kaget mendengar panggilan itu, ia tahu siapa yang memanggilnya, ia pura-pura tidak dengar dan terus berjalan menjauh.


"Berhenti!"


Namun, teriakan itu tak kunjung membuat kaki Aletta berhenti berjalan.


"Berhenti, Tara jangan menghindar!"


Dan kali ini, Adrian sukses menghentikan langkah perempuan itu, ia melangkahkan kaki panjangnya mendekati perempuan itu.


"Mau apa kamu?!" bentak Aletta dengan suara tertahan.


"Why?"


"Kenapa kamu selalu menghindar dan seperti marah begitu setiap kita bertemu?" sambung Adrian, dengan wajah keheranan.

__ADS_1


"Hah?!"


Aletta tertawa sumbang, benarkah lelaki di hadapannya bertanya seperti itu?


Apa Adrian sudah tidak punya otak untuk berpikir?


"Tara, please, i miss you so bad!" ungkap Adrian dengan merentangkan tangannya, reflek Aletta mundur dan melihat sekeliling, untung saja sepi.


Ia tersenyum kecut, mungkin jika tidak ada kesalahan gila yang pria ini lakukan, ia akan dengan bangganya menjadi milik Adrian dan ia pasti akan suka di panggil dengan nama khusus yang Adrian ciptakan untuknya.


Ia juga dulu memanggil Adrian dengan nama lain dan hanya dirinya yang memanggil Adrian dengan nama Aksa.


Stop!


Jangan mengingat masa lalu!


"Jangan dekat-dekat aku lagi!" ucapnya penuh dengan penekanan.


"Tara, kau milikku." Adrian ikut menekankan setiap kata-katanya.


"Tidak! Aku milik suamiku, hanya milik suamiku saja, Revan Agra Bagaskara." lawannya dengan mata yang menatap pria itu emosi.


Adrian merasakan nyeri di sudut hatinya, cintanya menatapnya dengan amarah dan kebencian.


"Tara, aku minta maaf tapi aku punya alasan kenap___"


"Aku tidak peduli alasanmu lagi!" tukas Aletta dengan sorot mata yang tajam lalu ia berbalik meninggalkan pria itu yang tengah mematung sendiri.


Jika saja!


Jika saja.... Adrian mengatakan alasan yang ia maksudkan itu tepat saat ia bangun dalam keadaan tanpa busana dan terguncang hebat, mungkin dia masih akan mendengarkan.


Tapi apa?


Setelah malamnya pria itu memaksakan diri padanya, paginya Aletta terbangun sendirian.


Dengan sepucuk surat, yang menerangkan bahwa lelaki itu mengakhiri hubungan mereka karena harus melanjutkan pendidikannya di luar negeri.


"Tara, dengar!" teriakannya masih terdengar oleh Aletta tetapi perempuan itu tak peduli, sekarang tangisnya hampir pecah bahkan Kiran yang bersandar di mobil menunggunya nampak terlihat samar tertutupi genangan air mata yang memaksa untuk jatuh.


'Kenapa kamu muncul, Aksa? Kamu membuka luka lama.' batin Aletta, tangannya mengusap kedua matanya kasar, jangan sampai Kiran melihatnya menangis.


Tapi....


Kiran tidak bodoh, ia di bayar mahal bukan untuk jadi bawahan yang tidak berguna.


"Siapa lelaki itu yang berani membuat istriku menangis?" tanya Revan tegas.


"Orang yang sama dengan yang saya lihat saat Nona ketakutan karenanya." jawab Kiran lantang, namun ia ragu akan memberitahukan Tuannya atau tidak siapa pria itu.


"Cari tahu siapa dia!" titah Revan.


Kiran menggerakkan kedua bola matanya ke kanan dan ke kiri, ia bingung mau memberitahu atau tidak.


"Kau sudah tahu?" selidik Revan.


"Jawab aku!" bentak Revan sembari menggebrak mejanya, membuat gadis itu tersentak.


Revan harus tahu, siapa itu yang membuat istrinya ketakutan dan apa ini tadi?


Menangis?


Sebenarnya apa yang istrinya sembunyikan darinya?


"Itu, dia___". Kiran memejamkan matanya sejenak mencari ketenangan, sorot mata atasannya sangat mengintimidasi.


"Dia___"


"Revan? Kiran disini? Aku kira kamu di ruangan Dio." ujar Aletta yang masuk begitu saja, memotong ucapan Kiran.


"Kenapa kamu marah sama Kiran?" tanya Aletta melihat keduanya bergantian.


Revan mencoba mengendalikan dirinya, ia mengangkat sebelah tangannya sebagai pertanda agar Kiran pergi dari sini.

__ADS_1


Tidak lupa ia memberikan tatapan peringatan, bahwa mereka belum selesai.


Aletta menghela napasnya pelan, lalu mendekati suaminya berdiri tepat di depannya.


"Revan, kamu masih marah?" tanya Aletta khawatir.


"Untuk apa kemari? Bukannya kamu bilang sudah tidak mau datang kesini?" tanya Revan sinis, senyum tipis yang tadi mengembang langsung sirna dari wajah perempuan itu.


"Jangan temui aku sampai kamu bisa menghargai dan mempercayai aku." ucap Revan tegas, Revan bahkan sudah beberapa hari ini tidak pulang ke rumah dan entah tidur dimana dan itu membuat Aletta khawatir.


"Revan...." lirih Aletta, ia menyesal, dirinya tidak akan tahan dengan Revan yang cuek.


Apalagi ini, Revan bahkan tidak pulang.


"Pulanglah, sudah sore!" Revan berbicara tanpa menatap Aletta sedikitpun, matanya tetap fokus pada laptop dan berkasnya.


"Aku gak akan pulang kalau gak sama kamu!" putus Aletta ngeyel.


"Pulang, se-ka-rang!" tekan Revan masih tetap tidak melihat ke arah istrinya.


Aletta menggeleng pelan, matanya mulai berkaca-kaca, ia memang cengeng tapi ia sedang tidak mau menangis semudah ini.


Beberapa hari di tinggal Revan, ia sadar betapa dirinya sangat membutuhkan pria itu di setiap keadaan.


Ia tidak bisa tanpa suaminya, sedetikpun!


Dengan kembalinya, Adrian.


Aletta membutuhkan sandarannya agar tetap kuat dan tidak lemah.


Dengan agresif, Aletta memeluk Revan yang masih duduk di kursi kebesarannya dari belakang.


"Nggak mau, aku gak mau pulang! Maafin aku, aku janji, aku bakal jujur sama kamu, pulang sama aku, aku mohon, aku kangen kamu ,aku butuh kamu, ak___" ungkapnya dengan sesenggukan, tapi....


"Baru sekarang kamu merasa membutuhkan aku, Al?" sindir Revan memotong ungkapan istrinya itu, ia tersenyum remeh.


"Re..."


Aletta tertegun saat Revan melepaskan tangannya yang merengkuh leher pria itu.


Kali ini kesalahannya tidak bisa di maafkan ya?


Biasanya, Revan akan memberikan dirinya kalimat penenang.


Apalagi, pertengkaran kemarin karena ia merendahkan dirinya kan?


Apa karena dirinya tidak jadi bertanya?


Oh, apa karena kemarin ia terlalu kasar bicara pada suaminya?


Entah kenapa, Aletta kurang peka pada kesalahannya sendiri.


"Pulang." pinta Revan dengan nada yang lebih halus dan lirih.


Terpaksa, Aletta keluar dari ruangan itu dengan berlari.


Sebenarnya, Revan tak sanggup melihat istrinya menangis, tapi ia ingin mencoba saran dari Gara yang tumben ada benarnya.


Ia sengaja menghindari Aletta, supaya Aletta menyadari bagaimana jika dirinya tidak ada.


"Gara, kali ini lo ada pinter-pinternya dikit."


Sedangkan, Gara yang sedang makan malam di rumahnya merintih kesakitan karena tiba-tiba lidahnya tergigit.


"Sapa nih yang ghibahin gue?" ucapnya sambil kesakitan.


**Eitsss....


Double update....


Tim Revan apa Tim Adrian?


Author sih Tim Gara**.

__ADS_1


__ADS_2