
Aletta yang tadinya memberontak sekarang justru mencengkram kuat ujung jas Adrian, dalam ciumannya Adrian tersenyum tak merasakan pemberontakan Aletta lagi.
Tapi baru saja ia menyunggingkan senyuman,
Bugg!
Satu pukulan mentah mendarat di punggungnya, yang membuat Aletta terdorong ke belakang dan tersadar kesalahan besar telah ia lakukan dengan bodohnya!
Bugg!
Pukulan kedua itu melayang di pipi Adrian yang berasal dari serangan Revan.
Pria itu kalap, ia emosi saat melihat istrinya yang ia cari malah berada disini bersama sang mantan kekasih.
"Kurang ajar!" umpatnya, kemudian tanpa menunggu lama melanjutkan serangannya pada Adrian yang masih belum bisa melawan.
Adrian tersungkur jatuh, ia menyeka darah yang sedikit mengalir di hidungnya, sedangkan darah yang keluar di ujung bibirnya pudar tersapu air hujan.
Ciuman kerinduan di tengah hujan, berganti jadi perkelahian sengit di bawah hujan antara Revan dan Adrian.
"Sialan!" umpat Adrian lalu membalas pukulan Revan, mereka saling berbalas serangan dan terus berkelahi.
"Revan, udah!" teriak Aletta, karena Revan sangat tidak terkendali, Adrian yang terkenal jago bela diri di angkatannya dulu saja sampai tidak berdaya menangkis serangan Revan yang membabi buta.
Mendengar peringatan istrinya, Revan berhenti dengan senyum kecut tersungging di bibirnya dimana itu menimbulkan rasa perih karena ujung bibirnya yang juga terluka karena tinjuan Adrian.
"Kamu lindungi dia?" tanya Revan dengan tatapan nanar ke arah Aletta, ia bahkan mulai tertawa sumbang, Adrian berusaha bangkit dari posisinya dan mencoba berdiri meski sulit, ia melihat keduanya bergantian.
"Nggak, aku__"
"Kamu bela dia di banding mengerti perasaan aku lihat istriku berciuman dengan lelaki lain?!" tanya Revan tanpa bentakan, namun sarat akan emosi yang ia tahan.
Aletta menggeleng dengan mata berkaca-kaca yang tersamar oleh derasnya hujan yang jatuh malam itu.
Suara mereka bahkan tercampur dengan rintik hujan yang makin deras.
"Bukan gitu!" elak Aletta tegas.
Revan berdecih, lalu tangan kekarnya mulai mencengkram kerah kemeja Adrian lagi, disaat itu juga Aletta berlari memeluk Revan dari belakang untuk menghentikan apa saja yang akan terjadi karena emosi suaminya.
"Jangan! Kamu bisa membunuh dia,Re!" pinta Aletta, yang terdengar semakin menyakitkan di telinga Revan.
"Biar! Biar parasit sialan ini mati!" Revan mulai bersiap memukul Adrian lagi yang cuma bisa menatap Revan dengan tatapan mengejek.
Adrian sengaja!
Pria itu sengaja tidak melawan dengan serius agar mendapatkan pembelaan Aletta!
"Aku mohon, jangan! Jangan buat diri kamu jadi pembunuh gara-gara aku." cegah Aletta yang semakin mengencangkan cengkraman tangannya di perut Revan.
"Bangsat!" Revan melepaskan cengkeramannya pada Adrian sambil mendorongnya hingga jatuh, lalu melepaskan pelukan Aletta dengan kasar dan pergi begitu saja.
Aletta menjatuhkan dirinya, menangis karena menyesali apa yang telah ia perbuat.
"Alettara!" panggil Adrian lemah.
Aletta menengok dengan tegas ke arah Adrian, "Jangan mendekat!" tegasnya, seketika itu juga Adrian menghentikan langkahnya yang tertatih.
"Ini semua gara-gara kamu!" tuduhnya pada Adrian.
"Bukan cuma aku, tapi kamu juga! Jujur saja, Tara kamu masih mencintaiku, kamu merindukan aku kan?" lontar Adrian, pria itu yakin masih ada sedikit rasa yang tertinggal di sudut hati Aletta.
__ADS_1
"Kalau tau bakal kaya gini, harusnya aku buat kamu hamil waktu itu!" ucap Adrian asal.
Plak!
Aletta menampar wajah tampan itu, "Kalau kamu lakuin itu ke aku dulu, mending aku mati!" tukasnya tajam.
"Kalau kamu emang cinta sama aku, kamu gak akan merusak aku bahkan ninggalin aku!" bentaknya yang tepat mengenai sasaran, Adrian akui perbuatannya salah.
"Tapi kebenarannya aku cuma mau kamu tetap jadi milikku dengan atau tanpa keberadaan aku di sisi kamu." jelas Adrian.
"Egois!" tukas Aletta, lalu berbalik meninggalkan Adrian begitu saja, ada yang lebih penting daripada pria itu sekarang.
Revan! Suaminya.
🦋
"Lho? Van, kok kamu basah-basahan?" tanya Anggara saat berpapasan dengan putranya, di depan pintu ballroom, "Terus muka kamu? Kamu kenapa?" tanya Anggara lagi.
"Ayah, tolong jangan kasih tahu Bunda ya?" pintanya lalu berjalan cepat meninggalkan ayahnya.
Anggara yang dalam kebingungannya hendak masuk ke dalam ruang acara lagi, tapi ekor matanya menangkap keberadaan menantunya yang tengah terburu-buru.
"Ayah! Lihat Revan gak?" tanya Aletta yang makin membuat Anggara penasaran setengah mati apalagi setelah melihat penampilan menantunya yang sama basahnya.
"Kalian kenapa sebenarnya kok basah semua? Main hujan?"
"Itu gak penting, sekarang kasih tau Aletta, Revan mana?!" tanyanya frustrasi, ia sangat terburu-buru sekarang.
"Dia barusan pamit pulang duluan katany__"
Belum selesai Anggara bicara, Aletta langsung menuju lift dan menekan tombolnya dengan gusar, menunggu lift terbuka dan tertutup kemudian sampai ke basement terasa begitu lama baginya.
Segera, matanya menemukan suaminya yang baru saja memasuki mobilnya, ia berlari sekuat mungkin dan ikut masuk ke dalam mobil.
Tapi, Revan tidak mengindahkan kehadiran Aletta, ia cuma diam dengan rahang tegasnya yang mengeras menahan emosi yang meluap-luap.
Terserah, jika ada yang bilang dirinya berlebihan.
Pada intinya, ia tidak suka dengan apa yang ia lihat hari ini, ia benci istrinya di sentuh oleh lelaki lain.
Apalagi itu Adrian!
Cinta masa lalu istrinya!
Hatinya di liputi rasa takut kehilangan, mengingat bagaimana sulitnya juga ia mendapatkan pengakuan cinta dari istrinya.
Sepanjang jalan, ia cuma diam.
Aletta juga diam, perempuan itu ingin memulai pembicaraan tapi ia takut.
Belum pernah dia melihat Revan dengan ekspresi seperti ini, ini bahkan lebih mengerikan daripada kemarahannya yang lalu lalu .
"Turun!" titah Revan saat mereka sampai rumah, ia mau beranjak dari duduknya, tapi ia urungkan karena merasa Revan tidak berniat turun juga bersamanya.
"Kamu kok diam aja?"
"Turun dan pulanglah!" ucap Revan dingin.
"Kamu?"
"Jangan pedulikan aku, pikirkan saja kekasihmu yang sudah hampir mati karena aku!" tukas Revan tajam tanpa menatap Aletta, kedua tangannya mencengkram erat kemudi, matanya juga memerah menatap lurus ke depan.
__ADS_1
"Revan, kok kamu ngomong gitu, ayo masuk aku harus obatin luka kamu." ajak Aletta sambil meraih tangan Revan, namun di tepis kasar oleh pria itu.
"Keluar!" titahnya dengan suara menggeram tertahan.
Aletta masih diam dan berusaha menyentuh Revan lagi, "Gue bilang keluar dari mobil gue sekarang juga!" bentak Revan kasar, yang membuat Aletta kaget bukan main, matanya membulat dan berkaca-kaca karena bentakan kasar itu.
"Revan, kamu___"
"Kenapa?! Lo gak suka? Masuk ke rumah lo dan gue gak akan ganggu lo sama pacar lo lagi, kita selesai!" ucap Revan dengan menggebu-gebu tanpa memikirkan apa yang telah ia ucapkan pada Aletta yang sudah menjadi kesayangannya selama ini.
"Revan apa maksud kamu?" tanya Aletta dengan suara bergetar menahan isakannya.
Biasanya, demi Aletta, Revan akan menahan emosinya, menahan keegoisan dirinya, menahan kekesalannya, tapi sekarang entah kenapa Revan tidak bisa!
Satu tetes air mata perempuan itu jatuh, Revan tahu melalui ekor matanya, tapi ia tidak mau melihat ke arahnya atau pertahanannya akan runtuh.
"Gue bebasin lo sekarang, sekarang lo bebas sama cinta lama lo lagi! Kita pisah aja!" putus Revan sepihak, membuat Aletta menganga tak percaya, air matanya makin deras mengalir.
"Nggak, aku gak mau pisah! Aku ngerti kamu lagi emosi sekarang, tolong denger aku___"
"Murahan, sekali murahan tetap murahan, udah gue hargai tapi tetap aja murahan." ejek Revan tanpa melihat Aletta.
"Revan!" pekik Aletta, ia tak menyangka kalimat seperti itu keluar dari mulut Revan.
"Cih! Cuma gue, cuma gue yang mau nerima perempuan bekas Adrian, tapi dengan gak tau dirinya malah jadi penghianat!"
"Kamu salah paham tolong dengar aku, aku mohon."
"Gue males dengar apapun lagi!"
"Jangan sampai kamu nyesal karena gak mau dengar penjelasan aku kali ini, aku mohon aku minta maaf." pinta Aletta yang kini meraih lagi tangan Revan yang lagi-lagi gagal menggenggamnya.
"Keluar, kalau memang lo masih punya harga diri!" kata Revan lagi.
Sakit!
Aletta menyentuh dada kirinya yang berdenyut sakit karena ucapan Revan.
Revan yang dulu begitu mencintainya sepenuh hati.
"Gapapa, kalau kamu masih marah aku ngerti kok, aku__
"Berisik! Gak usah sok baik deh!" potong Revan, "Apa lo udah gak punya malu lagi? Iya?! Pantes udah jadi istri orang masih ciuman sama laki-laki lain!" hina Revan yang semakin membuat jantungnya berdenyut sakit.
"Cukup!" pungkas Aletta tegas, ia menatap nanar ke arah suaminya yang bahkan tak sudi menatapnya.
"Apa rasa cinta kamu ke aku yang katanya tulus itu udah hilang gitu aja, cuma karena tadi? Aku kira kamu benar-benar terima aku apa adanya, Re!" ocehnya sebelum akhirnya bergegas keluar dari mobil Revan dan berlari masuk ke dalam rumah.
Setelah kepergian istrinya, Revan memukul kemudi berkali-kali, sampai tangannya yang tadi sudah sakit karena di gunakan memukuli Adrian jadi lecet karena terus memukul kemudi dengan membabi buta.
"Cih! Cuma katanya?" gumamnya dengan senyum sinis.
Begitu banyak bunga cinta yang ia taburkan untuk Aletta, begitu tinggi ia menjunjung Aletta yang selalu merasa rendah diri, tapi apa balasannya?!
Penghianatan?!
Ia meraup wajahnya kasar.
Kemudian, dengan kecepatan tinggi ia meninggalkan kediamannya yang tadinya adalah tempat yang ia harapkan akan menjadi tempat dimana ia dan Aletta-nya membangun keluarga kecil mereka nantinya.
Kasian Revan ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1
Tapi mulutnya minta di tampol