My Lazy, Rich Man

My Lazy, Rich Man
MLRM : Maaf


__ADS_3

Siang ini ada yang berbeda baru pukul sebelas dan Revan sudah pulang. Padahal, Aletta saja baru bangun tidur siang dan akan masak makan siang, di awal pernikahan kemarin ia akan masak sama bunda, tapi sekarang? Bunda belum pulang.


Tinggal di rumah dengan banyak pelayan begini membuatnya hidup jauh berbeda seperti saat di rumahnya dulu. Dulu mana sempat ia tidur siang. Jika ada kelas pagi dan tak sempat beberes, ia akan melakukannya setelah selesai kelas pagi. Tapi sekarang, setelah selesai kelas pagi, ia bisa langsung tidur meski hanya satu jam.


"Revan kok kamu sudah pulang?" tanya Aletta curiga, bukan rahasia lagi kalau yang ia nikahi adalah lelaki paling malas, paling santuy se- Indonesia, mungkin?


Ia menghampiri suaminya dan mencium tangan suaminya.


"Kangen kamu." ujar Revan santai lalu mendaratkan kecupan di bibir Aletta.


"Aduh!" pekik Revan karena Aletta mencubit lengannya.


"Bisa ya kamu cium aku?!" tekan Aletta.


Oh tentu bisa, kamu istri aku." balas Revan berlagak.


"Memang kerjaan kamu sudah selesai?" tapi Revan tidak menjawab dan hanya diam mengamati wajah istrinya. Tangannya bersiap mendarat di rambut lembut Aletta, namun, "Ish! Kalau ditanya itu jawab, Re!" sentak Aletta menepis tangan Revan.


"Aku mau makan siang di rumah. Masakan kamu pasti enak, aku belum sempat coba." jawab Revan yang menurut Aletta tidak nyambung. Revan yang sedang kasmaran sebab permintaan maaf Aletta yang ia jadikan patokan bahwa perempuan itu telah menerima dirinya sepenuhnya, benar-benar seperti orang gila menurut Aletta.


"Re, aku tanya memang pekerjaan kamu sudah selesai?" ulang Aletta agak geram.


"Aku sudah kerjakan setengahnya dan sisanya aku serahkan pada Dio."


Dio itu asistennya, namanya Cristian Aldio.


"Kok bisa, itu kan tanggung jawab kamu, Re!"


"Aletta, dia asisten ku, itu sudah jadi tugasnua untuk membantuku. Aku sudah beri tahu apa yang harus lelaki itu lakukan. Dia hanya tinggal melakukan apa yang sudah aku kerjakan dengan otakku." jelas Revan menunjuk jarinya pada pelipisnya. Aletta mendecih kesal suaminya selalu membanggakan kepintarannya. Memang sih, suaminya pintar terlalu pintar dan terlalu malas!

__ADS_1


"Kalau kerja kamu malas-malasan begitu nanti ayah gaji kamu sedikit gimana?Aku gak mau hidup miskin." Revan tahu istrinya hanya asal bicara, jadi alih-alih tersinggung ia menyentuh rambut halus itu dan mengusapnya pelan.


"Haha, nggak sayang. Nggak mungkin ayah kasih aku gaji sedikit." elak Revan dengan tawanya.


"Aku gak mau punya suami yang mengandalkan uang dari kekayaan orang tua, Re!" kali ini Aletta bicara serius, matanya bahkan menajam membuat suasana rumah mewah itu jadi agak seram.


"Istriku sayang, kamu kira mobil mewah ku itu hasil meminta dan merengek pada ayah? Tidak! Aku pantas mendapatkan itu karena otakku yang mampu bekerja dengan baik sehingga ayah jadi sekaya sekarang." ucap Revan dengan tekanan di setiap katanya membuat Aletta kesal sendiri.


"Bohong! Aku tahu seberapa malasnya dan liarnya kamu."


"Dan kamu tahu seberapa banyak aku memberi prestasi saat sekolah dulu? Secepat apa aku menyelesaikan pendidikan tinggiku?" tanya Revan serius. Ia yakin Aletta tahu.


"Re, kamu kaya, kamu yakin kamu gak sogok pihak sekolah?"


"Cukup! Sekali lagi kamu menghina suamimu sendiri!" geram Revan lantas pergi dari hadapan Aletta. Tepat saat punggung Revan hilang di balik pintu kamar mereka. Saat itu juga, " Ya Tuhan, maafkan aku yang jadi istri durhaka ini." sesalnya seraya memukul kecil kepalanya sendiri. Niatnya tadi ingin bercanda dengan sedikit mengejek suaminya, tapi ia tak tahu jika gaya bicaranya sepedas itu.


Segera, Aletta berlari ke atas untuk sampai ke kamar mereka dan mendapati bahwa, "Huft! Revan lagi mandi." ia menghela napas panjang lalu menuju dapur untuk makan masakan spesial untuk minta maaf pada Revan.


Selesai memasak ia berniat memanggil suaminya, namun baru sampai di depan pintu, pintu sudah terbuka menampilkan sosok tegap itu sudah rapih lagi dengan setelan kantornya.


"Loh, Re kamu mau kemana lagi?"


"Mau kerja supaya kamu gak malu bersuamikan aku yang bergantung pada orang tuanya." jawab Revan datar seolah menyindir sikap Aletta tadi.


"Re!" Aletta melirik jam dinding, "Sekarang jam dua belas, waktunya makan siang, aku udah masak spesial, ayo makan siang!" ajaknya menarik lembut lengan suaminya.


Tapi Revan tetap tak mau bergerak, "Ayo, Revan suamiku." rayu Aletta kembali menarik lembut Revan. Revan mendengus kasar lalu menuruti mau Aletta meski ia masih sakit hati.


"Mau makan yang mana? Aku ambilkan ya?" tawar Aletta seraya menyajikan nasi di piring untuk sang suami.

__ADS_1


Revan enggan menjawab, tapi Aletta dengan cekatan mengambil tumis cumi untuk Revan dan udang asam manis untuk nya. Lantas, ia duduk di dekat sang suami.


"Kesukaan kamu kan? Bunda bilang kamu suka banget sama seafood." terang Aletta yang malah membuat Revan jadi dongkol.


Ia paham betul segala hal yang Aletta lakukan untuknya semuanya serba kata bunda dan petunjuk dari sang bunda, berbeda dengan dirinya yang memang benar-benar memahami sendiri bagaimana Aletta, apa yang perempuan itu suka dan tidak suka.


"Enak gak?" dan Revan hanya mengangguk tanpa bersuara. Jika tadi Aletta tidak merendahkan posisinya sebagai suami mungkin sekarang ia akan dengan senang hati menyuarakan pujiannya untuk masakan istrinya yang luar biasa enak di lidahnya.


"Re, aku minta maaf. Tadi niat aku mau bercanda tapi... "


"Sudah, jangan di bahas membuatku jadi tidak selera saja." tukas Revan ketus.


"Tapi, Re. Sumpah! Aku gak bermaksud begitu ke kamu, maaf karena tidak berpikir sebelum bicara." sesalnya lagi.


"Oke, tapi ada syaratnya." ujar Revan lantang dan ekspresi Aletta langsung senang bukan kepalang.


"Mendekatlah sini!" titahnya yang benar-benar di turuti oleh Aletta yang bergeser lebih dekat ke arah suaminya.


"Berdiri!" perintahnya lagi yang langsung di turuti oleh Aletta tanpa banyak tanya ataupun rasa curiga di benak gadis itu.


Tak lama, Revan menarik pinggang Aletta yang berdiri di sebelahnya hingga tubuh perempuan itu terduduk di pangkuannya.


"Revan!" pekik Aletta kaget, "Apa yang kamu lakuin, nanti kalau ada yang lihat, malu!" lanjut Aletta berusaha menetralkan rasa terkejutnya agar ia tidak kembali menyakiti Revan dengan ucapan pedasnya.


Tanpa di duga, bukannya menjawab Revan malah mendaratkan bibirnya pada bibir lembut Aletta, membuat mata perempuan itu membulat sempurna. Revan diam disana beberapa lama membiarkan bibirnya merasakan dulu bibir lembut itu sebelum mengecap rasa manisnya.


Dan sekarang saatnya, ia mencecap rasa manis itu, ia mendorong kepala Aletta untuk memperdalam ciumannya, tetapi.


"Astaga, ayah!"

__ADS_1


Sial, pekikan bundanya menghancurkan semuanya.


__ADS_2