
Kalau mau aku rajin update jangan pelit like sama komen yaa
Aku update juga demi kalian, hhee:))
Maafkan aku sekarang jarang update karena hopeless
Revan menjalani kehidupannya yang tenang tapi tidak damai di Swiss.
Tenang karena ia hidup sendiri dan bisa mengobati lukanya, tapi tetap tidak damai karena batinnya terus bergejolak.
Hati kecilnya terus meronta, ingin menjerit bahwa ia merindukan Aletta.
Tapi, ia di tampar kenyataan bahwa karena sikapnya yang impulsif dan terburu-buru sudah membuat perempuan itu lepas darinya, selamanya!
Revan meneguk segelas champaign dengan mata yang telat memerah, ia sekarang jadi seorang yang gila kerja, perokok berat, bahkan mulai banyak minum alkohol.
"Mungkin dia benci aku, karena hinaanku." gumamnya, di susul senyum kecut, ia cuma bisa menatap langit malam dari jendela kaca yang ada di kamarnya.
Ia ingat, bagaimana kasarnya dirinya menghina Aletta dan bagaimana perempuan itu tidak muncul barang sekalipun sejak ia menggugat cerai.
"Kenapa kamu terus menyiksa dirimu?" celetuk seorang perempuan muda dengab rambut panjang yang di ikat kuda.
"Kenapa kau masuk rumahku tanpa permisi, ha?!" tegur Revan tak suka, di iringi candaan.
"Terserah aku lah, balik lagi, kenapa kamu menyiksa dirimu? Padahal, kalian belum resmi bercerai kan?" tanya Anna, gadis itu.
"Sok tau!"
"Aletta gak datang di sidang perceraian, urusan perceraian kalian belum selesai."
"Tapi dia sudah menandatangani surat perceraian itu cukup bagiku, untuk menyatakan kami sudah berpisah."
"Terserahmu lah, aku cuma mengingatkan, jangan sampai kamu benar-benar kehilangannya." ucap Anna memperingati, gadis itu tanpa ragu merebut gelas Revan dan meminum sisa minumannya.
"Hey!"
Anna tak mengindahkan teguran duda tampan di dekatnya dan melenggang dengan cuek begitu saja.
Menuju dapur, dengan percaya diri Anna mencari makanan di kulkas Revan.
__ADS_1
"Apa dia gila? Cuma ada ikan kaleng, minuman kaleng dan telur, apa dia makan telur setiap hari?" cerocosnya, saat melihat isi kulkas Revan.
Ia mengambil telur tanpa izin dan memasaknya, kemudian makan dengan lahap di meja makan dengan satu kaki di angkat ke atas.
...****************...
"Satu aja, Aksa!" protes Aletta saat Adrian memasukkan susu hamil dengan berbagai macam rasa ke dalam trolinya, ini pertama kalinya Aletta keluar rumah setelah sekian lama.
Adrian mengajaknya berbelanja susu ibu hamil dan Aletta setuju, hatinya boleh galau, tapi jangan sampai ia lupa pada kesehatan buah hatinya kan?
"Kita kan gak tau, bisa aja nanti kamu gak suka sama rasa yang kamu pilih? Sejak hamil kan kamu aneh-aneh." cerocosnya, Aletta termenung sejenak, Adrian begitu perhatian padanya seakan pria itu adalah suaminya.
Adrian mengisi tempat kosong Revan di hidupnya saat ini.
"Habis ini kita periksa ke dokter, kayanya kamu aneh, kenapa gak ada mual?" tanya Adrian heran sambil tangannya memilah dua buah merek susu.
"Sekalian juga kita lihat sudah seberapa besar dia disana." ucap Adrian dengan senyuman bahagia.
Aletta juga heran, katanya kalau ibu hamil akan mengalami mual di pagi hari, tapi selain nafsu makan yang meningkat dan keinginan yang aneh-aneh, Aletta tidak merasakan apapun, itu sebabnya ia bahkan tidak sadar jika ia hamil.
"Ambil rasa stroberi!" pintanya pada Adrian, saat netranya menangkap susu stroberi.
"Tapi aku mau susu rasa stroberi, Aksaa..." rengeknya manja, yang tak luput dari perhatian seseorang di belakang mereka.
"Oke-oke, sepertinya baby menginginkannya." kekeh Adrian mengalah, ia mengacak rambut Aletta pelan lalu tangannya turun menyentuh sekilas perut Aletta.
"Aletta? Adrian?"
"Bella?!"
Aletta terkejut bukan main, ia gelagapan bagaimana kalau wanita ini salah paham?
Tapi, mereka sudah putus kan???
"Adrian? Kamu sama Aletta ngapain beli susu ibu hamil? Aletta hamil? Tapi kenapa beli susu hamil kamu yang milihin?" cecar Bella, matanya bergerak tak tenang menatap kedua orang itu bergantian.
"Bella, ini gak seperti yang__"
"Seperti yang kamu pikirkan, Aletta hamil dan itu milikku." tukas Adrian, Aletta langsung mencengkram lengan Adrian.
__ADS_1
Adrian melihat ke arahnya seolah berkata semuanya akan baik-baik saja.
"Adrian! Jadi selama ini kalian benar selingkuh?" Bella menutup mulutnya yang menganga tak percaya, bahkan matanya sudah berkaca-kaca.
"Bella, jangan dengarkan Adrian aku bu___"
"Keterlaluan!" hardik seorang wanita, bukan Bella, wanita itu masih diam karena terlalu shock.
"Bun-da..."
Aletta merasa pusing, kenapa semuanya jadi rumit?
"Kamu benar-benar menghianati anakku? Hah?! Bagus, bagus! Keputusan anakku tepat untuk menceraikanmu, benar kata Revan kamu cuma perempuan murah!" hardik Rena.
Adrian tak terima, ia melangkah maju untuk membela Aletta, "Jangan asal bicara, tante!"
"Heh!" Rena tersenyum miring, "Kamu memang anaknya Indira, sahabatku. Tapi yang kamu lakukan ini? Apa Indira tau bahwa anaknya menghamili mantan menantuku tanpa sepengetahuannya?"
Adrian jadi ikutan tegang, awalnya ia berkata seperti tadi agar Bella tak lagi mengganggu dan berharap lebih tapi siapa tahu bahwa ada Rena yang ikut mendengarkan percakapan sialan tadi?
Adrian menatap Aletta memelas seolah meminta maaf, tapi hatinya juga bersorak senang.
Biarlah ia jahat, tapi ia pastikan Aletta dan anak dalam kandungannya akan jadi miliknya selamanya setelah ini.
"Bunda ini salah paham, ak___"
"Jangan panggil saya Bunda! Saya menyesal sudah pernah sayang sama kamu bahkan membiarkan kamu menyakiti anakku! Jangan mempersulit keadaan Aletta, jangan muncul dihadapan kami lagi!" setelah mengatakan itu Rena berbalik meninggalkan Aletta yang sudah lemas dan hampir jatuh, untung ada Adrian yang menopang tubuhnya.
Sebelum pergi, Bella juga menatap Aletta tak percaya, ia pikir Aletta adalah perempuan baik.
"Aksa, semuanya kacau!"
"Sssttt... sudah lebih baik sekarang kamu harus memperkuat diri kamu demi anak kamu, biar mereka gak akui kalian, yang penting sekarang kamu harus bertahan demi dia, oke?"
Aletta mengangguk pelan, ia ingin mengalahkan Adrian, tapi mengingat tumpuan hidupnya sekarang ada di pria itu, ia jadi tak tega.
Like ya guysss
Tolong dukungannya...
__ADS_1
Satu komentar like ataupun vote sangat berarti buat aku