
Warning 18+
Seisi penthouse yang cuma di huni dua orang itu terasa ramai karena candaan antara Aletta dan Adrian.
"No! Lepas!" berontak Aletta kala tangan kekar Adrian itu mengunci pergerakannya dengan memeluk perutnya dari belakang, sambil tangannya menggelitik leher jenjang Aletta.
"Please, Sa! Stop it! Haha..." gelaknya kala Adrian semakin melancarkan aksinya itu.
Hosh
Hosh
Napasnya tersengal-sengal, ia lelah dari tadi kejar-kejaran bersama Adrian, ia berkacak pinggang sambil menatap Adrian di depannya dengan senyum lebar.
"Capek tahu, dedek bayi pasti capek juga." keluhnya dengan bibir manyun yang nampak lucu di mata Adrian.
"Aw!" pekiknya lagi sebab bibirnya sudah di cubit oleh Adrian.
"Jangan suka manyun kalau aku pengin cium gimana?"
"Cium aja kalau bisa!" tantang Aletta.
"Oh gitu, kamu nantangin aku?" kata Adrian dengan seringai mencurigakan yang tak lepas dari pergerakan bola mata Aletta.
Adrian berjalan maju terus sampai membuat Aletta mundur hingga menatap dinding di belakangnya, suara televisi yang belum di matikan mengiringi suasana aneh di antara keduanya.
Adrian mengurung Aletta yang mulai melunturkan senyum lebarnya.
"Sa, minggir!" pintanya, tangannya mendorong dada bidang pria itu yang sama sekali tidak berpengaruh apapun pada pergerakan Adrian.
Adrian meraih tangan kanan Aletta yang baru saja di gunakan untuk mendorong dadanya tadi, "Heh, tangan ini mana bisa menjauhkan aku darimu?" ejek Adrian, lalu melabuhkan kecupan manis pada punggung tangan Aletta.
Aletta jadi ngeri, cuma tidak se mengerikan dulu, sekarang ia sudah punya perasaan nyaman sama persis seperti saat dulu mereka berdua menjalin cinta.
"Love you, Tara!" ungkap Adrian yang entah sudah ke berapa.
Dag Dig Dug
Jantung perempuan itu bertalu-talu, tatapan Adrian membiusnya. Aletta tidak tahu harus jawab apa, hingga perlahan tapi pasti bibir tipis Adrian berlabuh pada bibir ranumnya.
Dan entah bagaimana, Aletta yang selalu menjaga dirinya dari tawaran cinta Adrian kini tergoda dan menikmati setiap kenikmatan yang Adrian berikan melalui sentuhan bibir itu.
"Enggh..Aksa, No!" tolaknya saat tangan besar Adrian mulai berani nakal menggerayangi lekukan tubuhnya yang masih terbalut pakaian lengkap.
Tak perduli, dari paha sampai ke leher Adrian sentuh lembut, hingga Aletta merasa kegelian ketika sampai di leher.
Adrian tersenyum penuh kemenangan, "Your mine, Tara!" klaimnya tanpa memikirkan lagi bagaimana pendapat Aletta.
Pengaruh kehamilan juga mendukung aktifitas keduanya, hasrat Aletta seringkali menggebu cuma tidak ada Revan yang seharusnya ada di sampingnya.
Dan kini, Adrian menawarkan hal itu.
Ciuman Adrian turun ke leher, bahkan dengan berani pria itu membuat tanda kepemilikan di leher mulus wanita kecintaannya.
__ADS_1
"Aksa, huh..." desah Aletta, tangannya liar meremat bahu hingga rambut pria yang sudah menemani hari-harinya selama ini.
"Jangan, Sa..." larang Aletta dengan suara lemah, saat ia merasakan tangan itu mulai semakin jauh menyentuhnya.
Sadar, Adrian buru-buru menjauhkan dirinya dari Aletta.
"Maaf." ucapnya dengan sesal yang tidak sepenuhnya, karena ia memang mendamba akan Aletta.
"Aku terlalu merindukanmu,sayang." ucap Adrian dalam, tangannya mengelus pipi Aletta yang gembul efek kehamilannya.
"Aksa maaf, tadi aku, aku gak bermaksud kasih kamu harapan palsu karena kejadian tadi, aku cuma___"
"Adakah kesempatan?" tanya Adrian serius, ia menggenggam erat kedua tangan Aletta.
"Give me a chance, please!" pintanya yang kini sudah bersimpuh di depan Aletta.
"Sa, jangan kaya gitu!"
"Maaf, aku tahu aku banyak salah sama kamu, kamu di cerai Revan juga karena kesalahpahaman yang di sebabkan oleh aku, maaf tapi itu karena aku cinta kamu, semoga suatu saat kamu bisa ngerti. Cuma aku yang bisa mencintaimu apa adanya." jelas Adrian panjang lebar, kali ini hal itu menyentuh hati Aletta.
Aletta ikut bersimpuh, keduanya sama-sama terduduk di lantai.
Aletta menangkup wajah tertunduk Adrian hingga mendongak menatapnya.
"Kamu gak sepenuhnya salah kok, aku, aku akan coba." putus Aletta ambigu.
"Coba apa?" tanya Adrian dengan binar harapan.
Terlalu berani, Aletta menaruh dirinya di atas pangkuan Adrian, melingkarkan kedua tangannya pada leher Adrian dan mencium bibir pria itu ragu, namun pasti.
Adrian tertegun, tapi ia segera mendapatkan nalarnya untuk membalas perlakuan langka dari cinta pujaannya.
"Aku harap dengan ini kamu bisa mengerti jawabannya." bisik Aletta tepat di telinga Adrian.
Tersenyum penuh, Adrian dengan percaya diri kembali menautkan bibir mereka, mengangkat Aletta dalam gendongannya, membawa tubuh keduanya ke tempat yang lebih nyaman tanpa melepaskan tautannya.
Hah
Bunyi napas Adrian terengah-engah, kala tautan itu terlepas, "I love you, Tara!" ungkapnya lagi seolah tak pernah bosan.
"Jangan kecewakan aku." sahut Aletta dengan tatapan sendu.
"Gak akan lagi! Sumpah, aku mencintaimu!"
Adrian memeluk erat tubuh itu, Aletta tetap membalas pelukan sang penyelamat hidupnya.
" I am yours, Sa!" ungkapnya, namun tiba-tiba ada perasaan tak enak menyergap perasaannya.
Entah apa itu?
Perasaan menyesal atau bersalah?
"****!" umpat Revan kesal, lagi-lagi setirnya yang harus menerima tinju darinya.
__ADS_1
Harusnya, ia segera menemui Aletta dan mendapatkan kejelasan secepatnya.
Tapi, tiba-tiba ada pertemuan penting dengan salah seorang kolega bisnisnya.
Sebenernya bukan tiba-tiba, cuma dia saja yang melupakannya.
"Dimana Tuan Dirgantara?" tanya Revan pada Dio yang sedang menunggunya di depan restoran keluarga tempat pertemuan mereka terjadi.
"Sudah ada di dalam, Tuan." jawab Dio sopan, lalu mengikuti bosnya dari belakang hingga menemui Tuan Dirgantara itu.
Orang yang disebut Tuan Dirgantara itu berdiri untuk menyapa kedatangan Revan.
"Jadi bagaimana?" Revan langsung pada intinya, soalnya ia sedang kesal, ia tak perduli kalau yang ia hadapi adalah putra dari pengusaha yang di segani Farid Ahmad Danuarta.
Kaisar Dirgantara, kolega Revan itu tersenyum miring, koleganya kali ini sepertinya punya sifat yang mirip dengannya.
"Santai dulu, Tuan Bagaskara. Saya sangat kagum dengan kecerdasan anda, papa bilang kecerdasanmu membantu perkembangan bisnis startup ayah anda." ujar Kaisar basa-basi.
"Sepertinya kabar yang beredar berlebihan ya? Saya cuma mengutarakan pemikiran saya pada saat itu, selebihnya ayah saya yang melakukan. Sudahlah, langsung pada intinya." tembak Revan yang tak sabaran sebab emosinya yang menggelora.
"Saya ingin belajar berbisnis pada anda, orang yang pandai mengelola perusahaan rintisan ayahnya."
"Jangan bercanda, anda bahkan sudah sukses,"
"Belum!" potong Kaisar.
Revan mengernyit heran, kenapa Dirgantara ini terlihat sangat ambisius?
Revan tahu bagaimana agensi entertainment nya berjalan dengan sukses, apalagi ia anak pemilik Earthecnology yang mana memproduksi barang-barang elektronik yang canggih di negeri ini.
Oh ya, jangan lupakan bisnis retail milik keluarga besarnya.
Dengan semua itu, Kaisar Dirgantara tidak akan terkalahkan, ia seorang Crazy Rich sama seperti ayahnya.
"Sewakan saya lahan untuk hotel baru yang akan saya bangun, harus strategis dan tepat!" pinta Kaisar tegas, dana yang ia punya saat ini cuma bisa menyewa dari sebuah perusahaan properti yang sudah lama papa nya kenal.
Kaisar harus merintis tanpa minta modal orangtuanya lagi.
Cukup untuk sebuah agensi saja ia meminjam modal.
"Bisa, salah satu mall keluarga anda juga ada yang berdiri di atas tanah kami, sebelumnya."
"Oke, apa ada lahan di Bandung yang bisa saya sewa?"
"Bandung? Kenapa disana, di Bali lebih menarik bukan?"
"Saya sudah membangun sebuah hotel disana."
"Waw! Sangat bagus!"
Selanjutnya, yang terjadi hanya pembicaraan bisnis yang membosankan.
Koreksi kalau aku ada salah soalnya aku kurang paham soal bisnis real estate dan properti terimakasih semuaaa
__ADS_1