
Aletta dan Revan mulai sibuk untuk kepindahan mereka ke rumah baru, tanpa Aletta tahu ternyata Revan sudah membicarakan tentang kepindahan mereka sejak lama dengan orangtuanya.
Anggara dan Rena pun setuju karena anak dan menantunya memang butuh ruang untuk privasi mereka.
Rumah baru ini tidak begitu banyak pelayan seperti di rumah utama, hanya akan ada tukang bersih-bersih yang datang untuk kemudian pergi lagi.
Urusan memasak, Aletta mengambil tanggungjawab itu tentunya karena dirinya seorang istri.
Tadinya, Aletta bahkan tidak mau menggunakan pembantu, tapi Revan melarang, istri sih istri wajib melayani suami tapi Aletta ia nikahi untuk di muliakan bukan dijadikan pembantu.
Bahkan, pria itu sangat kesal saat tahu ternyata Aletta selama ini menyempatkan diri untuk mencuci pakaian-pakaiannya.
Sungguh, itu membuatnya jadi merasa bersalah.
"Aku bakal betah gak ya disini? Tapi selama ada kamu dimana aja aku pasti betah sih." kata Aletta bertanya dan menjawabnya sendiri, sambil merebahkan tubuhnya di dalam ruangan kamar baru mereka.
"Sekarang kamu juga suka gombal ya?" Revan masih berdiri di depan pintu kamar seraya memperhatikan istrinya.
Aletta langsung duduk dan melihat jelas ke arah suaminya.
"Ah, enggak, aku gak gombal aku jujur! Wlee!" balasnya sambil menjulurkan lidahnya.
"Nanti malam ikut ke rumah Gara ya?" ajak Revan kali ini dengan nada seriusnya.
Aletta juga mulai serius, ia tidak percaya diri untuk hadir ke acara seperti itu, dimana teman-teman suaminya yang pasti tidak setara dengannya.
Ya, Aletta, insecure.
"Kamu mau kan?" ulang Revan berjalan menuju Aletta lalu duduk di pinggir ranjang mereka.
Gimana ya?
Aletta ingin tapi juga tidak ingin!
"Kamu mau ajak aku? Nggak salah?"
"Ya nggak lah! Kamu istri aku, wajar dong kalau aku ajak kamu ke pertemuan bisnis atau pesta." jawab Revan tanpa ragu, lagian kenapa harus ragu sudah seharusnya Aletta mendampinginya sebagai seorang istri.
"K-kamu sendiri aja sih." kata Aletta gugup, matanya mengarah kebawah tangannya mencengkram sprei, ia berada di posisi sulit menurutnya.
"Nggak!" tolak Revan ketus, "Kalau kamu gak mau apa alasannya?!"
"Y-ya, aku, aku kan gak suka keramaian apalagi banyak orang yang gak aku kenal." jawab Aletta sekenanya.
"Ada aku, sayang. Jadi kamu gak usah takut." Revan menyentuh lembut bahu sang istri.
"T- tapi, Revan___"
"Kalau kamu gak mau temenin aku oke gak masalah, kita gak usah datang kesana." putus pria itu sepihak.
"Lho? Ya jangan lah, nanti gak enak sama Gara, pasti banyak teman-teman kamu juga ini kan acara menyangkut kelanjutan bisnis kamu kan?"
"Kamu ikut atau aku juga gak akan hadir!" ancam Revan dengan ekspresi dingin, sukses membuat nyalinya membeku.
...****************...
Aletta memandangi bayangan dirinya sendiri yang memantul di cermin.
Nampak bagus dengan gaun sabrina selutut warna soft blue, kedua belah rambut bagian depannya ia jepit ke belakang dengan jepit mutiara yang nampak biasa namun indah.
__ADS_1
Revan menatap istrinya dengan tatapan seolah dirinya telah terpesona.
Hah! Aletta selalu membuatnya terpesona, begitulah kenyataannya.
Tangan pria itu bergerak mengambil sesuatu dari saku celananya.
Ia mendekati sang istri dari arah belakang, untuk kemudian memakaikan sebuah kalung yang bertahtakan berlian-berlian kecil yang tersusun rapi membentuk sebuah simbol hati.
"Cantik!" puji Revan, pria itu memeluk Aletta dari belakang, menaruh dagunya pada bahu istrinya yang terkespos dan mengecupnya singkat.
"Re? Ini?" Aletta menyentuh kalung yang Revan pakaikan padanya secara tiba-tiba.
"Hadiah kecil untuk istri cantikku! Kamu suka?" tanya pria itu sambil semakin mengeratkan pelukannya.
Aletta mengangguk antusias, "Suka! Ini cantik banget!" ujarnya senang sambil memandangi dirinya sendiri di cermin yang semakin cantik karena kalung pemberian suaminya.
"Kamu tahu?"
"Apa?" tanya Aletta penasaran, Revan memainkan jemarinya di sekitar leher istrinya, lalu mengusap kalung yang telah ia berikan pada Aletta.
Kemudian, ia mengangkat dagu Aletta, agar menatap kembali dirinya di cermin, begitu juga Revan yang menatap bayangan indah Aletta di cermin penuh arti.
"Kamu tidak semakin cantik karena memakai kalung ini, tapi kalung ini menjadi cantik karena kamu yang memakainya." katanya dengan nada rendah, dan itu sukses membuat Aletta merinding, pipinya memerah hanya karena sebuah pujian yang di layangkan suaminya.
Revan yang humoris kenapa jadi romantis dan cool begini sih?!
Semenjak membalas cinta Revan, Aletta bukan cuma bucin tapi jadi baperan!
Melihat wajah menggemaskan istrinya yang tengah tersipu malu, membuat Revan tak tahan untuk tidak menggigit bahu mulus itu.
"Akh! Jangan gigit." rengek Aletta.
"Kamu cantik jadi pengen makan kamu." Revan mencium pipi Aletta, "Apa kita gak usah datang aja ya? Aku kurung kamu di kamar aja gimana?"
Baru saja Aletta mau bernapas lega karena Revan mau membatalkan untuk datang ke pesta.
"Nggak! Gak ada gitu-gituan." tolak Aletta dengan bibirnya yang sudah mengerucut lucu.
Dan disinilah mereka sekarang di tengah banyak orang yang sedang saling mengobrol dan mengangkat minumannya untuk bersulang.
"Akhirnya yang di tunggu-tunggu dateng juga!" seru Gara yang berada di tempat duduk paling ujung ruangan.
Revan langsung menghampiri Gara yang sedang bersama teman-temannya yang lain, untuk melakukan tos.
Aletta hanya tersenyum untuk menyapa teman-teman suaminya.
Ngomong-ngomong, ini pesta formal karena Dinegara Corp. tengah merayakan keberhasilan bisnis mereka, termasuk kesepakatan kerja sama dengan perusahaannya.
"Ciyee, sama istri." ledek Gara yang bahkan tidak bisa serius di acara formal seperti ini.
"Gar!" tegur Dimas menyikut perut Gara yang sukses membuat cowok itu kesakitan.
"Kejam lo, Dim jadi bestie! Gue tau lo laper jadi sensi!"
"Bacod lo ya, Gar! Minta di sumpel sampah!" balas Dimas sambil memasukkan paksa potongan kue bolu yang jadi sajian di meja mereka.
"Jahat lo, Dim! Penyiksaan, KDRT!"
"Kdrt matamu!" balas Dimas sengit, sedangkan Jonathan, Daven, Revan, termasuk Aletta cuma bisa tertawa, bedanya Aletta menahan tawanya dan hanya terkekeh pelan melihat kelakuan Gara dan Dimas.
__ADS_1
"Maafin kita semua ya, Aletta temen-temen Revan baik semua kok, kecuali Gara!" jelas Jonathan yang selalu jadi yang paling waras.
"Nggak sih! Semuanya tuh gak waras, cuma aku yang paling waras." aku Revan berlagak membanggakan dirinya.
"Eleh, aslinya ya sama aja!" gerutu Rafi sambil menyesap jusnya.
"Nggak! Percaya sama aku sayang, suami kamu ini gak sebobrok mereka, apalagi Gara." kata Revan sambil mengacak tatanan rambut Gara.
"Dah lah, kamu sama aja sama temen-temen kamu, kalau nggak ya gak bakal berteman." sela Aletta.
"Kenapa selalu gue sih yang jadi sasaran!" protes Gara dengan wajah masam, menata kembali rambutnya yang berantakan.
"Kelakuan lo bener-bener gak menggambarkan seorang anak dari keluarga Dinegara, jangan-jangan lo anak pungut, Gar?" goda Daven, soalnya Gara ini tidak ada wibawanya sama sekali padahal pewaris selanjutnya adalah cowok itu, karena kakaknya kan perempuan.
Semuanya tertawa karena, ucapan Daven, namun tawa mereka berhenti saat mata mereka menangkap kedatangan seseorang.
"Hai!"
Seketika, semuanya terdiam saat seorang cewek cantik dengan tubuhnya yang bak model itu menyapa mereka.
Bukan Tasya, Bukan!
Cewek itu tidak di undang.
"Bella?" celetuk Dimas dan Rafi bersamaan.
"Hai, Revan? Masih ingat aku?" tanya gadis itu sambil mengulurkan tangannya yang di balas pula oleh Revan.
"Bella? Serius lo, Bella sepupunya Gara, yang dulu kutu buku itu?!" cecar Revan dengan ekspresi keterkejutan tergambar di wajahnya.
Bagaimana tidak?
Sepupunya, Gara itu dulunya cupu, si kutu buku.
Eh, sekarang kok jadi cantik banget, walaupun ya masih cantik Aletta-nya sih.
"Ini? Pacar kamu?" Bella bertanya sebelum akan bersalaman pada Aletta yang selalu di gandeng oleh Revan.
"Istri." koreksi Revan.
"Oh! Astaga, kamu udah nikah? Wah, cantik, namanya?"
"Aletta." jawab Aletta singkat dan tersenyum lembut, entah kenapa dirinya jadi insecure, circle pertemanan suaminya tidak main-main.
Semuanya, putra bahkan pewaris tahta kerajaan bisnis orang tuannya dan seorang public figur.
Bella, perempuan cantik yang sekarang menjadi aktris, namanya sedang naik daun dan sebagai sepupu Gara, Bella menjadi Brand Ambassador produk kosmetik yang baru saja di luncurkan oleh anak perusahaan Dinegara.
Aletta tahu seberapa terkenalnya nama Bella Grachiella saat ini.
**Kayanya yang baca udah mulai banyak tapi kok gak ada suaranya yaaa??
Readers tercinta mana nih suaranya??
Hehehe...
Makasih buat yang selalu setia baca dan dukung dengan like setiap bab My Lazy Rich Man.
Aku tahu kok siapa siapa aja makasih banyakkk....
__ADS_1
Oyaaaa
Crazy Rich CEO jangan lupa mampuiiiirrr**