My Lazy, Rich Man

My Lazy, Rich Man
MLRM : Dingin


__ADS_3

Aletta sangat gugup, karena bunda nampak serius saat mengajak dirinya bicara.


Aletta berdiri di depan Rena yang kini sedang duduk memandang hamparan bunga lily warna-warni yang wanita itu rawat.


"Duduk sini, mantu bunda." Rena tersenyum manis, karena memang begitulah Rena, sangat ramah dan lembut. Bahkan, bisa di hitung dengan jari berapa kali Rena marah sampai berteriak.


Akira mengambil tempat di sebelah Rena duduk di kursi panjang yang terbuat dari kayu lantas Rena langsung memegang tangan Aletta dan membawanya ke pangkuannya.


"Kamu belum siap menikah ya? Maaf, Revan anak kami satu-satunya, kami selalu memberikan apa yang dia inginkan, jadi... "


"Jadi meski itu memaksa Aletta untuk menikah dengan Revan, pasti akan kalian lakukan?" tebak Aletta, namun Rena menggeleng pelan.


"Pernikahan bukan mainan, Raina. Tapi, bunda tahu dengan kamu anak bunda jadi lebih dewasa dan bertanggung jawab dan itu pun hanya demi kamu, jadi bunda yakin kamu yang terbaik untuk anak bunda, semoga saja kamu mau juga menerima anak bunda yang manja itu. Baik-baik sama Revan ya, sayang?"


Aletta terdiam.


Karena ia ingat perlakuannya pada Revan yang sekarang adalah suaminya tidak baik.


"Pesan bunda, bukan sebagai bundanya Revan tapi anggap ini pesan ibu kamu. Siapapun suami kamu, kamu harus menghargai dan menghormatinya, melayaninya dengan ikhlas. Ketika seorang perempuan menikah surganya adalah suaminya." Rena tersenyum agar Aletta tidak merasa terintimidasi dengan nasihatnya.


Sedangkan, Aletta dalam hatinya kurang terima.


Salah Revan melamar Aletta di saat mereka masih belum matang. Aletta bahkan belum tahu cara menjadi istri yang benar. Revan hanya memikirkan tentang asal dia bisa menghasilkan uang dan menafkahi saja.


"Iya, bunda." jawab Aletta terbata.


Aletta menyadari sesuatu, apa mungkin mertuanya tahu apa yang terjadi semalam sehingga muncullah nasihat seperti ini di pagi yang cerah ini?


Setelah semua nasihat bunda, Aletta menghabiskan waktu bersama Rena. Memasak, berkebun, dan bercerita apa saja.

__ADS_1


Sebab, dirinya tidak menemukan sosok Revan sama sekali, kata bunda tadi Revan pamit ada perlu mendadak di perusahaan.


Tapi, ini sudah malam waktu menunjukkan pukul tujuh ini waktunya makan malam dan Revan belum pulang.


Seperti yang tadi di ajarkan oleh Rena, Aletta menyiapkan pakaian Revan, memasak makanan malam ini juga, tapi suaminya belum juga pulang. Suaminya! Ya ampun, Aletta sudah bersuami, ugh rasanya kesal sekali kalau mengingat dirinya menikah saat masih kuliah.


"Enak ya bun, ini semua masakan Aletta?" mendadak lamunan Aletta buyar saat ayah mertuanya bersuara.


"Iya, ayah. Aletta yang masak, pandai masak lho dia, bunda saja kalah." puji Rena, mengingat tadi saat memasak yang awalnya dirinya mau mengajari Aletta malah berakhir Aletta yang membuatnya tahu beberapa trik memasak yang belum dirinya ketahui.


Aletta tersenyum malu-malu karenanya, tapi hatinya merasa kurang enak, karena tidak ada Revan, ya suaminya belum pulang. Apa suaminya marah?


"Cobain, yah. Juara ini enak banget." suara Rena yang menawarkan rendang ayam buatannya pada ayah mertuanya terdengar samar, karena Aletta fokus pada lamunannya. Apa semalam Aletta sangat keterlaluan?


"Nungguin, suami kamu ya? Sudah makan duluan saja, nanti kalau dia pulang kamu tinggal hangatkan masakannya, layani dia makan malam, biar jadi istri idaman." saran Rena yang hanya di tanggapi senyum tipis dan anggukan dari Aletta.


"Lho, gak perlu di sarankan Bunda, kayanya menantu kita sudah jadi istri idaman, pandai masak begitu."


***


Kini waktu menunjukkan pukul sepuluh malam dan Revan masih betah berada di basecamp nya bersama teman-temannya.


"Pulang sono, di tungguin tuh pasti sama istri." celetuk Dimas sembari meneguk bir kaleng dalam genggamannya.


"Memang lo gak ketagihan terus nambah malam ini, hm?" tanya Gara ambigu.


Revan mengerutkan keningnya.


"Alah jangan sok gak ngerti, semalem enak unboxing-nya?" ledek Gara lagi, namun senggolan Jonathan menginterupsi tawanya yang meledak karena ledekannya pada Revan.

__ADS_1


Jonathan tahu, ia peka seperti ada hal yang kurang baik di alami sahabatnya.


"Kalau ada masalah tanyain sama orangnya, kenapa dan apa sebabnya." saran Jonathan yang seolah mengerti ekspresi Revan yang murung tanpa harus menjelaskannya.


"Lo sih, Van. Nikah kok buru-buru banget, masih muda ini. Kacau duluan kan. " dan Gara jadi orang paling idiot yang tidak juga mengerti kalau Revan sedang sedih dan kesal di tolak istri pada malam pertama, di kata brengsek pula.


"Gar, tutup mulut aja deh lo, yang keluar dari mulut lo busuk semua!" cecar Daven sinis. Daven paham kok kemarahan Revan serius, sampai harus menghindari Aletta di rumah seharian.


Setelah Daven selesai bicara, "Gue pulang." karena tiada gunanya Revan disana, ia tak mungkin juga bercerita sakitnya di tolak dengan kasar oleh orang yang di cintainya.


Sampai di rumah, ia melewati ruang tamu dn nampak di sana Aletta duduk dengan mata yang di paksa terbuka.


"Re, kamu udah pulang?" Aletta langsung berdiri menghampiri Revan menyodorkan tangannya namun Revan hanya diam saja.


Lalu, Aletta memutuskan untuk menarik tangan kanan Revan dan mencium punggung tangannya, "Mau salim sama suami." hati Revan yang tadinya dingin jadi menghangat, tapi tak semudah itu rasa kecewanya hilang, palingan Aletta di suruh bunda, sama kaya waktu menikah, karena bujukan bunda.


Revan juga baru tahu kalau Aletta tetap masih terpaksa menikahinya, karena di bujuk paksa oleh sang bunda saat malam di mana Aletta menolaknya, di situ bunda nya langsung meminta maaf, kalau Aletta tidak di paksa mala Revan tidak akan mengalami ini.


"Kamu udah makan, aku tadi masak tapi kamu belom pulang, aku hangatkan ya?" serobot Aletta saat Revan berjalan begitu saja melewatinya.


"Kamu mau mandi? Aku siapin air hangat ya?" lagi-lagi Aletta menawarkan meski tak di gubris oleh suaminya.


Tepat saat mereka sampai di ambang pintu kamar, Revan berhenti mendadak berdampak pada Aletta yang juga ikut berhenti.


Revan menatap Aletta dingin, "Berhenti melakukan sesuatu yang enggak ingin lo lakukan, gue bisa urus diri gue sendiri."


Sakit


"Oh.. jadi gini rasanya di tolak ketika ingin melakukan sesuatu yang tulus?"

__ADS_1


bisik Aletta pada dirinya sendiri. Sumpah!


Aletta tulus kok melakukan semua itu tadi, meskipun Aletta belum mau menikah tapi Aletta tahu apa yang harus ia lakukan sebagai seorang istri, tentu karena Aletta pernah bermimpi menjadi istri yang baik dan ia ingin melakukannya sekarang.


__ADS_2