
Tangannya mengepal kuat saat mendengar nama CEO Wiratmadja Corp itu!
"Jadi ini alasannya, kenapa dia ingin mengenal istriku, hah?!" gumamnya dengan mata penuh amarah.
"Sial!" Revan menggebrak mejanya yang membuat Dio juga Kiran tersentak kaget.
Kiran merutuki dirinya sendiri, karena telah memberitahukan siapa orang itu, padahal Dio sudah mewanti-wanti dirinya untuk tutup mulut.
Dio tidak bisa membiarkan masalah pribadi bosnya merusak kerjasama yang dengan susah payah di usahakan oleh Tuan Bagaskara.
"Saya harap anda tetap bersikap profesional, Tuan." dengan berani Dio menyuarakan pendapatnya saat emosi seorang Revan sedang membuncah.
Revan tidak akan menyalahkan asistennya, Dio memang ada benarnya.
Cuma, apa bisa dia bersikap tenang di hadapan mantan kekasih istrinya?
Mantan kekasih yang memberikan bayangan gelap pada istrinya!
Karenanya, Revan harus bersabar menghadapi sikap aneh Aletta.
Ia menyalakan ponselnya, ada sembilan panggilan tak terjawab dari Aletta dan tujuh pesan belum dibaca.
Kalau boleh jujur, Revan merindukan Aletta tapi, ia sangat kecewa dengan sikap wanita itu selama pernikahan mereka.
Aletta masih belum bisa menghargai dan mempercayai dirinya sama sekali, membuatnya seperti lelaki bodoh yang tidak tahu apa-apa tentang istrinya sendiri.
.
.
.
Adrian menatap aneh pada gadis yang dengan percaya dirinya duduk di ranjangnya.
Andai dia tidak ingat bahwa gadis ini kekasihnya, hampir saja ia mengusir perempuan cantik ini.
"Aku nunggu kamu pulang, aku kangen banget." ungkapnya, lantas ia mendekati sang kekasih untuk memeluknya erat, Bella sangat merindukan kekasihnya, kesibukannya akhir-akhir ini membuatnya jadi jarang bertemu Adrian.
Dengan agresif, Bella mencium bibir kekasihnya, Adrian tak ragu untuk membalas ciuman pacarnya itu.
"Bagaimana harimu?" tanya Bella, tepat saat ia melepaskan tautan bibir mereka.
"Melelahkan." sahut Adrian singkat, "Apa gadisku ini sudah tidak sibuk sampai punya waktu untuk menemui aku?" sindir Adrian yang di balas kekehan kecil oleh Bella.
Bella mengecup singkat pipi pria itu, "Merajuk eh?"
"Nggak!" elak Adrian, ia tidak masalah walaupun Bella tidak menemui dirinya sebulan juga.
Toh, sepertinya Bella tidak mencintainya seserius Flora mencintai dirinya.
Mungkin untuk keuntungannya semata, ngomong-ngomong Bella berada di bawah naungan agensi yang masih dalam lingkup kekuasaannya.
"Yakin?"
"Ya." jawab Adrian singkat, Bella tersenyum miring, tangannya meraba dada kekasihnya sampai pada leher jenjang yang selalu jadi kesukaannya di setiap bagian tubuh pria ini.
Bella mengecup singkat pada leher kekasihnya itu, namun ada satu keheranan yang selalu membuatnya bertanya-tanya selama dua tahun jadi kekasih Adrian.
Seberapa keras ia menggoda Adrian, pria itu tidak akan menyentuhnya lebih dari sekedar ciuman.
"Ada waktu malam ini?" tanyanya sambil menggantungkan kedua tangannya di bahu tegap sang kekasih.
"Hmm, aku rasa tidak setelah ini aku harus pergi bertemu dengan seseorang yang penting." sahut Adrian serius, matanya menangkap wajah cantik Bella yang selalu berusaha menarik dirinya namun gagal, ia masih setia pada Aletta.
"Tck! Aku tidak sibuk tapi kau malah sibuk, menyebalkan!" decak wanita itu pura-pura marah, tapi itu tak mempengaruhi dirinya.
Sampai kapanpun, kekasih hatinya dan pemilik hatinya hanya Aletta seorang.
__ADS_1
Lebih dari Revan.
Adrian adalah lelaki yang di gandrungi banyak wanita hidupnya di kelilingi wanita.
Di Milan, ia memimpin sebuah agensi entertainment, ia selalu berhadapan dengan model dan aktris yang cantik juga seksi.
Bukan sesuatu yang mustahil, jika ada seorang model ataupun aktris yang menggodanya.
Tapi sejauh ini tidak ada yang berhasil menariknya, bahkan Bella sekalipun !
Pernah suatu hari, ia hampir lepas kendali karena merasa bahwa Bella adalah Aletta.
Tapi segera mungkin ia sadar, bagaimana mungkin Bella adalah Aletta?
"Sayang, please..." rajuk Bella, menyandarkan kepalanya di dada bidang sang kekasih.
"Lain kali saja, oke?" bujuk pria itu, "Kamu mau sesuatu akan aku berikan."
"Cuma kamu!" seru Bella.
"Serius? Tidak mau perhiasan atau sepatu baru mungkin?" tawar Adrian.
"Tck! Aku bisa membelinya sendiri!" Bella berdecak dan meninju dada kekasihnya pelan.
"Jangan terlalu sering bersama, nanti terlihat oleh media." bujuk Adrian mengelus bahu mulus kekasihnya yang tak tertutup kain, karena pakaian Bella saat ini tidak memiliki lengan.
"Cuma disini, di apartemen kamu."
jawab Bella.
"Yakin kamu tidak di ikuti oleh wartawan? Hey baby, your so famous to now. Semakin kamu terkenal semakin banyak yang penasaran dengan kehidupan pribadimu."
"Oke-oke, aku pulang!" sahut perempuan itu kesal, "Kau tidak mau mengantar kekasih cantikmu ini?" sindir Bella, ia melirik kesal pada Adrian.
"Gracie...."
"Aku akan pergi sendiri malam ini." tukas Bella kesal, memberikan kecupan singkat di pipi Adrian, lalu keluar dari apartemen Adrian.
Adrian merogoh sakunya, untuk mengambil ponselnya yang berdering menunjukkan nomor Alex, asistennya.
Selesai mendengar laporan dari Alex, ia melihat pada pergelangan tangannya, dimana disana melingkar jam tangan merk ternama.
"Oke, setengah jam dari sekarang mari kita bertemu suamimu lagi, Tara." gumamnya lalu kembali bersiap untuk malam ini.
...****************...
"Saya ingin kerjasama antara perusahaan kita di batalkan!" tukas Revan tegas.
"Sepihak? Kenapa? Saya pikir perusahaan anda yang membutuhkan kami bukan?"
"Rasanya aneh, bekerja sama dengan orang yang menjadi masa lalu istri saya."
Dio membuang wajahnya ke samping dan mengusapnya kasar, sudah ia duga Revan tidak bisa profesional.
"Apa maksud anda?"
"Jangan pura-pura tidak mengerti, anda menemui istri saya akhir-akhir ini bukan?"
Adrian diam-diam tersenyum sinis, ternyata Revan sudah tahu.
"Saya harap anda profesional, Pak." kini Alex, asisten dari Adrian yang berbicara.
"Diam, anda hanya seorang asisten!" hardik Revan tak suka.
"Memang kenapa kalau dia asisten, dia asisten saya dan akan lebih baik jika anda tetap bersikap profesional." tukas Adrian, masih mencoba tetap tenang.
"Tuan, jangan mencampur urusan pekerjaan dengan urusan rumah tangga anda, saya mohon." bisik Dio, namun Revan hanya melengos.
__ADS_1
"Bisnis tetap bisnis dan soal Aletta, lebih baik kita serahkan padanya, ia memilih hidup denganmu atau denganku." ujar Adrian tersenyum meremehkan, ternyata Revan sudah tahu tentangnya dan Aletta, ia akan lebih leluasa untuk bersaing.
"Ngomong-ngomong, aku masih mencintainya, aku harap dia kembali padaku." ucap Adrian dengan percaya dirinya.
"Kau cuma masa lalunya, disini akulah pemenangnya!" aku Revan dengan bangga.
"Tapi akulah yang pertama untuknya." balas Adrian dengan angkuhnya.
"Adrian!!"
Revan geram mengetahui maksud dari pria itu, ia tahu saat pertama kali ia menyentuh istrinya, ia tahu bukan dirinya yang pertama.
Tapi, Revan memilih diam dan tidak mempertanyakan itu demi menjaga perasaan istrinya.
"Aku dan Aletta yang berpacaran saja bisa putus, bisa saja kalian bercerai kan?" ucap pria itu tak mengindahkan peringatan dari Revan.
"Jaga bicaramu, Tuan Wiratmadja!" teriaknya, wajahnya sudah memerah tersulut emosi, tangannya mengepal kuat dan lengannya di tahan oleh Dio.
"Anda pikir kenapa Aletta tidak mau di sentuh oleh suaminya sendiri? Aletta masih mencintai saya, saya tahu itu."
Sukses!
Adrian sukses menyulut api dalam hati Revan dengan karangannya.
Ia dapat melihat amarah yang susah payah di tahan oleh pria di hadapannya kini.
"Batalkan saja kerjasama ini, tapi ingat bukan aku, tapi perusahaan mu yang akan merugi disini." tegas Adrian, pria itu berdiri dari duduknya.
"Silahkan berpikir, aku tidak akan memberikan kesempatan lagi, kecuali kembalikan Aletta padaku." tukas Adrian, pria itu pergi sebelum Revan membalas ucapannya.
"Sialan!" teriak Revan geram.
"Saya sudah bilang, jangan membatalkan kerjasama ini sembarangan, perusahaan mereka masih jauh lebih kuat dari kita, Tuan!" kini Dio sendiri pun jadi kesal dengan Tuannya itu.
Habis ini, dirinya pasti akan di ceramahi oleh Tuan Anggara.
"Diam kau!" hardik Revan, setelah kepergian Adrian dari ruangannya.
Revan semakin tak terkendali, ia membuat ruangannya berantakan karena ulahnya.
Pikirannya berkecamuk, apa karena Adrian, istrinya jadi begitu sulit menyerahkan diri padanya dan mencintainya?
"Aletta!!!" teriak Revan frustasi, ia merosot dan terduduk di lantai dingin ruangannya sendirian dengan lampu yang mati.
Begitu sulit rupanya mempertahankan cintanya pada Aletta-nya!
Sulit dan sakit!
Ia meremas selembar foto di tangannya, foto dimana ada istrinya dan pria sialan itu!
Bukti hubungan mereka di masa lalu yang tetap membuatnya cemburu.
Aletta cuma miliknya dan sudah jadi miliknya seutuhnya.
Ia takkan membiarkan pria sialan itu merebut istrinya.
Perjuangannya sudah sangat panjang, ia bahkan menerima Aletta sepenuh hatinya.
Menerima bahkan mencintai setiap kekurangannya.
Konflik sebenarnya sudah muncul nih ya guys?
BOSEN GAK SIH ?
Maaf deh aku bukan author yang jago soalnya hehe
makasih dah mau baca cerita GAJEKUU 😅
__ADS_1
btw triple up nihh