My Lazy, Rich Man

My Lazy, Rich Man
MLRM : Between


__ADS_3

Flora Angkasa Bunga, setengah hidupnya sudah ia habiskan untuk mencintai seorang pria dingin yang jadi teman sekaligus bunga cinta di masa kecilnya, Adrian Aksa Wiratmaja.


Tetapi, pria itu selalu mencintai sahabatnya, Rayna Alettara.


Namun, hal itu tak membuat dirinya membenci sahabatnya, ia memilih diam.


Diam, memendam semua rasanya, membiarkan Adrian pergi jauh dari pandangannya.


Lalu, menyaksikannya kembali dengan menggandeng kekasih barunya, Bella Grachiella, seorang aktris ternama.


Dirinya kalah, selalu kalah!


Bahkan saat pria itu sudah memiliki Bella di sisinya, Aletta tetap menghuni hatinya dan membayangi pikirannya.


Kapan?


Kapan?!


Kapan nama Flora Angkasa Bunga akan terngiang di pikiran pria itu.


Kapan sosok Flora Angkasa Bunga menjadi yang selalu di rindukan pria itu.


Kapan seorang Flora Angkasa Bunga menjadi udara yang dibutuhkan Adrian untuk bernapas.


Seperti dirinya yang selalu menjadikan pria itu seakan-akan adalah napasnya.


Tanpa Adrian, Flora tak bisa menghirup udara dengan tenang.


Gadis itu, Flora hanya bisa diam menatap punggung Adrian yang menjauh dari pandangannya.


Tangannya meremas ujung baju yang ia kenakan.


Pikirannya melayang mengingat apa yang bunga cintanya katakan sebelum pergi.


"Kita mustahil, gue cuma mencintai Alettara."


"Lo lagi mengarang cerita?! Sejak kapan, Flo? Lo suka gue? " pria itu tertawa sumbang dan menatap Flora, remeh.


"Gue bahkan punya Bella, gue punya pacar."


"Kita cuma teman masa kecil."


"Kalau, lo butuh gue panggil gue, tapi jangan harap cinta dari gue, Flo! " kemudian tanpa rasa berdosa, pria itu pergi begitu saja tanpa kata maaf karena telah menggoreskan luka di hatinya.


Kenapa, Flora harus mencintai seseorang yang bahkan tidak peduli dengan dirinya?


.


.


.


.


Di tengah jalan yang sepi juga di temani rintik hujan yang semakin deras di malam yang gelap, begitu juga dengan air matanya yang semakin deras.


Kata hatinya tak pernah salah, perkiraannya selalu tepat, tapi kali ini tidak!


Tetap diam dan menyimpan perasaannya pada Adrian adalah hal yang paling benar!


"Flo!" panggilan dari seseorang yang ia kenal, sahabatnya kah? Tapi, ia tak bergeming sedikitpun, ia memilih diam, hatinya sedang dalam suasana buruk, ia tak mau menyakiti sahabatnya dengan kata-katanya yang mungkin akan kasar jika ia bicara sekarang.


"Flo!" teriakan itu terdengar lagi, namun Flora memilih pergi dari tempatnya memasuki mobil miliknya tanpa menoleh sedikitpun.

__ADS_1


"Maafin gue, Al..."


Flora sudah cukup lelah berada di antara cinta dan persahabatan ini.


Ia tak ingin hatinya yang sedang hancur mempengaruhi lisannya saat berhadapan dengan Aletta nanti.


Aletta, perempuan itu lesu karena sahabatnya tidak mendengar panggilannya atau pura-pura tidak dengar?


Akhirnya ia menyuruh Kiran untuk kembali melanjutkan perjalanan mereka untuk pulang.


Ngomong-ngomong, Aletta baru pulang dari rumah ayahnya.


...****************...


Adrian bukan seorang pria baik, sebaik yang Flora banyangkan, namun entah kenapa gadis itu selalu menatapnya dengan kekaguman.


Mungkin saja, karena dia adalah sosok yang selalu jadi pelindungnya.


Hanya saja, itu cuma sebagai teman dan ya, sayang sebagai seorang kakak pada adiknya, tidak lebih!


"Maafin gue , Flo. Gue sayang lo, tapi cuma sebagai adik gue. Gue gak mau lo, merasa lebih sakit lagi." gumamnya, ia meninju stir mobilnya, ia tak peduli jika itu meyakiti tangannya, hati Flo, pasti lebih sakit dari ini.


Adrian bukan tak tahu, ia tahu meski Flo tidak bicara, Adrian peka!


Ya, tapi ia bisa apa?!


Hatinya memilih, Aletta!


Ia membuka layar ponselnya, mencari-cari sebuah foto, lalu memandanginya dengan teduh.


Itu adalah gambar dirinya dan Aletta, saat mereka saling mencintai, ada dirinya dan gadisnya yang tersenyum cerah disana dengan seragam SMA.


Ia mengusap layar ponselnya dengan ibu jarinya tepat di bagian wajah Aletta.


Ia mengingat betapa gila dirinya, ia di paksa kakeknya untuk kuliah di luar negeri dan saat sebelum ia meninggalkan gadisnya, ia benar-benar menandai Aletta.


"Maaf untuk itu." pikirannya melayang pada malam di mana ia memaksa Aletta.


Ia melakukan itu agar, tidak ada orang lain yang bisa memiliki Aletta selain dirinya, gila memang.


Dan tentu!


Adik manisnya itu ikut membantunya.


Bagaimana perasaannya saat itu? Entahlah!


Adrian tidak tahu.


Hah!


Tapi apa?!


Saat di Milan ia mendengar pernikahan gadisnya dengan seorang pria.


Itu membuatnya frustasi hingga ia menemukan Bella.


Ia lebih kesal lagi saat menemukan gadis pujaannya bersama dengan suaminya, di pesta sepupu Bella.


Ingin rasanya ia memeluk gadisnya erat.


Ia rindu sangat rindu.


Tapi kata Flora, Aletta memiliki trauma.

__ADS_1


Dan itu gara-gara dia.


Menyesal, tapi itu yang dia inginkan, Aletta yang hanya akan jadi miliknya dan kembali padanya.


Baginya, Revan bukan rival yang harus di takuti, baginya mereka sebanding, keluarga Wiratmaja tidak kalah jika di bandingkan dengan Bagaskara dan yang paling penting perusahaan keluarganya lebih dulu berdiri.


Ia tidak kalah berkuasa jika di bandingkan dengan suaminya Aletta.


Tapi, Adrian bukan tipikal orang yang memamerkan kekayaannya.


Tidak banyak yang tahu, Adrian adalah pewaris utama Wiratmadja Corp.


...****************...


Pria itu, Adrian.


Tersenyum miring saat melihat siapa yang akan ia temui.


Ini hari ketiga dirinya menjabat sebagai seorang CEO dan sepertinya ini adalah hari baiknya.


Adrian melangkah mendekati perwakilan dari perusahaan yang mengajukan kerja sama dengan perusahaannya itu.


"Dengan, Tuan Bagaskara?" sebutnya pada lelaki yang sedari tadi telah menunggunya.


Revan bahkan tidak menyangka bahwa, ia akan menemui CEO baru dari Wiratmadja Corp.


Dan dia adalah kekasih Bella?!


"Sepertinya perkiraan anda salah, anda butuh bahkan sangat penting untuk mengenal saya." ujarnya dengan senyuman yang nampak licik di mata Revan.


Pria itu!


Ia benci bagaimana pria itu memandang istrinya dan bagaimana senyum pria itu meremehkannya.


Kenapa harus, ah tidak!


Bagaimana mungkin bisa dia adalah pewaris tahta Wiraatmadja!


"Baik, saya akui itu. Tapi, untuk mengenal istri saya tidak perlu kan?" Revan menjawabnya setenang mungkin.


"Perlu, sangat perlu! Apalagi istri anda sangat cantik!" tekan Adrian yang membuat rahang tegas Revan diam-diam mengeras.


"Saya bercanda. Mengenali istri dari kolega bisnis saya itu penting,bukan?" sambung Adrian dengan nada gurauan, pria itu berusaha mencairkan suasana, ia sadar bahwa lawannya telah terpancing.


"Lagipula, saya memiliki Bella yang luar biasa." lanjutnya lagi, namun tidak pula melunturkan emosi yang telah berkecamuk di hati Revan.


Jika saja, ayahnya tidak memaksakan untuk harus bisa bekerjasama dengan perusahaan lelaki ini.


Lebih baik ia batalkan semuanya!


"Jadi bagaimana?" ucap Adrian lagi, sebab Revan sedari tadi hanya diam.


...****************...


TIM REVAN


ATAU


TIM ADRIAN


komen dibawah....


author sih tim Adrian garis keras awkwkw.

__ADS_1


__ADS_2