
Lega, itu yang Revan rasakan, sebab tidak ada penolakan dari gadis yang kini resmi menjadi istrinya tersebut. Ia berhasil menjelajahi setiap jengkal kulit itu dengan bibir tebalnya senyumnya tersungging kala ia melihat raut wajah Aletta yang nampak menikmati sentuhannya, matanya kadang terpejam lalu terbuka kembali dan satu desahan kini lolos dari bibir mungil itu.
Bahkan, tangan Aletta sudah meremas rambut Revan saat tangan lelaki itu sampai pada gundukan kenyal miliknya. Aletta hampir lupa diri, ia ingin menolak tapi itu adalah kewajiban dan tubuhnya menerima sentuhan-sentuhan suaminya. Suaminya!
Mereka nampak begitu menikmati awal percintaan mereka sampai saat tangan kekar itu ingin membuka penghalang yang menempel di tubuh istrinya. Isak tangis terdengar saat itu juga.
Rasa nikmat yang tadi berdesir di setiap aliran darahnya seketika buyar, ia sedikit bangkit dan menatap istrinya yang ada di bawahnya.
"Al, kenapa?" tanyanya khawatir.
"Pergi, jangan sentuh aku!" teriak Aletta tiba-tiba yang membuat jantung Revan terasa nyeri. Kenapa? Bukankah tadi istrinya menikmati perbuatannya, tapi kenapa sekarang? Ya Tuhan, sangat sakit rasanya di tolak istri sendiri saat malam pertama.
"Aletta, bukannya tadi... "
"Aku mohon jangan!" rintih Aletta saat tangan Revan bergerak untuk menyeka air matanya.
"Jangan paksa aku, aku enggak mau!"
'Apa ini? Kapan aku memaksanya? Bukanya tadi dia baik-baik saja?' batin Revan bertanya-tanya.
"Aletta... " kembali tangan Revan ingin mengusap air mata yang keluar semakin deras namun yang di dapatnya sungguh menyakitkan hati, dengan kasar Aletta menepis tangan kekar Revan, "Jauhi aku brengsek kamu!" mata Revan terpejam menahan sakit dan sesak di dadanya, apa salahnya sehingga istrinya berperilaku seperti ini, mengatainya brengsek?
Bahkan sekarang Aletta dengan kekuatannya mendorong Revan sampai jatuh terduduk di lantai. Revan mendongak melihat sorot mata Aletta yang di penuhi kebencian dan ketakutan.
Revan hendak berdiri ia masih berusaha mendekati Aletta ingin menenangkan gadis itu, tapi Aletta beringsut mundur seolah takut padanya, akhirnya dengan rasa kecewa berat ia pergi dari kamar pengantinnya dan menutup pintu dengan sangat kencang hingga menimbulkan debuman bahkan kaca jendela kamar itu bergetar karenanya.
__ADS_1
"Apa salahku sama kamu, Al?!" teriaknya frustasi di depan kamarnya. Ia terdiam saat matanya menangkap tubuh bundanya yang tengah menatapnya khawatir, bagaimana tidak?
Sekarang rambut Revan berantakan karena ulah Aletta tadi, kemejanya juga kusut, dua kancing tertanggal sebab ia hampir melakukan ritual malam pertamanya, tapi... tahu sendiri lah kalian.
***
Sedangkan di dalam kamar pengantin itu sepi, tangisan Aletta berhenti mendadak beberapa detik saat pintu tertutup dengan bantingan dari Revan.
"Revan? Astaga, Revan?!" buru-buru ia mengusap air matanya kasar lalu turun dari tempat tidur membuka pintu dan melongok kesana kemari berharap Revan masih ada di dekat sana.
Tapi, sepi yang ia dapatkan tentu ini sudah pukul sebelas malam lewat empat puluh enam menit. Seluruh pelayan di rumah ini juga sudah terlelap pastinya. Rumah besar ini benar benar-benar lenggang.
"Revan. Ya ampun apa yang aku lakukan, dia pasti marah." air matanya kembali membanjiri pipi. Ia menyesal kenapa ia bisa tidak mampu mengendalikan dirinya.
Aletta membuat suaminya marah di hari pertamanya menjabat sebagai istri.
Meskipun, ia belum yakin dengan Revan. Tapi lelaki itu suaminya, yang ia pilih menjadi teman hidupnya walau terpaksa.
Tapi, biar bagaimana juga, ia mengharapkan malam ini adalah malam paling romantis dalam hidupnya. Tapi apa?!
"Ya Tuhan, ampuni aku."
***
Pagi datang dengan membawa kicauan burung, kokokan ayam dan tentu sinar mentari yang cerah. Dulu Aletta pernah membayangkan pagi pertamanya menjadi seorang istri ia akan bangun terlambat karena lelah melayani suaminya di malam pertamanya, tapi kenyataannya ia lelah karena menangis semalaman. Matanya bengkak, bawah matanya menghitam, hatinya menyesal.
__ADS_1
Dulu ia pernah membayangkan saat ia terbangun, ia akan menangkap sosok suaminya di sebelahnya masih terlelap dengan damai.
Tapi, kenyataannya sekarang, suaminya tidak ada dan itu karena Aletta yang mengusirnya.
"Maafkan aku, Revan." gumamnya pelan sekali.
Lalu ia segera membersihkan diri karena semalam ia tidak jadi mandi. Setelah ia selesai ia bersiap memakai pakaian yang sopan, menyisir rambutnya lalu mengikatnya ekor kuda.
Tak lama, terdengar ketukan pintu dari luar.
Ia membuka pintu dan tampak seorang pelayan wanita yang nampaknya masih muda.
"Maaf, Nona. Sudah ditunggu di ruang makan."ujarnya sopan.
"Oh iya, baiklah." lalu ia mengikuti pelayan itu menuruni tangga dan berjalan hingga sampai pada ruang makan yang telah ada tiga orang duduk di depan meja makan.
Revan, Ayah dan Bunda. Tentu saja!
"Maaf, Aletta terlambat." ujarnya tak enak, ia menggigit bibir bawahnya karena gugup, takut kalau bunda mertuanya itu akan marah karena sebagai menantu ia malah bangun terlambat.
"Sini sayang duduk di sebelah suaminya. Nggak apa-apa, Raina menantunya bunda. Semua orang di rumah ini bangun terlambat, bunda sama ayah juga capek jadi bangun telat sama kaya kamu." ujar Rena dengan senyum sumringah di ikuti anggukan Anggara yang berarti membenarkan ucapan istrinya.
Ada rasa ragu saat ia ingin duduk di sebelah Revan, ia ingat kelakuannya semalam pasti menyakiti suaminya. Bahkan kini lelaki itu hanya duduk tanpa ekspresi, tidak tersenyum sama sekali. Aletta menoleh ke arah bunda, bunda mengangguk tanda bahwa tidak apa-apa, Aletta duduk di sebelah Revan.
Akhirnya, ia duduk di sebelah Revan. Namun, makannya tak enak dan tak nyaman. Karena, ekspresi suaminya benar-benar dingin. Bahkan saat bunda nya mengajak berinteraksi Revan hanya menjawab seadanya saja.
__ADS_1
"Aletta, selesai sarapan temui bunda di taman belakang ya sayang." beritahu Rena sembari berdiri lalu pergi dari ruang makan di susul oleh Anggara dan kemudian Revan tanpa mengucap sepatah katapun.