
Apapun kesalahan Aletta, se- kecewa apapun Revan pada istrinya itu. Akhirnya, ia akan kembali menghangat setiap melihat istrinya tersenyum meski hanya senyuman tipis.
Bagi Revan kebahagiaan Aletta adalah salah satu kebahagiaannya juga.
Tidak tahu saja kalian, Revan pertama kali jatuh cinta pada Aletta bukan seperti di novel atau drama dimana ia melihat gadis manis ceria dan tersenyum lebar serta menawan menebarkan aura kelembutan.
Tapi ia jatuh cinta saat melihat raut wajah Aletta yang sangat penuh amarah.
Saat gadis itu berjalan kencang dengan emosi penuh entah apa yang jadi pemicu emosinya saat itu.
Dan sekarang setelah bertahun-tahun, Revan tahu segala emosi gadisnya adalah caranya untuk menutupi luka hatinya. Dan itu, membuatnya semakin ingin melindungi gadisnya dan membawa gadisnya melihat kebahagiaan yang sebenar-benarnya.
"Aduh! Re.. lepas dong, aku susah ini masaknya!" protes Aletta saat tangan kekar suaminya memeluk nya dari belakang padahal ia sedang memasakkan makanan kesukaan Revan sebagai permintaan maaf.
"Revan nanti aja mesra-mesraannya yaa.. biar istri kamu lagi mau masakin buat kamu dulu." nasihat lembut bunda terdengar. Ah mengganggu saja, batin Revan.
"Dengerin itu, Re! Mending kamu bantu aku deh." bunda terkekeh mendengar rengekan bercampur kekesalan yang Aletta ucapkan.
"Kan kamu yang bilang mau masak spesial buat aku, biar aku maafin kamu. Masa aku suruh bantu?"
"Ish!" desis Aletta kesal mengingat apa yang suaminya ucapkan adalah benar!
__ADS_1
Sekarang mereka tengah menikmati makan siang bersama di akhir minggu. Berkumpul bersama keluarga memang paling menyenangkan, hati Aletta menghangat mengingat bahwa ia berada di antara keluarga hangat Bagaskara.
"Wah.. kayanya enak nih!" seru ayah sembari menggosokkan kedua tangannya.
"Ya dong, istri Revan nih, yah yang masak!" seru Revan bangga sembari membalikkan piringnya. Aletta benar-benar bahagia ternyata memiliki Revan tidak seburuk yang ia pikirkan. Ia merasa lengkap, suami yang sayang padanya, mertuanya yang baik keluarga yang hangat, rumah yang hangat, senyuman hangat dari semua anggota keluarga, semua yang belum pernah Aletta dapatkan, ia dapatkan disini.
Aku janji, akan berusaha menjadi istri dan menantu yang baik mulai sekarang.
Bahkan, sekarang dalam sunyi dan dinginya malam, yang Aletta rasakan hanyalah kehangatan. Aletta selalu suka sesuatu yang dingin, tapi untuk satu hal hangat ini mungkin ia akan selalu suka.
Pelukan Revan saat mereka tidur.
Ia tidak menyangka bahwa membiarkan dirinya di peluk oleh lekaki yang mencintainya bisa memberikan perasaan senyaman ini.
"Hmm." Revan hanya berdehem pelan seraya mengeratkan pelukannya, pelukan sebelum tidur pertama yang mereka lakukan dengan penuh kasih untuk pertama kalinya.
"Makasih ya selalu mau maafin aku. Aku janji aku akan berusaha jadi istri yang baik buat kamu."
Senyum tipis segera terpatri di wajah tampan Revan. Inilah yang ia tunggu-tunggu.
"Kamu cinta sama aku belum?" pertanyaan Revan yang terburu membuat Aletta mengernyit bingung.
__ADS_1
"Eumm.. aku nggak tau, Re. Tapi, aku akan berusaha, kamu juga ya?" pinta Aletta.
"Untuk apa? Aku sudah cinta kamu dari dulu, sayang." Aletta mengerucutkan bibirnya.
"Re, aku seneng hidup disini kalian baik sama aku." lantas Revan mengecup pelipis Aletta dengan sayang.
"Kamu senang? Kalau begitu tinggallah selamanya disini." dan Aletta mengangguk dengan senyuman penuh.
"Aletta, aku janji aku akan buat kamu bahagia bahkan kalau bisa akan aku berikan seluruh cinta di dunia ini untuk kamu, Al." ujar Revan yang benar-benar membuat Aletta terharu.
"Re.. aku-
"Al, nggak apa-apa kamu enggak cinta sama ak, karena percayalah Alettara, cintaku saja cukup untuk kita berdua. Kamu hanya cukup percaya sama aku, hm?"
Tiba-tiba hati Aletta di sergap rasa takut, ia takut tidak bisa membalas semua yang Revan lakukan. Revan benar-benar suami sempurna.
Sangat mencintainya, sabar menghadapinya, serta selalu mengutamakan kebahagiaan dirinya.
Sedangkan dirinya?
Yang ada dirinya selalu membuat Revan menelan rasa kecewa.
__ADS_1
Baiklah, untuk sekarang Aletta cukup membuka hatinya untuk suaminya dan berusaha menghapus kenangan buruknya dengan segala kebahagiaan yang suaminya janjikan.