My Love My Twilight

My Love My Twilight
Chapter 10


__ADS_3

"Ok mam aq bakal kasih cucu." Senja hendak kabur dari ruangan itu tetapi...


"Tapi mama juga mau menantu." Imbuh mama Inez sambil menarik lengan senja yang melewatinya.


"Katanya yang penting cucu." Ketus senja.


"Mana bisa ada cucu tapi gak ada menantu! Mama gak mau tau pokoknya 1 Minggu lagi kamu ikut mama ke rumah temen mama. Kalo kamu tidak ikut!.." mama Inez menjeda ucapannya tentu untuk mendramatisir kata-katanya.


"Mama bakal kirim kamu ke Afrika ganti in papa kamu yang kerja enggak pulang-pulang."


mama Inez memang cari utung kalo senja menerima tawarannya untuk bertunangan dia mendapat menantu dan cucunya yang lagi otw.


Tapi kalo senja menolak mama Inez benar-benar akan mengirim senja ke Afrika mengantikan suami tercinta yang 3 tahun nggak pulang.


"Mama tuh gak mau rugi ya!" Senja mendengus kesal.


"Makanya anak mama harus nurut ya..." Mama Inez berlalu pergi pulang.


"Hufffftt....sabar senja dia itu orang yang melahirkan mu jadi sabar" Gumam senja.


🌼


🌼


🌼

__ADS_1


Nara yang baru memeriksakan kesehatannya pun pulang ke rumah tentu saja dengan raut wajah di tekuk.


Nara sedang berfikir bagai mana bilang kepada orang tuanya kalo dia sakit? Orang tuanya saja sering sedih ketika Amanda penyakitnya kumat.


Kalo sampe tau dia sakit bukankah malah menambah beban fikiran orang tuanya dia merasa tidak mau merepotkan dan membuat sedih orang tuanya.


"Ara kamu kalo main gak inget waktu ya!" Teriak mami rina yang menuggu putrinya dari tadi.


"Tadi Liora pilih bajunya lama mah." Nampak muka Nara yang terlihat lelah.


"Kamu ini kan tadi mami dah berpesan hanya boleh main 3 jam tapi kamu malah main 4 jam kalian pilih baju apa pilih suami?" Mami Rina duduk di samping Nara yang duduk di sofa ruang tamu mami Rina agak cemas menatap putrinya yang terlihat kelelahan.


"Ya udah kamu mandi terus tidur liat muka kamu udah kayak bukan anak mami."


"Terus anak siapa aku kalo bukan anak mami." Nara berdiri dari duduknya langsung menaiki tangga menuju kamarnya.


"Aku harus bagaimana?" Nara memegangi dadanya yang sakit.


Nara masih ingat kata dokter tadi dia harus di operasi. Bukan masalah biaya atau kesiapan Nara melakukan operasi.


tapi masalahnya apa orang tuanya tidak akan sedih saat tau dia harus di operasi?


"Ya tuhan aku harus bagaimana aku harus di oprasi tapi aku takut orang tuaku sedih" Nara menitihkan cairan bening dari sudut matanya.


Nara meminum beberapa obat yang diberi dokter setelah meminum obatnya Nara mencoba menutup matanya berharap saat bangun keadaannya akan lebih baik.

__ADS_1


Sinar matahari sore itu menerobos masuk begitu saja ke rumah keluarga mahadiratu.


Nara yang telah bangun dari tidurnya pun melucuti semua kain yang melekat pada badannya lalu menyiram setiap jengkal bagian tubuhnya.


Setelah selesai dari ritual mandinya Nara turun ke dapur untuk membatu mami dan kakaknya.


"Anak gadis mami satu ini kenapa mukamu kuyel gitu?" Tanya mami Rina penasaran melihat raut wajah Ara anaknya yang sedari pulang main malah jadi lebih murung.


"Habis berantem sama temennya pasti mi" sahut lelaki yang di pangil Afa itu padahal pangilan itu tidak nyambung dengan namanya.


"Apaan sih kak tadi Ara cuma agak capek aja." Jawab Nara asal.


"Bukanya dari tadi kamu tidur masak masih capek? Kamu sakit?" Ama mulai menebak-nebak tingkah adiknya.


"Ah tentu saja tidak." Nara bergegas membantah ucapan kakaknya yang tepat sasaran.


"Ara mami boleh minta tolong kamu anterin Ama ke bandara besok bisa tidak?"


"Oh bisa memang mami mau kemana?" Nara sedikit bingung pasalnya maminya tidak pernah absen mengantarkan kakaknya pergi ke bandara kalo mau berobat bahkan kalo bisa maminya itu bakal ikut.


"Mami harus ke Jerman besok ada urusan bisnis,mami nggak bisa anterin Ama karena jam terbangnya beda." Mami Rina adalah wanita bisnis jadi wajar jika mami Rina sering bolak balik ke luar negeri.


"Oh baiklah besok ara Anyer kak Ama yang cantik ini biar cepet sembuh..." Ara mencubit pipi kakaknya.


"Aduh... Sakit Ara kalo kamu cubit malah tambah bukan sembuh." Ama mengelus-elus pipinya yang di cubit gemas oleh Ara.

__ADS_1


Tanpa ada yang sadar afa sedari tadi meperhatikan gerak gerik Ara yang tidak terlalu aktif seperi biasanya.


Menimbulkan rasa curiga di hati afa.


__ADS_2