My Love My Twilight

My Love My Twilight
Chapter 51


__ADS_3

Tapi senyum ini berbeda senja terlihat tersenyum dengan ikhlas dan penuh cinta hingga Nara benar-benar melihat dengan jelas rasa cinta yang terpancar seperti lampu senter dari wajah senja.


Dia bertanya-tanya kemana seja yang tadi bersikap cuek?Entah mungkin pintu tadi pintu ajaib sehingga merubah sikap senja pikir Nara saat ini.


Senja membukakan pintu mobil saat mereka telah di luar masion Nara pun tak protes dia melangkah dan duduk di mobil dengan cuek.


Tak lama senja masuk ke mobil.


"Pakailah sabuk pengaman atau kamu mau aku pakaikan." Senja masih saja tersenyum mengingat apa yang akan dia lakukan hari ini bersama Nara.


"Bisakah kamu berhenti tersenyum gitu? Aku merasa merinding...seperti kamu sudah berencana untuk hari ini." Sanja hanya diam sambil tersenyum tanpa niat untuk melunturkan guratan kebahagiaan itu.


"baiklah mari kita mulai rencananya!."gumam senja semangat berkobar-kobar.


Setelah beberapa menit akhirnya mereka tiba ke sebuah rumah yang berwarna Biru warna kesukaan Nara. Jangan tanya bagaimana senja tau karena selagi ada uang semuanya beres.


"Wah.. ini rumah siapa? Bagus banget.."


Nara terkagum-kagum melihat pemandangan rumah biru seperti rumah impiannya dengan sekeliling terdapat bunga yang tersusun rapi tak lupa dengan pagar yang mengelilingi rumah tetapi di pintu masuk terdapat bunga Bugenvil berwarna pink melengkung seakan menyambut semua orang yang mau masuk ke sana.


"Dulu ada yang menawarkan rumah ini padaku dengan harga yang murah tentu aku nggak mau lah menyia-nyiakan-nyiakan rejeki jadi aku beli saja. Kalo mau kamu boleh ambil rumah ini." Senja berucap sedatar mungkin padahal dia sengaja membeli dan menghiasi rumah itu seperti rumah impiannya Nara.


Tentu saja itu semua berkat kerja keras Ziyu mencari info dan mengerjakan semuanya sang asisten yang selalu ada selalu bisa dan bebas ongkir pula.


"Serius kak?" Tanya Nara berbinar mana mungkin dia melewati keberuntungan seperti ini.

__ADS_1


"Iya naraku..." Ujar senja sambil mengacak rambut Nara gemas.


Deg...


"Naraku dia bilang?"bantin Nara dengan dentungan jantung yang entah mengapa terasa begitu membuat gugup dan salah tingkah.


"Ayo kita masuk." Senja memegang tangan Nara menariknya untuk masuk ke dalam rumah melewati bunga Bugenvil yang melengkung.


"untuk sekarang biarlah bunga Bugenvil yang melengkung nanti pada saatnya janur kuning lah yang melengkung.."


"iihh kok serem bukan rumahnya atau tetangganya tapi ni orang yang di samping serem sumpah! Dari tadi senyum-senyum kek gitu jadi merinding."


Begitulah pikiran Nara dan senja saat ini terhanyut dengan fikiran masing-masing.


Sesampainya di depan pintu, senja melepas genggaman tangannya dan berbalik menatap Nara.


"Nggak mau! 1000 itu banyak kalo 10 atau 20 mah siap-siap aja lah ini 1000 sampai semut udah buat organisasi kepresidenan belum kebukak nih pintu!" Nara mendengus kesal sambil memalingkan pandangannya.


"Bercanda..." Senja kembali mengacak rambut halus Nara.


"Ihh jangan gitu rambut aku nanti depresi kamu sentuh Mulu! Nanti pada berdiri semua!" Nara merapikan rambutnya seperti semula sambil mengumpat senja yang sedari tadi terkekeh atas tingkah Nara.


"Jadi cepetan kamu hitung." Ujar senja saat Nara sudah selesai merapikan rambutnya.


"Nggak! Kalo 10 aku mau!" Ketus Nara .

__ADS_1


"80." Tawar senja.


"10" Nara tetap kekeh dengan hitungan sampai 10.


"60" tentu senja tidak mau kalah.


"10"


"50?"


"10"


"30"


"10"Nara benar-benar tidak mau mengalah dari tadi.


"30!" Begitupun senja kalo dia tidak bisa mengulurkan waktu selama mungkin mana bisa berjalan lancar semua rencananya.


"10 ya 10" Nara mulai kesal dia benar-benar sudah tidak sabar melihat ke dalam rumah tapi malah di ajak main-main dengan senja.


"Apa salahnya menghitung sampai 30? Bukankah tadi sudah sangat lah ringan di banding 1000?"senja sudah mulai kesal banyak waktu yang Meraka buang hanya untuk di depan pintu.


"Tapi aku hanya mau 10 ya 10" Nara meraih gagang pintu hendak membuka tapi di urungkan setelah mendengar ucapan senja.


"15!?" Senja memijat pelipisnya memikirkan cara supaya dia segera pergi dari sini dan menjalankan rencana berikutnya.

__ADS_1


.


__ADS_2