
Apa aku harus kembali" gumam EL bertanya pada diri sendiri.
"Tidak! Siapa dia? Bukan urusanku!" Timpal balik EL kepada diri sendiri.
"Tapi dia di gudang terbengkalai seorang diri.."
"Mana ada. di sini banya pohon apel...pasti di sana banyak orang yang sedang memetik atau mengolah apel."
"Tapi bagaimana kalo dia mencoba bunuh diri? Aku tidak mau dosa karna sudah mengantarnya."
"Kamu dipaksa EL... Kamu cuman di paksa..." EL merasa gundah dia berjalan bolak balik sambil berdebat dengan dirinya sendiri. Sampai akhirnya dia melihat sebuah apel busuk di bawah pohon itu.
"Itu apel busuk?..oh astaga" EL membuka paksa pintu mobilnya dan bergegas masuk dan memutar mobilnya kembali ke gedung.
Dia tadi berfikir mana mungkin terdapat apel busuk di perkebunan apel yang di rawat. bahkan saat EL melihat sekeliling apel busuk sangatlah banyak. Jadi dia menyimpulkan kalo kebun apel ini tidak lagi di gunakan atau lebih tepatnya di tinggalkan.
Sedangkan kejadian beberapa menit yang lalu di dalam gedung itu...
"Hai! Kamu telah aku temukan! Sebaiknya kamu menyerah!" Teriak seorang wanita kepada sosok pria paruh baya yang tengah duduk di sebuah kursi kayu.
"Nona Liora kamu memang benar seperti berita yang beredar kamu memang cantik,cerdas,dan agresif." Ucap pria itu pada Liora
"Ck. aku tidak butuh pujian dari mafia rendahan sepertimu!" Ucap Liora.
__ADS_1
"Hai...hai... Nona bisakah kau tak menyebutkan kelompok mafia milikku rendahan? Mentang-mentang kelompok mafiamu itu besar dan terkenal kau memaki kelompokku? Asal kamu tau kelompok mafia mu itu pasti akan hancur." Ucap pria itu sambil tanganya meraba-raba meja yang berada di belakang kursinya.
"Heh! Kelompok mafiamu yang akan hancur Margen." Perkataan Liora terdengar ketus.
Liora menodongkan pistol ke arah tuan margen. Tuan margen berhenti meraba-raba meja di belakangnya saat menemukan benda yang dia cari. Dia memasukkan benda itu ke saku celananya.
"Margen sekarang beri tau aku di mana kamu menyimpan berkas-berkas organisasi itu." Liora berjalan mendekat masih tetap mengacungkan pistol ke arah musuhnya.
"Oh.. turunkan senjata mu nona. Aku akan memberi tahumu di mana aku menyimpannya." Margen berdiri dari duduknya dia berjalan ke lantai dua gedung perkebunan itu.
Terdengar hiruk-pikuk orang-orang tengah berpesta dan bermain judi.seketika suara ramai itu menjadi senyap saat seorang wanita memegang pistol dan mengarahkannya ke arah bos mereka.
"Bos!" Teriak salah satu dari kelompok mafia berandalan itu.
"Diam lah! Kalian semua lebih baik duduk berjongkok kalo tidak kalian akan habis di tanganku." Ucap Liora menggelegar di ruangan itu.
"Bukankah kamu mau mengambil berkas-berkas itu sekarang ikuti aku cepatlah!" Margen sudah tidak sabar untuk menghabisi Liora saat dia masuk ke ruangan yang di sebut sebagai ruang untuk menyimpan berkas-berkas.
Margen dan Liora berjalan masuk ke ruangan itu. Margen menunjuk sebuah laci di mana dia menyimpan banyak dokumen.
Liora pun membuka laci itu tetapi kegiatannya berhenti saat merasa firasat buruk menerpanya. Dan benar saja margen hampir menusuknya mengunakan pisau yang dia ambi tadi.
"Sebaiknya kamu tidak macam-macam margen!" Liora kembali menodongkan pistol ke arah margen.
__ADS_1
Tangan nya yang satu masih mencari dokumen yang dia cari dan yang satu dia todongkan ke arah margen matanya bergantian mentap laci dan margen.
Tiba-tiba saat dia tidak fokus pistol yang dia pegang di rampas oleh margen.
Margen pun dengan segera mengarahkan nya ke arah Liora.
Namun Liora malah tersenyum sinis dan kembali mencari dokumen yang dia cari.
"Hai! Apa kamu siap mati?" Tanya margen geram karena dia benar-benar di abaikan.
"..." Tidak ada jawaban dari sosok wanita itu. Setelah mencari begitu lama akhirnya Liora menemukan berkas itu. Dia menatap margen.
"Apa! Mau tembak tembak saja!" Liora berkata seakan menantang kepada margen.
"Dasar wanita gila!" Tria margen sambil menarik pelatuk pistol itu.
....
Namun tidak ada apa-apa pistol itu tidak mengeluarkan peluru sama sekali. Margen hanya bisa terheran-heran dengan kejadian ini.
"In..ini...apa ..ya...yang terjadi." Margen berkata dengan terbata-bata.
"Selamat margen kamu kena prank itu cuman pistol mainan." Ucap Liora sambil tersenyum manis dia tadi hampir saja tertawa terbahak-bahak mendengar margen berteriak.
__ADS_1
"Kau!!!mati saja kau!"
Dor!!!