
"Maaf..." Ujar Nara lirih membuat senja makin menjadi-jadi detak jantungnya.
"Maaf kak... umurmu terlalu tua untukku!"
Jedderr....
"Hah?!" Senja hanya bisa melongo mendengar itu.
Bagai tersambar petir membuat jantungnya terasa berhenti beberapa detik.
"Penolakan model apa ini?karena gugup aku jadi bicara ngaco gini sih!" batin Nara sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Anu...aku nggak mungkin bilang kak senja terlalu sempurna untukku karena manusia tidak ada yang sempurna kak..."
Nara masih mencoba merangkum kalimat-kalimat di otaknya sedangkan senja masih menanti Jawaban Nara yang membuat dia sedikit berharap meski sudah pesimis atas keputusan Nara.
"Ataupun bilang aku tidak sempurna untuk kak senja tapi menurutku kita sebagai manusia harus percaya diri dan menganggap diri sendiri sempurna sedangkan kekurangan adalah tugas kita untuk merubahnya menjadi kesempurnaan..." Ucap Nara panjangnya melebihi lebar.
"Jadi anggaplah kita berdua ini terlalu sempurna satu untuk yang lain jadi tidak bisa melengkapi kekurangan masing-masing kak..." Nara melipat satu tangannya di depan perut dan memegang siku tangan yang satu dengan menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Rasa tidak enak kini menyelimuti dirinya bagaimana pun senja adalah penolongnya dan juga orang yang mempertemukan dia dan kakaknya.
Dan juga tidak lupa usaha keras senja menyiapkan kejutan yang tidak membuat terkejut ini untuk mendapatkan hatinya harus berakhir penolakan seperti ini.
"Huff.." Senja menghela nafas lalu menerbitkan senyum yang terkesan terpaksa.
Dia berdiri lalu menatap Nara yang terlihat tidak enak atas penolakan yang tertuju padanya.
Senja mengulurkan tangannya mengusap pipi lembut milik nara membuat sang pemilik reflek menatap kearahnya.
"Hahaha... tidak masalah kamu menolak tapi aku percaya kata pepatah 'jodoh tak akan kemana' jadi kita tunggu saja." Ucap senja yang di dahului tawa yang renyah di telinga Nara.
"Ya udah kak pulang yuk? Kak Ama pasti udah nungguin" senja mengangguk paham dan berjalan bersama Nara pergi dari rumah itu.
Kembali ke keadaan Della dan arraz yang di keroyok para penjahat sehingga harus menuruti untuk ikut pergi bersama mereka dari pada harus babak-belur di pukuli.
Mereka berdua kini duduk di sebuah tempat dengan tangan dan kaki di ikat.
Bukan masalah bagi Della bila dia di ikat karena dia sudah terbiasa dengan itu tapi yang membuatnya merasa gelisah adalah arraz yang telah babak belur di pukuli penjahat tadi.
__ADS_1
"Ar apa terasa sakit?" Della menunjukkan wajah khawatirnya.
Dia berfikir mungkin arraz akan berhenti berteman dengannya karena membawa dia kedalam masalah keluarganya.
"Maaf..." Ujar Della dengan suara tercekat menandakan dia berusaha menahan tangisnya.
Dia sudah berjanji tidak akan membawa teman dan orang terdekatnya kedalam lingkungan bermasalah dalam keluarganya.
"Tidak apa-apa... aku kan pria jadi ini hanya hal kecil" senyum arraz terbit untuk menenangkan Della yang terlihat sangat sedih.
"Jangan bohong...di lihat dari manapun pasti akan terlihat sakit" Della menatap mata arraz yang di pinggir terdapat lebam kebiruan.
"Kenapa kamu nggak percaya? Kan aku masih hidup jadi nggak papa" arraz memalingkan wajahnya sungguh dia terpesona dengan wajah mungil Della yang membuat dia terlihat seperti boneka.
"Kamu pasti udah nggak mau temenan sama aku ya? Pasti gitu kan kalo kamu temenan sama aku dapet masalah kaya gini lagi" Ucap Della sendu sambil menatap ke depan.
"Dulu aku punya temen terus aku sama dia juga di culik seperi ini... setelah kami terlepas dia bilang nggak mau temenan sama orang yang bermasalah seperi aku" Della tersenyum getir saat mengingat itu.
"Tapi aku perlu bersyukur aku memiliki dua sahabat yang bisa di andalkan" Della tersenyum saat mengingat kebersamaan dia dan dua sahabatnya.
__ADS_1
"Tapi..."suara Della berganti lirih