My Love My Twilight

My Love My Twilight
Chapter 56


__ADS_3

Nara menggeliat saat merasa kakinya terasa panas dan saat membuka mata dia melihat kakinya terkena sinar matahari jadi terasa hangat.


Nara beralih menatap sesosok manusia yang tertidur di pangkuannya selama dia tidur tadi dia terlihat tertidur dengan nyenyak bahkan tidak sadar saat separuh tubuhnya telah terkena hangatnya sinar matahari.


Nara memastikan apakah senja benar-benar tertidur atau hanya berpura-pura dengan melambai-lambaikan telapak tangannya di depan wajah senja namun sang pemilik muka tetap tenang terlelap.


"Hufff kakiku terasa keram" gumam Nara sambil menatap lurus ke depan.


Menatap pepohonan yang berada di sisi jalan sambil mengingat-ingat momennya bersama Singgih.


Momen dimana mereka mencuri buah mangga di pinggir jalan saat mereka tengah berkencan dimana mereka berdua harus menahan malu saat semua pengendara jalan lain menatap mereka seperti pencuri tapi memang itulah nyatanya.


Tanpa dia sadari senja menatapnya yang tersenyum-senyum sendiri itu.


"Kenapa kamu senyum-senyum kayak gitu?" Nara tersentak dan langsung menatap ke bawah menatap wajah tampan yang berada di pahanya.


"Kamu nggak perlu tau.." ketus Nara sambil memalingkan mukanya.


"Jelas aku perlu tau kan kita lagi berdua gini kalo kamu senyum-senyum gini kan aku jadi takut" ujar senja sambil mengambil posisi duduk.


"Lagi mikir Singgih..." Ucap Nara tanpa menatap senja.


"Singgih?"


"Hemm pacarku" Nara berbicara sambil memunculkan senyum manis.

__ADS_1


"..."


"Kamu tau dulu saat kami kencan dia dan aku mencuri mangga di jalan...dia memanjat dan aku jadi penadah...rasanya malu banget pas setiap orang lewat liat kita kayak liat maling hahaha...tai iya juga sih kita berdua maling mangga yang nggak tau pemiliknya siapa..." Nara menceritakan dengan senyum yang tidak pernah turun membuat hati senja terasa nyeri.


Senja merasa peluang dia mendapat hatinya Nara makin menipis bagaimana tidak baru saja setengah rencana tapi Nara sudah menyinggung tentang kekasihnya.


Senja sama sekali tidak mendengar perkataan gadis cantik di sebelahnya dia terhanyut oleh lamunannya sendiri merasa frustasi tapi tidak mau bunuh diri karena situasi.


_"Andai bisa...aku santet saja gadis ini."_ batin senja yang merasa pusing karena keinginannya menjadikan Nara kekasihnya sedangkan Nara membanggakan pria yang dia sebut pacar.


".....jadi begitu" ucap Nara setelah menceritakan kelakuannya dengan Singgih panjang × lebar tapi hasilnya malah menjadi negatif satu karena senja tidak mendengarkan sama sekali.


"Hai! Apa tadi kamu tidak mendengarku?" Tanya Nara sambil cemberut.


"Emang tadi aku bicara apa coba?"


"Kamu bicara tentang Singgih pa.car.mu!" Ucap senja sambil seperti mengeja kata pacarmu.


"Ishh" Nara tidak mau ambil pusing kakinya sudah mulai membaik dan dia akhirnya berdiri.


"Kemana?" tanya senja sambil menatap punggung gadis itu.


"Pulang lah" jawab Nara sambil melangkah tertatih-tatih karena kakinya terasa keram karena cukup lama senja tidur di pahanya.


"..."

__ADS_1


Senja hanya diam dan menatap Nara lalu seperkian detik kemudian tiba tubuh Nara terasa melayang ternyata Nara telah di gendong senja.


"Ap..apa yang kamu lakuka?" Tanya Nara karena terkejut.


"Mengendong" senja hanya menjawab seadanya saja dan lekas berjalan pergi dari tempat itu.


"Kemana?" Tanya Nara saat senja berjalan bukan ke arah pulang melainkan ke arah sebaliknya.


"Nanti kamu juga tau."


"Biar aku jalan sendiri aja." Nara meronta minta di turunkan


"Anggap aja ini balas Budi karena tadi aku tidur di pangkuanmu." Senja masih terus berjalan sambil menggendong Nara ala bridal style.


"Jika tadi kamu tidur di pangkuannya ilahi kamu mau balas Budi gimana?" batin Nara sambil cemberut.


"Kak sen...aku jalan aja ya?" Mohon Nara tidak mau merepotkan senja dengan mengendong dirinya seperti ini.


"Nggak!" Senja tetap kekeh ingin mengendong Nara.


"Kalo gitu gendong belakang aja kalo gini nanti tangan kak senja bisa lepas." Lirih Nara sambil mengerucutkan bibirnya.


Senja sama sekali tidak perduli dengan perubahan sikap Nara yang terkadang cuek jadi cerewet ataupun jadi manja ataupun memangilnya dengan sebutan kakak bila ada maunya doang.


Senja menurunkan Nara nam berjongkok membelakangi Nara.

__ADS_1


__ADS_2