
Dari tadi Nara mendengar kisahnya yang pingsan di jalan sampai tiba di villa mewah milik senja yang di ceritakan senja panjang × lebar sampai membuatnya terlelap tidur.
Senja menghela nafasnya merenung akan suaranya yang terbuang sia-sia karena orang yang harusnya mendengar ceritanya malah sudah melayang di dunia mimpi.
"mungkin dia lelah tidur jadi dia istirahat dengan tidur."batin senja yang sedang membaringkan Nara dari posisinya tadi yaitu duduk bersandar.
"gadis ini lebih imut kalo tidur." Gumam senja yang melihat muka Nara dengan jarak yang cukup dekat.
"Lo ngapain sen?" Tanya sesosok pria di samping senja sambil berbisik.
"Liat bidadari secara live." Jawab senja sepontan.
"Eh... astagfirullahhhhhhhhhh." Senja terkejut sambil nggesot mudur saat sadar ada yang bicara padanya
"Santai bro gak usah kaget ini temen Lo yang tampan arraz" arraz memutar bola matanya yang tadi melihat senja sekarang beralih menatap sosok gadis yang tidur dengan damai.
"Oh ya ni gadis siapa? sipenan? istri sirih?apa jangan-jangan Lo sekarang jual beli gadis?"mata arraz melotot curiga.
__ADS_1
"Kita ngomong di luar takutnya dia bangun."ucap senja pergi dari ruangan itu sambil di ikuti arraz.
Senja menjelaskan apa yang terjadi saat dia akan pergi melihat proyek dan berakhir menemukan Nara dan menyuruh EL meminta agar arraz menggantikannya melihat proyek.
Berjam-jam dua sahabat itu berdiskusi tentang masalah proyek dan obrolan itu di akhiri dengan pertanyaan senja yang tidak ingin didengar dua sahabatnya.
"Apakah EL sudah memberi tahumu tentang lexa?" Senja mengepalkan tanganya saat mengigat ucapan lexa di telfon kalo adiknya hamil.
"Ya..dan aku siap kalo harus menjadi ayah sambung dari anak yang dia kandung." Ucap arraz yang menuduk kan kepalanya menahan sesak di dada karena wanita yang dia cintai di hamili lelaki lain.
Tak kalah terkejut dengan arraz EL pun merasa terkejut mendengar kabar itu namun sebisa mungkin dia bersikap merelakan karena ucapan lexa pada saat itu sebelum dia memutuskan menyerah memperjuangkan.
"Tak seharusnya seperti ini Ar." Senja mencoba mengendalikan emosinya yang menggebu.
"Biarkan lexa mendapat ganjaran dari apa yang dia buat,ini salahnya karena pergaulan bebas." Senja mengeratkan rahangnya saat mengigat apa yang lexa adiknya lakukan selama ini diam-diam.
"Aku yakin di luar sana ada lexa-lexa yang lebih baik dari lexa adikku, carilah wanita yang dapat menerima cintamu dengan tulus ar lupakan adiku...dia akan menikah dengan Carens dua Minggu lagi." Sejak awal senja tidak menyukai Carens karena mukanya yang terlihat anak tengil di mata orang yang baru mengenalnya.
__ADS_1
"Aku sudah mencintai lexa selama 5 tahun sen! tidak mudah melupakan orang yang melekat di hati bertahun-tahun." Senja yang mendengar jawaban arraz hanya bisa menghela nafas.
"dasar bucin." batin senja lalu berdiri pergi mending melihat muka manis gadis yang di kamarnya dari pada melihat muka masam temannya.
"Hai kau mau kemana! Setidaknya hiburlah temanmu!" Arraz hanya bisa melihat punggung senja yang berlalu pergi.
"dasar lelaki! lelaki emang tidak peka!" batin arraz yang lupa dia berjenis apa.
Senja membuka pintu kamarnya menatap gadis yang tidur nyenyak di kamarnya. Rasa marah yang tadi menyelimuti hatinya berganti dengan rasa hangat yang membuat guratan senyum di raut wajahnya.
"Dasar sumur senyumku! Melihatmu membuatku seperti menimba senyumku." Gumam senja sambil ikut tidur di samping Nara dan sesekali mengusap pipi lembut Nara.
Nara yang terlelap sama sekali tidak merasa usapan di pipinya.
Hari mulai malam senja dan Nara yang dari tadi sore terlelap kini mulai terbangun. Nara yang merasa nyaman dengan keadaan di dekap itu pun enggan membuka matanya. Tapi secepat kilat Nara membuka matanya melihat tangan kekar yang melingkar di pertnya dan kaki besar menindih kakinya.
"Akkkkkhhhhhh..." Teriak Nara menggelegar di seluruh ruangan. Senja yang merasa terusik dari tidurnya pun membuka mata. Alangkah tak kalah terkejut senja yang niatnya ingin mengelus pipi imut Nara malah kebablasan tidur.
__ADS_1