
Ziyu melotot saat mendengar abal-abal asistennya di sebut dia tidak bisa protes karena langsung ditatap tajam oleh senja.
"Sampai aku membuat dia lecet Mungkin aku akan di buat babak belur Nara!" Ketus senja menatap malas zero.
"Bagus! Pacar galakmu bisa menjaga kakaknya dari kamu pasti." Zero tersenyum meremehkan.
"Ck. Pacar. Setahuku lagi PD_ aww" Ziyu tidak meneruskan kata-katanya saat kakinya yang terasa cenat-cenut di injak senja.
"Diam kamu! Mending kamu halu aja." Ucap senja agak berbisik.
"Dasar kolot! Pasti nggak pernah merasa muda jadi nggak pernah merasa kenikmatan menghalu!" Gumam Ziyu tapi masih di dengar senja.
"Dari pada menghalu yang nggak mungkin terjadi lebih baik mencari yang di depan mata saja. kamu ingat mukamu itu seperti kentang! bahkan kentang lebih terlihat tampan dari kamu ." Ketus senja dengan suara rendah.
Zero hanya menatap dua manusia di depannya yang tampak asik berbisik zero hanya menatap mereka datar jika bukan demi Amanda pasti dia sudah mendepak senja dan gerombolannya pergi.
"Kalian sampai subuh kalian seperti ini?" Zero menatap dua orang yang kini menatapnya.
__ADS_1
"Sekarang serahkan Amanda pada kami" senja juga enggan berlama-lama di sana.
"Bik panggil Amanda kesini." Pembantu zero bergegas ke kamar Amanda menyampaikan perintah tuanya.
Tak berselang lama Amanda turun dari tangga menuju ruang tamu dahinya menyerengit saat menatap pria yang seumuran dengannya duduk di sebrang zero.
"Sini sayang" Zero sengaja memanggilnya sayang karena dia tau senja yang dulu patner bisnisnya itu sedang PDKT dengan adik Amanda.
Kesempatan emas zero untuk balas dendam karena saat berbisnis dengan senja dia merasa di permainkan oleh senja tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena perusahaan miliknya tidak sebesar milik senja.
"Sayang! sayang! Apasih! Biasanya aja pa_" Amanda berhenti bicara saat dirinya mendapat tatapan tajam dari zero. Dia memutuskan menutup mulut dari pada terus bicara yang ada zero melakukan yang iya iya.
"Tuan sepertinya nona Amanda tertarik pada Anda." Bisik Ziyu pada senja.
"Tentu saja aku kan tampan." Senja menyombongkan dirinya sendiri Ziyu hanya bisa menatap jengkel ke arah senja.
"Hei! Berhenti menatap manusia itu." Ucap zero yang sudah tidak tahan dengan rasa cemburunya.
__ADS_1
"Ah tidak aku bukan menatap dia tapi menatap kursi di belakangnya bukankah itu ulat bulu?" Amanda mengutarakan apa yang membuatnya menatap senja.
"Apa?! " Pekik senja dia berbalik dan mendapati seekor ulat bulu yang hampir melangkahkan kaki kecilnya ke baju mahal senja.
Ziyu menangkap ulat bulu yang sekarang berada di sofa. Ziyu memang sudah kebal dengan ulat bulu bahkan saat kecil Ziyu mencabuti bulu ulat sampai gundul.
"Saya permisi tuan mau kembalikan ulat bulunya mungkin saat kita sembunyi di semak di menempel di baju tuan." Ziyu segera membawa ulat itu pergi senja hanya menatap asistennya dengan tatapan horor.
"Waow dia sangat keren." Ucap Amanda sukses membuat zero kembali di Landa kecemburuan.
"sepertinya aku harus fikir ulang kalo harus menyerahkan dia pada seorang lelaki. Bisa gawat kalo kepincut dengan laki-laki lain." batin zero sambil menatap punggung Ziyu yang mulai menghilang.
"Jadi ada apa kenapa kamu memanggilku?" Amanda mengakhiri kesunyian yang sempat melanda mereka bertiga.
"Benarkah? Tuan terima kasih telah menolong adikku saat saya dan adik saya kembali kami akan membalas Budi anda." Amanda beranjak dari duduknya untuk berterimakasih pada senja tapi dirinya langsung di lirik tajam oleh zero meski dia tidak menatap zero tapi terdapat hawa dingin menusuk tubunya dari arah zero.
"Apakah Nara Baik-baik saja?" Amanda tampak khawatir dengan adiknya.
__ADS_1
"Dia baik-baik saja dia mungkin saat ini sedang tidur." Jawab singkat senja.
"Syukur lah." Zero dapat melihat raut wajah Amanda yang tadinya terlihat khawatir berubah jadi merasa lega.