My Love My Twilight

My Love My Twilight
Chapter 46 + DELme


__ADS_3

"Ya sudah kalian sebaiknya kembali berkerja biar aku urus kartu ini." Ucap arraz sambil mengambil kartu itu seperti harta Karun.


"Oh astaga ini kartu memang nggak berat tapi isinya yang memberatkan." Gumam senja Lulu berlalu ke ruangan kerjanya di kantor cafe.


Cafe arraz memang memiliki sebuah peraturan dimana jam 5 pagi para pegawai harus sudah tiba di cafe untuk bersih-bersih cafe ataupun membuat kue yang harus tersedia sebelum cafe buka.


Meski kue yang di buat di cafe itu bisa bertahan hingga 3 hari tapi arraz memerintahkan sebelum menutup cafe pegawainya memiliki kewajiban untuk membagikan kue yang tersisa kepada pengamen maupun pemulung agar mereka juga bisa makan yang layak.


Cafe ini adalah cafe pertama bagi arraz saat memulai berkarir dulu. Dulunya dia adalah seorang guru matematika magang di sebuah sekolah dasar tetapi pada suatu hari dia kehilangan pekerjaannya karena ulah murit nakalnya yang mengadu kepada ibunya kalo dia memarahinya karena tidak mengerjakan tugas.


Tentu saja dengan kekuatan uang mampu membuat apa pun menjadi mungkin termasuk membuatnya berhenti menjadi guru sebuah impian yang dia cita-citakan dari dulu harus pupus karena sabetan uang dari orang tua murit untuk kepala sekolah.


Karena dia sedang dalam masalah dengan keluarganya dia tidak bisa kembali ke rumah hingga dia pun rela tidur di jalanan waktu itu dia seperti orang yang tidak memiliki tujuan hidup tetapi itu semua berubah saat bertemu Clara Lexa Viviana Wiranjaya yang memberikan dia secuil roti yang bermakna baginya yang tengah merasa kelaparan.

__ADS_1


Tentu saja bukan secuil roti yang merubah nasibnya melainkan sebuah bantuan dana dari senja untuk dia membuat sebuah usaha. Awalnya dia hanya membuat sebuah usaha ketering rumahan dengan bantuan lexa untuk membuat kue memang pada awalnya tidak ada yang berminat tapi arraz tidak menyerah karena di beri semangat oleh lexa hingga akhirnya dia bisa membangun banyak cafe di mana-mana.


Tentu dia juga tidak lupa dengan bantuan senja dia ingin mengembalikan uangnya tapi di tolak hingga arraz menawarkan diri untuk menjadi sopir pribadi untuk balas Budi juga hitung-hitung untuk melihat lexa terus~


Tapi dia selalu menyimpan rasanya sendiri terhadap lexa hingga lexa di clomot laki-laki lain dan itu sebuah penyesalan amat dalam untuk arraz karena menjadi pria pengecut dan tidak bisa melindungi gadis yang dia cintai.


Namun sekarang arraz harus move on toh lexa juga sudah bahagia dengan calon suaminya. Lagipula dia sudah mengungkapkan isi hatinya meski terlambat tapi itu sudah menjadi kelegaan untuknya agar bisa menjalani hidup yang baru.


Arraz kini sedang menelepon anak buahnya untuk melacak keberadaan pemilik kartu berharga itu agar dia bisa mengembalikan kartu itu. setelah beberapa menit arraz menutup telepon dan kini menatap kartu hitam yang isinya emas itu dengan intens.


"Nanti kalo dia jatuh miskin karena kartu hitamnya di tinggal di cafe bagaimana nasibnya." Seru arraz sambil membolak-balik kartu itu.


"Tapi mana mungkin dia akan jadi miskin. Dia saja dengan entengnya meninggalkan kartu ini di cafe milik orang lain pasti di dompetnya masih ada kartu-kartu yang lain." Kini arraz makin gelisah bila menghadapi hal-hal seperti ini.

__ADS_1


Dia sama sekali tidak suka bila barang milik orang lain terlalu lama di dekatnya dia merasa ada tanggung jawab yang harus dia pikul yaitu menjaga agar tidak rusak.


Kring...Kring...kring...


Suara telfon milik cafe yang tersambung dengan meja kasir berbunyi menandakan ada yang terjadi di meja itu. Arraz mengangkat telfon itu segera takut ada pelanggan yang ingin komplain.


"Hallo ada apa." Tanya arraz cuek.


"Hallo tuan di kasir ada nona yang meninggalkan kartunya dia meminta kartunya kembali."ucap pegawai kasir itu.


"Oh baiklah. Bilang padanya saya akan keluar membawa kartu miliknya." Arraz mematikan telfon sepihak dan mengambil kartu itu untuk di serahkan kepada sang pemiliknya.


"Dimana?" Tanya arraz setelah tiba di meja kasir.

__ADS_1


"Di bangku nomor 7 tuan." Ucap pegawai itu sambil menunjuk.


__ADS_2