My Love My Twilight

My Love My Twilight
Chapter 39


__ADS_3

"Itu mustahil dia hanya merasa bersalah saja." Nara bangkit dari duduknya berjalan ke pintu.


"Nona mau kemana?" Tanya Maradona.


"Katanya aku di suruh menemui dia!?" Nara menggaruk rambutnya yang tidak gatal merasa heran dengan Maradona bukankah dia yang menyampaikan pesan dan kenapa malah bertanya lagi.


"Saya pikir nona enggan menemui tuan." Maradona melangkah mengikuti nonanya.


"Tapi aku kan manusia biasa yang memiliki rasa kepo." Nara menggantung ucapanya lalu beberapa menit kemudian menampilkan muka berbinar.


"Siapa tau dia memberiku sebongkah tambang emas dan permata." Ucap Nara sambil terkekeh kecil.


Maradona hanya bisa ikut tertawa entah mengapa saat Nara bahagia dia merasa ikut bahagia Nara gadis yang periang baik dan penurut membuat banyak orang menyukainya.


"Hai kak senja udah pulang dari kegiatan tengelam di samudera di belahan bumi lain?" Tanya Nara sambil menuruni tangga tak lupa sambil tersenyum hangat dia ingat tak mungkin dia cemberut di rumah orang lain bisa-bisa dia di tendang dari rumah ini.


"..." Tidak ada jawaban dari senja mulutnya hanya menganga menatap keimutan anak kecil ah bukan gadis di depannya itu.


"Aduh mingkem kak nanti lalatnya berzina di mulut kakak." Tegur Nara sambil berdiri menatap senja yang masih bengong matapnya.


"Emh...eh..apa?" Senja baru tersadar dari dunia bengongnya.


"Oh ada cowok ganteng di depan Nara." Ucap Nara santai.

__ADS_1


"Siapa! Berani Sekali masuk villa ini!" Seketika senja marah siapa yang berani menginjakkan kaki di villanya dan menggoda naranya eh calon naranya.


"Bwahahaha... " Nara tertawa saat melihat ekspresi senja yang marah.


"Kenapa tertawa? Dia telah meracuni otakmu pasti!" Senja makin bersungut-sungut memarahi orang yang menggoda Nara.


"Kakak tidak sadar siapa itu?" Tanya Nara berusaha menghentikan tawanya.


"Siapa!"


"Kakak." Ucap Nara sambil terkekeh.


"Kakak cowok yang di depan Nara." Nara nyengir kepada senja memamerkan deretan gigi rapinya.


"Santai kak..." ucap Nara sambil ikut duduk di sofa.


"Kok Sofanya aneh?" Gumam Nara


"Heh kamu ngapain" tegur senja pada nara. Nara langsung kembali berdiri.


"Mau duduk tapi Sofanya kayaknya berevolusi deh kak." Nara membalikan tubuhnya menatap sofa yang menurutnya berevolusi.


"Astaga!!!" Nara terkejut saat menyadari Sofanya tidak berevolusi melainkan ada orangnya.

__ADS_1


"Ka...kakak!" Ucap Nara terbata-bata saking kagetnya


"Kau tidak rindu padaku adikku yang bodoh?" Amanda menahan tawanya saat melihat wajah cemberut Nara sudah berminggu-minggu dia tidak melihat ekspresi itu.


"Kakak...hiks...hiks..." Nara menghambur ke pelukan kakaknya menumpahkan rasa haru dan rindu yang dia pendam selama ini


"Ara merindukan kakak sangat merindukan kakak." Ucap Nara di sela-sela tangisannya.


"Aku tau adik kakak ini sangat sayang pada kakaknya makanya pasti rindukan?" Amanda mengusap punggung Nara memberi rasa nyaman dan tenang pada adiknya.


"Kakak ada yang luka?" Nara menelisik seluruh inci tubuh kakaknya dia sama sekali tidak menemukan sedikit pun luka malah terlihat sangat terawat kulit tubuh kakaknya.


"Apa pria itu memaksa dan menyakiti kakak?" Nara menatap sendu Amanda dia sama sekali tidak bisa melindunginya.


"Ya tidak apa-apa dia lelaki yang cukup baik." Amanda tersenyum malu mengigat beberapa Minggu bersama zero atau Oshi nya.


"Baik apanya! Kalo dia baik dia nggak bakal meper_" segera Amanda membungkam mulut Nara yang main nyerocos saja.


"Dia lelaki baik dan lelaki lembut" ucap Amanda menyakinkan adiknya.


"Otak kakak pasti sudah di beri pupuk jadi sesubur ini membela dia! Dasar lelaki brengsek!" Ketus Nara dia tidak pernah melihat kakaknya membela orang yang tidak di kenal.


Hal ini sudah menjadi hal lumrah di keluarga Nara dan Amanda dimana bila bertemu orang asing mereka akan menjaga jarak sampai pada akhirnya menyimpulkan bahwa dia benar-benar orang baik tanpa ada maksud terselubung.

__ADS_1


"Lalu dia pria macam apa yang menyembunyikan kamu di villanya?" Bisik Amanda pada Nara sambil melihat senja yang duduk anteng memperhatikan Nara dari tadi.


__ADS_2