
Dipukul?disiksa?dimaki? Ah rasanya Della sudah terbiasa memang dia tampak seperti anak manja yang bergantung pada uang orang tuanya tapi nyatanya berbanding terbalik dengan keadaannya.
Semua hanyalah fantasi semata demi menutupi sebuah rahasia keluarga yang menjadikan dia sebagai kambing hitam.Bahkan dia telah menipu dua sahabatnya bertahun-tahun mengikuti aliran cerita yang dibuat oleh orang tuanya yang menjadikan dia sebagai tokohnya.
"Kamu bisa terluka dell sekarang cepatlah pergi!" Ucap arraz sambil berjalan sempoyongan menuju Della untuk menghajar penjahat.
Naas arraz malah menerima kembali bogem mentah dari penjahat itu membuat dia tersungkur ke aspal. Dengan reflek Della berlari ke arah arraz dan memangku kepala milik arraz ke paha miliknya.
"Arraz! Jangan mati di sini! Kita baru kenal masak kamu mau mati di depanku!"ucap Della sambil memegang pipi arraz yang berdarah.
"Enak aja...aku masih...mau...hidup lama kok..."ucap arraz sambil tersengal-sengal menahan sakit di sekujur tubuhnya.
"Hai kalian!jangan banyak bacot! Jangan sok drama kalian" bentak salah satu penjahat tadi.
"Diam kalian! Dasar jahat! brengsek!" Umpat Della pada penjahat itu.
__ADS_1
"Wanita busuk ini! Jangan sok suci dan lugu kamu!ingat semua perbuatan yang kamu lakukan di masa lalu! Kami mengejar itu karena ulahmu sendiri!" Ucap penjahat itu arraz hanya bisa menyerengit heran atas perkataan penjahat itu.
Della hanya menanggapi dengan cuek sudah terbiasa di perlakukan seperti itu memang selama ini dia selalu menjadi buronan dari penjahat-penjahat bahkan merusak cafe arraz karena alasan yang sama.
"Sekarang kalian tangkap mereka bawa ke tempat yang di tunjuk bos." Perintah orang yang dari tadi terus bicara pada mereka mungkin dia adalah asisten atau pengawal dari orang yang dia sebut bos.
"Baik" semua anak buah kompak menjawab dan membawa arraz dan Della naik mobil yang menuju tempat yang telah di pilih bos mereka.
Meninggalkan nasib Arras dan Della yang terculik sekarang kita berada pada kisah dua pemuda pemudi yang saling cuek hingga menimbulkan tanda tanya bagia siapa saja yang melihat.
Apalagi penampilan Nara yang menggunakan syal padahal cuacanya tidak dingin?. Apa lagi senja Amanda merasa aneh ia merasa makan di meja tidak pedas tapi kenapa senja banyak berkeringat? Kenapa lagi mereka curi-curi pandang segala? Kenapa saling diam? Bukankah tadi malam masih biasa-biasa saja? Setan apa yang merasuki mereka? Itulah hal-hal yang terlintas di otak minimalis Amanda.
"Ehem." Amanda berdahem agar suasana tidak terlalu sepi seperti kuburan.
"..." Senja dan Nara sama sekali tidak merespon apapun mereka hanya fokus makan saja eh apa iya hanya fokus makan?
__ADS_1
"Hemm jadi kita bisa kamu pulangkan kapan sen?" Tanya Amanda memutus rantai kesunyian dan situasi saling lirik dua pasang mata di meja makan itu.
"Itu tergantung keadaan kalian. Saya nggak mungkin bawa kalian kalo belum sembuh total takutnya om atau Tante malah ngira saya apa-apa in kalian." Ujar senja tanpa dosa seperti lupa kejadian beberapa jam yang lalu.
Nara yang mendengar ucapan senja yang seolah-olah orang baik tanpa masalah hanya tertawa terbahak-bahak dalam hati merutuki akting senja yang luar biahsahhh.
"Pantes tuh jadi aktor." Sindir Nara tanpa menatap manik mata senja yang kini telah terlihat panik takut Nara cerita ke kakaknya nanti bisa-bisa dia kehilangan satu pendukung hubungan Dia dan Nara.
"Siapa?" Amanda hanya menyerengit heran atas ucapan adiknya.
"Siapa lagi kalo buka_"
"Rangga Azof" sela senja sebelum Nara bicara yang tidak dan iya intinya antara perkataan benar dan di manipulasi.
"Rangga Azof?" Amanda makin bingung dari perkataan dua manusia yang dia curigai telah terkena guna-guna itu.
__ADS_1
"Iya maksud Nara tadi rangga Azof aktor yang gondrong itu dia pinter banget aktingnya." Elak semua yang mendapat tatapan sinis Nara.