My Love My Twilight

My Love My Twilight
Chapter 29


__ADS_3

"Arghhhhhh" Teriak senja frustasi setiap pertanyaannya selalu di jawab dengan enteng dengan Nara. Nara yang melihat ke frustasian senja hanya bisa menahan tawa dia sudah puas mengerjai pria yang sepertinya memiliki tempat di hatinya untuk nama Nara tinggali.


"Sudahlah pergilah setelah kau menyelesaikan pekerjaanmu kau bisa kembali." Ucap Nara berusaha ketus kepada senja.


"Aku takut merindukan mu.." celetuk senja lirih namun masih bisa di dengar Nara. Sepontan pipi nama merona jantungnya pun berpacu cepat.


"Aku tidak akan merindukanmu kita ini orang asing." Nara masih saja mepertahankan ucapan ketusnya kepda senja.


"Kita sudah bersama selama 4 hari. aku pun sudah mengenali beberapa sifat yang kamu miliki.


"Janan sok tau." Nara meninggikan suaranya.


"Aku tidak sok tau." Senja menarik nafasnya dalam dia melakukan ancang-ancang untuk mengeluarkan kata-kata.


"Saat kamu tertidur kamu kentut sembarangan.mengupil diam-diam saat aku berkerja.saat kamu tertidur kamu ngiler. lagi saat kamu kelelahan kamu bakalan gorok.dan tak kalah penting saat kamu baper dengan guyonan ku kau tertawa-tawa di dunia tidurmu bahkan kamu menangisi idol yang menjadi idolamu saat tidur." Ucap senja padat rinci dan jelas dia mengungkapkan itu seperti sedang bernyanyi Rap sangatlah cepat.


Nara hanya bisa bengong dengan aibnya yang di ketahui senja. Namun Nara masih sempat bersyukur karena senja tidak tau kalo dia terkadang lupa menyiram kamar mandi saat pipis.


"Tuan. Sepertinya kamu pantas menjadi penyanyi rock atau rep." Nara merasa kagum dengan kemampuan tersembunyi atau lebih tepatnya kemampuan yang tercipta tanpa sengaja yang di miliki senja.


"Bukankah aku telah membuktikan aku sudah mengenalmu." Senja meraih tangan Nara sambil memasang wajah memelas.

__ADS_1


"Yang kamu tau hanya aib-aibku! Kalo kamu malas berkerja ya bilang saja kamu malas jangan sangkut pautkan aku dengan kamu."


"Apa sih susahnya bilang 'senja tolong jangan pergi...' gampang loh." Senja menirukan suara gadis yang tengah memohon.


"Hai aku lelah aku mau tidur.sebaiknya kamu tidur di sofa atau pulang ke vila mu bukankah besok kamu pergi." Nara menutup matanya namun tetap menjawab dan bertanya pada senja.


"Aku akan tidur di sofa... aku besok akan pergi ke kota sebarang... jagalah dirimu baik-baik lusa aku akan pergi... Jangan merindukanku..." Senja berjalan ke sofa sambil bicara dia berbicara seolah-olah dia akan pergi sangatlah jauh.


"Kita liat siapa yang akan merindukan." Ketus Nara sebelum terlelap pada tidurnya.


Senja tidur di sofa ruangan rawat Nara. Dia tidur dengan menatap wajah damai Nara dari samping dan tak lupa dengan jarak yang cukup jauh karena ruangan itu memang besar.


Tak lama kemudian senja menyusul Nara pergi ke belaian nirwana mimpi. Mereka terlelap di ruangan yang sama kembali namun tetap seperti sebelumnya tidur dengan jarak jauh.


Ke esokan harinya...


Seorang gadis baru saja membuka matanya dia melihat ke arah sofa mencari seseorang yang tadi malam tidur di sana.


"Apa dia sudah berangkat?" Ucap Nara pelan saat Nara memalingkan pandangan bersamaan seorang gadis masuk ke ruang rawatnya.


"Hallo nona" sapa gadis itu pada Nara.

__ADS_1


"Hallo Kamu siapa?" Tanya Nara keheranan.


"Saya Sekar nona saya akan berada di sini merawat nona saat tuan senja pergi."


"Oh." "jadi dia sudah pergi..." Nara hanya menjawab Sekar dengar berkata oh dan membatin dalam hati.


"Apa ada yang bisa saya batu nona?" Tanya Sekar kepada Nara.


"Emm...bisakah kamu mengupas apel untukku?" Tanya Nara.


"Tentu saya bisa." Ucap Sekar dengan senyum mengembang.


"kulitnya seperti di rawat dengan baik dan dia sangat sopan dan anggun aku rasa dia bukan seorang pembantu atau pelayan biasa." Nara menerka dalam benaknya sambil menatap Sekar yang mengupas lalu memotong apel kecil-kecil.


"kenapa nona menatapku seperti itu apa dia curiga padaku?"Sekar bertanya-tanya dalam renungan hatinya.


"Ini apelnya nona" Sekar memberikan apel yang dia kupas lalu potong kepada Nara.


"Ya terima kasih" Nara menerima apelnya lalu mengembangkan senyumnya pada Sekar dan di balas senyum oleh Sekar.


Canggung. Itulah yang terjadi di ruang rawat inap itu. Sekar yang merasa rendah derajatnya merasa enggan mengajak Nara bicara. Sedangkan Nara dia kalo bertemu orang asing juga takut untuk mengajak bicara.

__ADS_1


__ADS_2